
DOYANDUIT – Menu susulan TKA 2026 mulai muncul di dashboard sistem dan cukup membuat banyak operator sekolah bertanya-tanya. Berdasarkan pengalaman lapangan dan penjelasan teknis terbaru, siswa yang masuk ke dalam daftar susulan bukan karena nilai rendah, melainkan karena proses pengerjaan yang tidak tuntas.
Ini penting dipahami sejak awal agar tidak terjadi kesalahpahaman, baik di kalangan guru, kepala sekolah, maupun siswa itu sendiri.
Dalam praktiknya, banyak kasus di mana siswa merasa sudah menyelesaikan ujian, tetapi sistem mencatat sebaliknya. Hal ini biasanya berkaitan dengan teknis pengerjaan, bukan kemampuan akademik.
Faktor Utama Penyebab Siswa Masuk Susulan
Berikut beberapa penyebab paling umum yang ditemukan di lapangan:
1. Tidak Mengikuti TKA Sama Sekali
Siswa yang tidak hadir saat pelaksanaan TKA otomatis akan masuk ke daftar susulan.
Beberapa alasan umum:
- Sakit atau izin resmi
- Kendala teknis atau perangkat
- Ketidakhadiran tanpa keterangan
Dalam sistem, ketidakhadiran ini langsung terdeteksi sebagai “belum mengikuti”.
2. Tidak Menyelesaikan Seluruh Soal
Kasus ini cukup sering terjadi.
Siswa mungkin:
- Sudah menekan tombol “selesai”
- Tetapi masih ada soal yang belum dikerjakan
Akibatnya, sistem tetap menganggap ujian belum tuntas.
Siswa mengklik selesai di komputer, tetapi ternyata masih ada soal yang belum dijawab menjadi salah satu temuan penting di lapangan.
3. Jumlah Soal yang Dikerjakan Kurang dari Standar
Sistem TKA menetapkan batas minimal pengerjaan.
Jika siswa:
- Menjawab kurang dari 24 soal
- Atau tidak mencapai 80% pengerjaan
Maka otomatis masuk kategori susulan.
Ini sering terjadi karena:
- Waktu habis
- Siswa terburu-buru
- Kurang memahami sistem ujian
Kesimpulan Penting yang Sering Disalahpahami
Perlu ditegaskan:
- Susulan TKA bukan karena nilai jelek
- Susulan terjadi karena pengerjaan tidak lengkap
Ini poin krusial yang wajib disampaikan kepada semua pihak agar tidak terjadi stigma negatif terhadap siswa.
Langkah yang Harus Dilakukan Operator Sekolah
Setelah mengetahui penyebabnya, operator sekolah memiliki peran penting untuk memastikan proses susulan berjalan dengan baik.
1. Cek Data Susulan Secara Berkala
Menu susulan bisa muncul sewaktu-waktu.
Disarankan:
- Cek dashboard setiap hari
- Pantau hingga batas waktu yang ditentukan
Langkah ini penting karena:
- Data bisa bertambah
- Sistem masih diperbarui
2. Konfirmasi ke Kepala Sekolah dan Siswa
Setelah menemukan siswa yang masuk susulan:
- Laporkan ke kepala sekolah
- Jelaskan penyebabnya dengan jelas
- Informasikan ke siswa yang bersangkutan
Gunakan penjelasan yang menenangkan, misalnya:
- “Ini bukan karena nilai, tapi karena soal belum selesai”
Pendekatan ini penting agar siswa tidak panik atau merasa gagal.
3. Aktifkan Status Susulan di Sistem
Operator perlu melakukan langkah teknis:
- Pilih siswa yang masuk susulan
- Klik opsi “susulan”
- Simpan perubahan
Langkah ini wajib dilakukan agar siswa bisa mengikuti sesi berikutnya.
4. Pantau Informasi Lanjutan di Dashboard
Informasi seperti:
- Jadwal susulan
- Pengawas
- Sesi ujian
Biasanya akan diperbarui di dashboard.
Karena itu:
- Jangan berhenti di satu kali pengecekan
- Pastikan selalu update informasi terbaru
Agar Tidak Terjadi Susulan
Berdasarkan pengalaman banyak operator sekolah, ada beberapa langkah preventif yang bisa dilakukan:
- Pastikan siswa memahami cara mengakhiri ujian dengan benar
- Ingatkan untuk mengecek semua soal sebelum klik “selesai”
- Berikan simulasi sebelum pelaksanaan TKA
- Awasi waktu pengerjaan dengan ketat
Langkah sederhana ini bisa mengurangi risiko susulan secara signifikan.
Kenapa Ini Terjadi?
Menurut pengamatan di berbagai sekolah pada tahun 2026, fenomena susulan cukup wajar terjadi, terutama pada siswa yang:
- Belum terbiasa dengan sistem ujian berbasis komputer
- Kurang fokus saat ujian berlangsung
- Terpengaruh tekanan waktu
Dalam beberapa kasus, siswa bahkan mengira semua soal sudah selesai, padahal masih ada yang terlewat. Ini menunjukkan pentingnya literasi digital dalam pelaksanaan asesmen modern.
Pahami Sistem, Bukan Sekadar Hasil
Menu susulan TKA 2026 bukanlah indikator kegagalan siswa, melainkan sinyal bahwa ada proses yang belum tuntas.
Operator sekolah, guru, dan pihak manajemen perlu memahami ini secara utuh agar bisa mengambil langkah yang tepat.
Dengan koordinasi yang baik dan pemahaman sistem yang benar, proses susulan justru bisa menjadi solusi, bukan masalah.