
DOYANDUIT – Saat ini banyak pekerja hybrid merasa hari kerjanya justru lebih panjang dibanding ketika sepenuhnya bekerja dari rumah maupun bekerja penuh di kantor.
Meski hanya dengan kewajiban ke kantor dua atau tiga hari dalam seminggu, dalam hari-hari tersebut, jam kerja melebar signifikan dan tenaga terkuras lebih banyak.
Pagi hari mereka sudah membuka laptop sebelum berangkat. Siang menjalani aktivitas kantor seperti rapat, koordinasi, dan diskusi. Setelah pulang, pekerjaan yang belum selesai kembali dilanjutkan hingga malam.
Waktu, tenaga, dan akomodasi harian terkuras lebih banyak dari hari lainnya.
Fenomena ini dikenal sebagai Return-to-Office Productivity Paradox, kondisi ketika kebijakan kembali ke kantor (return to office) tidak selalu membuat pekerjaan lebih efisien, tetapi justru memperpanjang jam kerja dan memunculkan apa yang disebut blended work overload.
Bagi sebagian pekerja, masalahnya bukan pada kewajiban datang ke kantor. Yang menjadi persoalan adalah ketika tuntutan kerja era work from anywhere tetap dipertahankan, sementara kehadiran fisik di kantor menjadi tambahan aktivitas baru yang menyita waktu dan energi.
Apa Itu Blended Work Overload?
Blended work overload adalah kondisi ketika berbagai model kerja bercampur menjadi satu beban yang terus menumpuk.
Pekerja tidak hanya menjalankan tugas selama jam kantor, tetapi juga tetap harus responsif sebelum dan sesudah jam kerja formal.
Dalam praktiknya, hari kerja bisa terlihat seperti berikut:
| Waktu | Aktivitas |
|---|---|
| 07.00 – 09.00 | Mengecek email, menyelesaikan tugas, membalas pesan kerja |
| 09.00 – 16.00 | Bekerja di kantor |
| 16.00 – 18.00 | Perjalanan pulang |
| 19.00 – 22.00 | Melanjutkan pekerjaan yang tertunda |
Secara administratif mungkin hanya tercatat bekerja tujuh jam. Namun secara nyata, waktu yang dicurahkan untuk pekerjaan bisa mencapai 12 hingga 15 jam dalam sehari.
Work Extension: Ketika Pekerjaan Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
Fenomena lain yang sering muncul adalah work extension. Istilah ini menggambarkan meluasnya pekerjaan ke berbagai ruang dan waktu di luar jam kerja resmi.
Dulu batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi relatif jelas:
- berangkat kerja
- bekerja
- pulang
- selesai.
Kini batas tersebut semakin kabur.
Ruang tamu berubah menjadi kantor pagi hari. Kantor menjadi tempat koordinasi siang hari. Laptop kembali terbuka di rumah pada malam hari.
Berdasarkan pengalaman, pekerjaan yang membutuhkan fokus tinggi justru sering diselesaikan setelah pulang kantor karena waktu kerja di kantor habis untuk bersosialisasi, rapat, dan koordinasi.
Akibatnya, pekerjaan terasa tidak pernah benar-benar berakhir.
Workload Creep yang Datang Perlahan
Banyak pekerja tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami workload creep. Ini adalah kondisi ketika beban kerja meningkat secara perlahan tanpa perubahan resmi pada kontrak, jabatan, maupun jam kerja.
Tidak ada pengumuman bahwa target dinaikkan. Tidak ada surat yang menyatakan jam kerja bertambah. Namun dalam keseharian, jumlah tugas terus meningkat.
Pesan kerja mulai masuk lebih pagi. Tenggat waktu semakin ketat. Ekspektasi respons menjadi lebih cepat.
Lama-kelamaan kondisi tersebut dianggap normal.
Padahal kapasitas kerja yang dibutuhkan sudah jauh berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Mengapa Return to Office Bisa Menimbulkan Paradoks Produktivitas?
Secara teori, kebijakan kembali ke kantor bertujuan meningkatkan kolaborasi dan memperkuat komunikasi tim.
Sayangnya, dalam beberapa kasus muncul paradoks yang cukup menarik.
Waktu yang sebelumnya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan kini sebagian dialihkan untuk:
- Perjalanan ke kantor
- Persiapan sebelum berangkat
- Rapat tatap muka
- Aktivitas koordinasi
- Interaksi sosial di lingkungan kerja
Masalahnya, target pekerjaan tetap sama. Bahkan tidak jarang bertambah.
Hasilnya, pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi akhirnya dipindahkan ke pagi hari sebelum berangkat atau malam hari setelah pulang.
Inilah alasan mengapa sebagian pekerja hybrid merasa memiliki dua hingga tiga sesi kerja dalam satu hari.
Tanda-Tanda Anda Mengalami Blended Work Overload
Beberapa gejala yang paling sering dikeluhkan pekerja hybrid antara lain:
- Mulai bekerja sebelum jam kantor dimulai
- Masih membuka laptop setelah jam kerja berakhir
- Sulit menikmati waktu istirahat tanpa memikirkan pekerjaan
- Merasa sibuk sepanjang hari tetapi pekerjaan tetap menumpuk
- Merasa lelah meskipun tidak melakukan aktivitas fisik berat
- Sulit menentukan kapan hari kerja benar-benar selesai
Dalam beberapa kasus, pekerja bahkan merasa selalu “sedikit tertinggal” meskipun sudah bekerja lebih lama dibanding sebelumnya.
Perbandingan Hybrid Work Sehat dan Hybrid Work Bermasalah
| Aspek | Hybrid Sehat | Hybrid Bermasalah |
|---|---|---|
| Jam kerja | Jelas dan terukur | Meluas hingga malam |
| Target kerja | Disesuaikan | Tetap atau meningkat |
| Waktu fokus | Tersedia saat jam kerja | Berpindah ke luar jam kerja |
| Kehadiran kantor | Mendukung pekerjaan | Menambah beban |
| Keseimbangan hidup | Terjaga | Semakin sulit dicapai |
Apakah Ini Akan Menjadi Normal Baru?
Saat ini semakin banyak perusahaan mengevaluasi kembali efektivitas kebijakan return to office.
Bukan karena bekerja di kantor dianggap buruk, melainkan karena banyak organisasi mulai menyadari bahwa produktivitas tidak hanya diukur dari kehadiran fisik.
Yang lebih penting adalah bagaimana pekerjaan diselesaikan tanpa memperpanjang jam kerja secara diam-diam.
Jika target tetap sama tetapi waktu yang tersedia semakin terpotong oleh perjalanan dan aktivitas kantor, maka risiko blended work overload akan terus meningkat.
Pada akhirnya, paradoks produktivitas return to office bukan soal bekerja di kantor atau bekerja dari rumah.
Persoalan utamanya adalah ketika pekerjaan mulai mengambil ruang yang semakin besar dalam kehidupan sehari-hari, sampai batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi sulit dikenali.
Jika Anda merasa hari kerja dimulai sejak pagi dan baru benar-benar berakhir menjelang tidur, kemungkinan besar Anda tidak sendirian.
Fenomena ini sedang dialami banyak pekerja hybrid di berbagai sektor, mulai dari editor, programmer, analis, hingga pekerja kreatif yang mengandalkan laptop sebagai alat kerja utama.