
DOYANDUIT – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mendesak agar negaranya memiliki suku bunga acuan terendah di dunia. Pernyataan tersebut muncul menjelang rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada 15-16 September 2026, ketika pasar justru meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga.
Trump menyampaikan pandangannya saat Ketua The Fed Kevin Warsh menghadapi tekanan untuk menentukan arah kebijakan moneter di tengah inflasi AS yang kembali menunjukkan penguatan.
“Kita seharusnya membayar—Amerika Serikat sangat kuat—kita seharusnya membayar suku bunga terendah di dunia,” kata Trump kepada wartawan, dilansir CNA, Senin (14/9/2026).
Pasar Mulai Antisipasi Kenaikan Suku Bunga
Pernyataan Trump berhadapan dengan sinyal berbeda dari pasar keuangan.
Pelaku pasar meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed setelah data inflasi terbaru menunjukkan harga konsumen AS pada Agustus meningkat lebih tinggi dari perkiraan.
Kondisi tersebut dapat menjadi pertimbangan penting bagi bank sentral ketika menentukan kebijakan pada pertemuan September.
Pasar bahkan memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September, sekaligus membuka peluang kenaikan berikutnya menjelang akhir 2026.
The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%-3,75% dalam pertemuan Juli.
Jika kenaikan 25 basis poin terealisasi, level suku bunga acuan AS akan kembali bergerak lebih tinggi setelah sebelumnya bertahan pada kisaran tersebut.
Trump dan The Fed Berada di Arah Berbeda
Dorongan Trump agar suku bunga AS menjadi yang terendah di dunia berpotensi berseberangan dengan pertimbangan utama The Fed, yakni menjaga inflasi tetap terkendali.
Suku bunga yang lebih rendah memang dapat mendorong aktivitas ekonomi melalui biaya pinjaman yang lebih murah. Namun, ketika tekanan harga masih tinggi, pelonggaran kebijakan moneter dapat membuat tugas bank sentral untuk mengendalikan inflasi menjadi lebih sulit.
Karena itu, data inflasi menjadi salah satu indikator yang paling diperhatikan pasar menjelang keputusan The Fed.
Di tengah kondisi tersebut, pernyataan Trump menjadi bagian lain dari dinamika kebijakan ekonomi AS, meskipun keputusan suku bunga berada di tangan bank sentral.
Harga Energi Jadi Risiko Tambahan
Tekanan terhadap inflasi AS juga datang dari kenaikan harga energi.
Ekonomi AS menghadapi lonjakan harga energi seiring perang dengan Iran yang telah memasuki bulan ketujuh. Kenaikan biaya energi berpotensi menambah tekanan terhadap harga barang dan jasa secara lebih luas.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi The Fed karena inflasi yang kembali meningkat dapat membatasi ruang untuk menurunkan suku bunga.
Di saat bersamaan, kebijakan tarif yang diterapkan pemerintahan Trump turut memperumit prospek inflasi.
Tarif dapat meningkatkan biaya barang impor dan pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap harga di tingkat konsumen.
Rapat The Fed Jadi Fokus Pasar
The Fed akan menggelar rapat kebijakan pada 15-16 September 2026.
Keputusan bank sentral dalam pertemuan tersebut akan menjadi perhatian utama pasar karena menentukan apakah tekanan inflasi cukup kuat untuk mendorong kenaikan suku bunga atau masih memungkinkan The Fed mempertahankan kebijakan yang ada.
Bagi pasar global, keputusan tersebut juga berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS, obligasi, saham, hingga mata uang negara berkembang.
Sementara Trump menginginkan biaya pinjaman serendah mungkin, The Fed harus menimbang risiko inflasi, kondisi ekonomi, dan stabilitas harga sebelum menentukan arah kebijakan berikutnya.
Dengan inflasi yang kembali menjadi perhatian dan harga energi yang meningkat, ruang bagi The Fed untuk memenuhi keinginan Trump terkait suku bunga rendah menjadi semakin terbatas.