
DOYANDUIT – Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026. Berdasarkan data pukul 10.40 WIB, rupiah spot sempat menyentuh di level Rp17.905 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka itu melemah sekitar 0,68% dibanding penutupan sehari sebelumnya di Rp17.801 per dolar AS.
Yang membuat pasar semakin gelisah, level tersebut kembali menjadi titik terlemah rupiah sepanjang sejarah.
Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Melemah
Tekanan rupiah ternyata bukan terjadi sendirian. Mayoritas mata uang Asia juga dibuka melemah terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini.
Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,49%, disusul rupiah yang turun 0,31%.
Berikut daftar pergerakan mata uang Asia pagi ini:
| Mata Uang | Pergerakan |
|---|---|
| Won Korea Selatan | Melemah 0,49% |
| Rupiah Indonesia | Melemah 0,31% |
| Ringgit Malaysia | Melemah 0,24% |
| Baht Thailand | Melemah 0,23% |
| Peso Filipina | Melemah 0,17% |
| Yen Jepang | Melemah 0,05% |
| Yuan China | Melemah 0,05% |
Sementara itu, hanya beberapa mata uang yang masih mampu menguat terhadap dolar AS. Dolar Taiwan naik sekitar 0,07%, sedangkan dolar Hong Kong menguat tipis 0,03%.
Kondisi ini menunjukkan penguatan dolar AS memang sedang terjadi secara global, bukan hanya menekan rupiah semata.
Indeks Dolar AS Kembali Menguat
Tekanan terhadap mata uang Asia juga sejalan dengan penguatan indeks dolar AS.
Indeks dolar yang mencerminkan pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia tercatat berada di level 99,34.
Posisi itu naik dibanding sehari sebelumnya di level 99,20. Kenaikan indeks dolar biasanya menjadi sinyal bahwa investor global sedang memburu aset berbasis dolar AS.
Dalam kondisi seperti ini, mata uang negara berkembang cenderung lebih rentan mengalami tekanan.
Purbaya Yudhi Sadewa: Fundamental Ekonomi Masih Aman
Satu hari sebelumnya, di tengah pelemahan rupiah yang makin dalam, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mencoba menenangkan pasar.
Ia menilai tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Menurutnya, pemerintah sudah memperhitungkan berbagai simulasi tekanan global, termasuk skenario harga minyak dunia menyentuh 100 dolar AS per barel.
“Kalau simulasi seperti itu sebenarnya sudah diperhitungkan,” ujarnya saat menanggapi pelemahan kurs rupiah.
Pernyataan itu cukup penting karena pasar mulai berspekulasi apakah pelemahan rupiah akan memengaruhi asumsi APBN.
Namun hingga saat ini pemerintah menegaskan kondisi fiskal masih terkendali.
Investor Asing Mulai Lebih Selektif
Berdasarkan pengamatan pelaku pasar, tekanan rupiah kali ini juga dipengaruhi keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik.
Ketika investor global mulai memilih aset aman, negara berkembang biasanya jadi yang pertama terkena dampak. Indonesia termasuk yang cukup sensitif karena pasar obligasi domestik masih banyak diisi investor asing.
Dalam beberapa hari terakhir, yield obligasi pemerintah juga mulai bergerak naik. Kalau kondisi seperti ini berlangsung lama, biaya pendanaan bisa ikut terdampak.
Dampak Pelemahan Rupiah ke Masyarakat
Buat masyarakat umum, pelemahan rupiah memang tidak selalu langsung terasa dalam sehari.
Namun perlahan dampaknya bisa muncul ke berbagai sektor seperti:
- Harga barang impor
- Gadget dan elektronik
- Tiket perjalanan luar negeri
- Biaya pendidikan luar negeri
- Bahan baku industri
Dalam beberapa kasus, pelaku usaha mulai menunda impor karena kurs dianggap terlalu tinggi.
Menariknya, sebagian masyarakat baru sadar rupiah sedang melemah ketika harga emas naik atau harga smartphone berubah cukup tajam.
Padahal tekanan pasar biasanya sudah terjadi lebih dulu.
Apakah Rupiah Masih Bisa Stabil?
Pertanyaan ini sekarang mulai sering muncul di kalangan investor ritel maupun pelaku usaha. Jawabannya masih sangat tergantung kondisi global, terutama arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan pergerakan dolar AS.
Kalau tekanan global mulai mereda dan arus modal asing kembali masuk, rupiah punya peluang untuk stabil lagi.
Namun kalau ketidakpastian masih tinggi, volatilitas kemungkinan tetap terasa dalam beberapa waktu ke depan. Dan untuk sementara, pasar tampaknya masih memilih mode hati-hati.
Tekanan terhadap rupiah kali ini terasa berbeda karena datang bersamaan dengan penguatan dolar global dan meningkatnya kehati-hatian investor asing.
Pasar masih terus memantau langkah pemerintah, Bank Indonesia, serta arah ekonomi global dalam beberapa pekan ke depan.