
DOYANDUIT – Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena pinjaman online (pinjol) ilegal terus memakan korban. Salah satu kasus yang ramai dibicarakan adalah aplikasi PinjamPlus.
Dari berbagai kesaksian pengguna di kanal YouTube maupun ulasan di Google Play, pola yang sama kerap terjadi: pencairan otomatis tanpa persetujuan, tenor sangat pendek (hanya 7 hari), serta bunga dan biaya layanan yang mencekik.
Seorang pengguna bernama Hen***ono mengaku, “hanya liat limit aja, tidak meng-oke-kan pinjaman, nggak taunya main transfer uang aja ke rekening saya. Sekarang saya ingin mengembalikan sesuai dana masuk ke rekening, gimana caranya?” (19 Agustus 2025).
Testimoni serupa juga diutarakan Aen***pah yang merasa tidak pernah mengajukan pinjaman, namun tiba-tiba menerima transferan dana.
Kasus ini menunjukkan bagaimana pinjol ilegal kerap menggunakan modus “jebakan transfer otomatis” untuk memaksa seseorang menjadi debitur.
Risiko Gagal Bayar dan Ancaman Sebar Data
Tidak Ada Batasan Denda
Berbeda dengan pinjol legal yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan tunduk pada POJK Nomor 10/POJK.05/2022 tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi, pinjol ilegal tidak memiliki batasan bunga maupun denda keterlambatan.
Dalam praktiknya, biaya layanan bisa mencapai setengah dari jumlah pinjaman, sementara denda berjalan tanpa kendali.
Seperti yang dijelaskan dalam sebuah video ulasan di Channel YouTube RG Official:
“Ketika kalian mau mengembalikan, kalian hubungi CS resminya, itu juga penipuan. Tagihan kalian tetap ada, tetap diteror. Semua ini komplotan penipuan, jebakan. Jadi memang enggak harus dibayar.”
Teror dan Sebar Data
Ancaman utama dari pinjol ilegal bukan hanya soal tagihan, melainkan juga penyalahgunaan data pribadi. Pengguna melaporkan ancaman berupa sebar data ke kontak pribadi, media sosial, hingga kerabat dekat.
Seorang korban bernama Zee***n menuliskan:
“Masih 3 hari jatuh tempo langsung ditelpon berulang kali DC, cara nagih enggak sopan pakai acara ancam. Data kita diedit dengan foto yang sangat tidak pantas. Jangan pernah pinjam di aplikasi ini.” (9 Agustus 2025).
Hal ini sejalan dengan temuan OJK yang kerap menerima laporan masyarakat tentang pinjol ilegal yang melakukan pelecehan, intimidasi, bahkan manipulasi foto korban.
Langkah Aman Menghadapi Pinjol Ilegal
Gagal Bayar Bukan Pilihan, Tapi Strategi Bertahan
Banyak orang menilai, membayar pinjol ilegal justru memperpanjang lingkaran jebakan. Seperti yang disampaikan dalam ulasan YouTube, “Setelah bayar, ditransfer lagi. Bayar satu aplikasi, dicairkan dua aplikasi. Bayar dua aplikasi, dicairkan tiga sampai empat aplikasi. Begitu seterusnya, tidak akan ada selesainya.”
Oleh karena itu, sebagian pengguna menyarankan strategi gagal bayar (galbay) sebagai bentuk perlindungan diri, dengan fokus pada pengamanan data pribadi.
Fokus pada Perlindungan Data
Langkah penting yang perlu diperhatikan adalah melindungi data pribadi. Beberapa pengguna mencoba menghapus kontak asli, mengganti dengan kontak palsu (fake contact), serta membersihkan galeri dan riwayat panggilan sebelum mengajukan pinjaman.
Meskipun cara ini tidak sepenuhnya melindungi dari ancaman, namun dapat mengurangi risiko sebar data yang masif.

Perlindungan Hukum dan Laporan Resmi
Masyarakat yang menjadi korban pinjol ilegal dapat mengajukan laporan ke:
- OJK melalui layanan Kontak OJK 157 atau email [email protected].
- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk pemblokiran aplikasi atau situs.
- Kepolisian RI jika terdapat unsur pidana seperti ancaman, pelecehan, atau pemalsuan data.
Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 11 Tahun 2008 jo. UU Nomor 19 Tahun 2016 juga menegaskan bahwa setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak memanipulasi, menyebarkan, atau mengubah data elektronik dapat dikenakan pidana.
Penutup
Kasus PinjamPlus hanyalah salah satu dari ratusan pinjol ilegal yang masih beroperasi di Indonesia. Pola mereka sama: bunga tinggi, tenor pendek, pencairan otomatis, hingga teror dan ancaman sebar data.
Bagi masyarakat, pelajaran penting yang bisa diambil adalah tidak tergoda pinjaman cepat cair dari aplikasi ilegal. Jika sudah terlanjur menjadi korban, fokuslah pada perlindungan data pribadi dan pelaporan resmi ke pihak berwenang.
Dengan demikian, Anda bisa mengurangi risiko lebih lanjut sekaligus membantu memberantas praktik pinjol ilegal yang meresahkan.