Rupiah Melemah ke Level 16.723 per Dolar AS Siang Ini, IDR Tertekan di Pasar Global

18 Desember 2025 14:00
Bagikan :
Grafik USD/IDR, Kamis 18 Desember 2025. (TradingView)

DOYANDUIT – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan menjelang penutupan tahun 2025. Pada perdagangan 18 Desember 2025 pukul 13:31 WIB, rupiah tercatat melemah ke level 16.723 per dolar AS, turun sekitar 30 poin atau 0,18 persen.

Pergerakan ini terjadi di tengah masih kuatnya dolar AS secara global serta keputusan Bank Indonesia yang memilih mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.

Berdasarkan data intraday, pelemahan rupiah tidak terjadi secara tiba-tiba. Dalam lima hari terakhir, rupiah tercatat melemah 0,36%, sementara secara year to date sudah terdepresiasi 3,55%. Dalam rentang satu tahun, pelemahan mencapai 4,23%, dan dalam jangka panjang lima tahun terakhir, depresiasi tercatat lebih dari 18%.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan sekadar fenomena harian, melainkan bagian dari tren global yang lebih luas.

Tren Pergerakan Rupiah Sepanjang 2025

Data perdagangan menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah berlangsung secara bertahap:

  • Harian: melemah 0,18 persen
  • 5 hari: melemah 0,36 persen
  • 6 bulan: melemah 2,14 persen
  • Year to date: melemah 3,55 persen
  • 1 tahun: melemah 4,23 persen

Meski demikian, dalam jangka sangat pendek satu bulan terakhir, pergerakan rupiah relatif stabil. Hal ini menandakan bahwa tekanan yang terjadi lebih bersifat struktural dan eksternal, bukan akibat gejolak domestik.

Sealain itu, level 16.700-an menjadi area psikologis yang sensitif. Ketika rupiah mendekati atau melewati level ini, pelaku pasar cenderung bersikap wait and see, yang pada akhirnya membatasi penguatan rupiah.

 

Keputusan RDG BI: Suku Bunga Tetap, Stabilitas Tetap Dijaga

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16–17 Desember 2025 memutuskan untuk:

  • Mempertahankan BI-Rate: 4,75%
  • Suku bunga Deposit Facility: 3,75%
  • Suku bunga Lending Facility: 5,50%

Keputusan ini diambil secara konsisten dengan strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, sekaligus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh sebelumnya.

Bank Indonesia menilai bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor global, sehingga respons kebijakan tidak perlu dilakukan secara agresif melalui kenaikan suku bunga.

 

Mengapa BI Tetap Menahan Suku Bunga di Tengah Rupiah Melemah?

Dalam rilisnya, keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga tidak diambil tanpa pertimbangan. Beberapa alasan utama antara lain:

1. Inflasi Masih Terkendali

BI memprakirakan inflasi tahun 2026 tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen, sehingga masih tersedia ruang kebijakan yang akomodatif.

2. Menjaga Pertumbuhan Ekonomi

Kenaikan suku bunga berisiko menekan konsumsi, investasi, dan penyaluran kredit, terutama di tengah upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

3. Pelemahan Rupiah Bersifat Global

Banyak mata uang negara berkembang mengalami tekanan serupa akibat kuatnya dolar AS.

Ke depan, Bank Indonesia menegaskan akan terus mencermati ruang penurunan BI-Rate lebih lanjut, sejalan dengan kondisi inflasi dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Peran Kebijakan Makroprudensial dan Sistem Pembayaran

Selain kebijakan suku bunga, BI juga memperkuat pelonggaran kebijakan makroprudensial, khususnya melalui:

  • Peningkatan efektivitas pemberian likuiditas ke perbankan
  • Percepatan penurunan suku bunga kredit
  • Dorongan pembiayaan ke sektor riil dan sektor prioritas Pemerintah

Di sisi lain, kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif, melalui:

  • Perluasan akseptasi pembayaran digital
  • Penguatan struktur industri sistem pembayaran
  • Peningkatan daya tahan infrastruktur pembayaran

Pendekatan ini menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan strategi pertumbuhan jangka menengah.

Kebijakan Amerika Serikat

Pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari ekspektasi pasar.

Dampaknya antara lain:

  • Dolar AS menguat secara global
  • Arus modal global cenderung kembali ke AS
  • Mata uang emerging market berada di bawah tekanan

Dalam kondisi ini, meskipun BI menahan suku bunga, selisih imbal hasil antara aset dolar dan rupiah tetap membuat dolar lebih menarik bagi investor global.

Dampak bagi Masyarakat dan Dunia Usaha

Dampak yang Perlu Diantisipasi

  • Harga barang impor berpotensi naik
  • Biaya produksi meningkat bagi industri berbasis impor
  • Tekanan inflasi dapat muncul jika pelemahan berlanjut

Peluang yang Tetap Terbuka

  • Kinerja ekspor lebih kompetitif
  • Pendapatan berbasis dolar meningkat saat dikonversi ke rupiah

Berdasarkan data terbaru 2025, arah rupiah ke depan masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Selama dolar AS tetap kuat dan ketidakpastian ekonomi internasional belum sepenuhnya mereda, pergerakan rupiah diperkirakan tetap fluktuatif.

Namun, fundamental ekonomi domestik yang relatif terjaga memberi ruang bagi rupiah untuk bergerak stabil dalam jangka menengah. Kuncinya ada pada pengelolaan ekspektasi pasar dan respons kebijakan yang konsisten.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050