Pipa Minyak Arab Saudi Lumpuh, 4 Persen Pasokan Global Terancam Hilang

14 September 2026 17:00
Bagikan :
Ilustrasi penurunan IHSG akibat konflik geopolitik dan kenaikan harga minyak tahun 2026. (DoyanDuit)

DOYANDUIT – Lumpuhnya jalur pipa minyak East-West Arab Saudi setelah serangan drone berpotensi mengganggu sekitar 4 persen pasokan minyak global, atau setara dengan sekitar 4 juta barel per hari.

Gangguan tersebut terjadi ketika jalur energi alternatif Arab Saudi tengah menjadi semakin penting akibat terganggunya pelayaran melalui Selat Hormuz di tengah perang Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel.

Dilansir dari Business Standard pada Senin (14/9/2026), berkurangnya pasokan minyak global berpotensi menambah tekanan terhadap harga bahan bakar, inflasi, hingga imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara.

Pipa East-West Arab Saudi Ditutup

Serangan drone pada Jumat memaksa Arab Saudi menghentikan operasi jalur pipa East-West.

Hingga kini, Riyadh belum memberikan rincian lengkap mengenai skala kerusakan maupun berapa lama infrastruktur tersebut akan berhenti beroperasi.

Kondisi tersebut membuat pasar menghadapi ketidakpastian baru mengenai seberapa besar pasokan minyak yang dapat kembali dialirkan dalam waktu dekat.

Sumber yang berbicara kepada Reuters memberikan perkiraan berbeda mengenai waktu perbaikan.

Salah satu sumber memperkirakan kerusakan membutuhkan waktu lima hingga enam minggu untuk diperbaiki. Sementara sumber lainnya menilai perbaikan dapat dilakukan lebih cepat dan sebagian pemompaan mungkin kembali berjalan ketika pekerjaan perbaikan masih berlangsung.

Perbedaan estimasi tersebut membuat dampak terhadap pasokan minyak global masih sulit dipastikan.

4 Juta Barel Minyak per Hari Terancam Terganggu

Jalur pipa East-West menghubungkan kawasan produksi minyak Arab Saudi di Teluk dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Infrastruktur tersebut memiliki posisi strategis karena memungkinkan Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyak tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Selama sekitar enam bulan terakhir, jalur tersebut digunakan untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari dari kawasan Teluk menuju Yanbu.

Volume tersebut setara dengan sekitar 4 persen pasokan minyak global.

Dengan demikian, gangguan terhadap pipa East-West tidak hanya menjadi persoalan infrastruktur Arab Saudi, tetapi berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan minyak di pasar internasional.

Selat Hormuz Masih Jadi Titik Risiko

Posisi pipa East-West semakin penting karena Selat Hormuz disebut telah ditutup akibat konflik antara Iran dengan AS dan Israel.

Selat tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

Penutupan atau gangguan pelayaran di kawasan tersebut membuat negara-negara produsen membutuhkan jalur alternatif untuk mengirim minyak ke pasar internasional.

Dalam situasi tersebut, pipa East-West menjadi salah satu infrastruktur yang dapat membantu Arab Saudi mengalihkan ekspornya menuju Laut Merah.

Ketika jalur tersebut ikut terganggu, ruang untuk mengalihkan pasokan menjadi semakin terbatas.

Ekspor Arab Saudi Menghadapi Gangguan Berlapis

Gangguan terhadap pipa East-West bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi ekspor minyak Arab Saudi.

Pengiriman minyak juga menghadapi hambatan akibat blokade laut yang dilakukan kelompok Houthi di Yaman.

Kelompok tersebut disebut semakin leluasa mengendalikan lalu lintas pelayaran di kawasan selatan Laut Merah setelah merebut wilayah di dekat Selat Bab al-Mandeb.

Kombinasi gangguan pada jalur pipa dan jalur pelayaran membuat risiko terhadap distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah semakin besar.

Harga Minyak dan Inflasi Jadi Perhatian

Jika gangguan pipa berlangsung lebih lama dari perkiraan, pasar minyak berpotensi menghadapi pengetatan pasokan.

Kondisi tersebut dapat mendorong harga minyak mentah naik karena pasar harus menyesuaikan diri dengan berkurangnya volume minyak yang tersedia.

Efeknya tidak berhenti pada harga minyak.

Kenaikan harga energi dapat diteruskan ke harga bahan bakar, biaya transportasi, serta biaya produksi berbagai sektor. Pada akhirnya, tekanan tersebut dapat kembali masuk ke inflasi.

Pasar obligasi juga berpotensi ikut terdampak apabila inflasi yang lebih tinggi membuat investor memperkirakan bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Karena itu, perkembangan perbaikan pipa East-West akan menjadi salah satu indikator penting yang diperhatikan pasar energi dan keuangan global dalam beberapa pekan ke depan.

Berita Terbaru
32043
Daftar Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027, Total 26 Hari
harga emas
Harga Emas Dunia Tertekan, Pasar Makin Yakin The Fed Naikkan Suku Bunga
Screenshot 2026-09-15 101601
Anggota DPD RI Kenang Rapat Terakhir dengan Purbaya, Bawa Harapan 6 Program Besar dari Pengangkatan PPPK Paruh Waktu hingga Utang Daerah Dibayar Negara
suahazil nazara
Profil Suahasil Nazara: Guru Besar UI yang Kini Kelola APBN Rp4.000 Triliun, Hartanya Rp138 Miliar
menkeu ri
Empat Dugaan di Balik Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari Kursi Menteri Keuangan