
DOYANDUIT – Pasar saham Indonesia menutup pekan pertama Juli 2026 dengan cerita yang cukup menarik. Di satu sisi, investor asing masih melakukan aksi jual besar-besaran pada sejumlah saham unggulan, terutama sektor perbankan.
Namun di sisi lain, beberapa emiten justru mencatat lonjakan harga yang sangat tinggi dan menjadi pusat perhatian pelaku pasar.
Data perdagangan pada Jumat, 3 Juli 2026 menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.875,78 atau naik 2,28% dibanding penutupan sebelumnya.
Sepanjang hari, indeks bergerak dalam rentang 5.805 hingga 5.899.
Investor Asing Masih Melakukan Aksi Jual
Tekanan terbesar masih datang dari arus dana asing yang terus keluar dari pasar saham domestik.
Sepanjang pekan terakhir, nilai jual bersih atau net sell investor asing tercatat mencapai sekitar Rp2,95 triliun. Jika dihitung sejak awal tahun 2026, total net sell telah menembus sekitar Rp74 triliun.
Berdasarkan aktivitas perdagangan, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi target utama pelepasan.
Beberapa emiten yang paling banyak mengalami tekanan jual antara lain:
- BBRI (Bank Rakyat Indonesia)
- BBCA (Bank Central Asia)
- BMRI (Bank Mandiri)
Tidak hanya sektor perbankan, investor asing juga mengurangi kepemilikan pada sejumlah saham unggulan lain seperti Astra International dan Telkom Indonesia.
Berdasarkan pengalaman sejumlah pelaku pasar, kondisi seperti ini biasanya membuat investor ritel lebih berhati-hati karena likuiditas pasar cenderung menurun.
Dampak ke Aktivitas Perdagangan
Meski IHSG masih mampu menguat, aktivitas transaksi menunjukkan perlambatan. Tercatat rata-rata nilai transaksi harian mengalami penurunan sekitar 36% dibandingkan pekan sebelumnya.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia juga turun tipis menjadi sekitar Rp10.287 triliun.
Berikut ringkasan kondisi pasar selama pekan berjalan:
| Indikator | Kondisi |
|---|---|
| IHSG | 5.875,78 |
| Perubahan IHSG | +2,28% |
| Net Sell Asing Pekan Ini | Rp2,95 triliun |
| Total Net Sell 2026 | Rp74 triliun |
| Kapitalisasi Pasar | Rp10.287 triliun |
| Nilai Transaksi Harian | Turun 36% |
Daftar Saham Top Gainers Pekan Ini
Menariknya, tekanan jual asing tidak membuat seluruh pasar bergerak negatif. Sejumlah saham justru mencatat kenaikan yang sangat agresif dalam waktu singkat.
Dalam beberapa kasus, saham berkapitalisasi kecil hingga menengah sering menjadi tujuan perputaran dana saat saham-saham besar mengalami tekanan.
1. PT Trus Finance Indonesia Tbk (TRUS)
Saham TRUS menjadi pemimpin daftar top gainers pekan ini setelah melesat sekitar 71,43%.
Kenaikan tersebut menjadikannya salah satu emiten dengan performa paling menonjol di Bursa Efek Indonesia selama periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026.
2. PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO)
Di posisi berikutnya terdapat saham COCO yang melonjak sekitar 70,59%.
Kenaikan hampir menyentuh 71% dalam satu pekan tentu menjadi perhatian banyak trader jangka pendek.
3. PT Sunter Lakeside Hotel Tbk (kode emiten terkait data pasar)
Emiten ini mencatat penguatan sekitar 55,73% dan masuk dalam kelompok saham dengan kenaikan terbesar selama sepekan.
Saham Lain yang Juga Menguat
Selain tiga emiten tersebut, sejumlah saham lain juga mencatat performa impresif, antara lain:
- ASPI
- RMKO
- PADI
- HOPE
- AYLS
- CSMI
Pergerakan saham-saham tersebut menunjukkan bahwa peluang keuntungan masih tersedia meskipun kondisi pasar secara keseluruhan belum sepenuhnya stabil.
Mengapa Saham Bisa Naik Saat Asing Net Sell?
Pertanyaan ini cukup sering muncul, terutama dari investor pemula.
Faktanya, pergerakan pasar tidak hanya ditentukan oleh dana asing. Investor domestik, sentimen sektoral, aksi korporasi, hingga spekulasi jangka pendek juga dapat mendorong kenaikan harga saham tertentu.
Sejumlah pengguna pasar bahkan mengaku lebih fokus mencari peluang pada saham yang memiliki momentum kuat dibanding mengikuti arah pergerakan indeks secara keseluruhan.
Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan risiko volatilitas yang biasanya meningkat ketika likuiditas pasar sedang menurun.
IHSG berhasil ditutup menguat ke level 5.875,78 pada pekan perdagangan 29 Juni hingga 3 Juli 2026. Namun di balik penguatan tersebut, investor asing masih mencatat aksi jual besar dengan total net sell sekitar Rp74 triliun sejak awal tahun.
Menariknya, beberapa saham justru mampu mencuri perhatian dengan kenaikan lebih dari 50% bahkan hingga 70% dalam sepekan. Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang tetap ada di pasar, meski arus dana asing masih keluar dari saham-saham unggulan.
Bagi investor yang aktif memantau pergerakan bursa, situasi seperti ini sering menjadi pengingat bahwa arah indeks dan peluang saham individual tidak selalu berjalan beriringan.