
DOYANDUIT – Jika kamu berpikir menjadi pengusaha sukses berarti mengikuti semua aturan bisnis yang ada, mungkin kamu perlu melihat ulang.
Banyak inovasi besar justru lahir dari mereka yang berani berpikir berbeda. Menurut John Mullins, profesor entrepreneurship dari London Business School, ada enam mindset entrepreneur yang “melawan arus”, tetapi terbukti mampu membawa ide sederhana menjadi bisnis bernilai miliaran.
Contohnya, Lynda Weinman, seorang guru desain grafis, membuat situs Lynda.com hanya untuk memajang karya murid dan mengutak-atik Photoshop.
Tak disangka, keputusan sederhana itu berubah menjadi platform belajar global dan akhirnya dibeli LinkedIn senilai 1,5 miliar dolar AS. Artinya, yang dibutuhkan bukan hanya ide, tapi cara berpikir yang tepat.
Enam Mindset Entrepreneur Anti-Mainstream yang Perlu Kamu Tahu
1. “Yes, We Can” – Jangan Batasi Diri pada Kompetensi Awal
Dalam bisnis besar, saran yang sering terdengar adalah: fokus pada core competency. Namun, entrepreneur hebat justru fleksibel. Arnold Correia dari Atmo Digital beberapa kali mengubah bisnisnya karena mengikuti permintaan pelanggan, dari layanan acara, hingga memasang satelit untuk siaran pelatihan di ratusan toko di Brasil.
Alih-alih berkata “kami tidak bisa”, ia selalu berkata “ya, kami coba”. Pola pikir seperti ini membuka peluang baru dan memungkinkan bisnis bertumbuh ke arah yang tak terduga.
2. Fokus ke Masalah, Bukan Produk
Banyak perusahaan besar melakukan inovasi kecil seperti “kemasan baru”, “rasa baru”, atau “warna baru”. Tapi entrepreneur sejati justru mulai dari pertanyaan: masalah apa yang perlu diselesaikan?
Contohnya Jonathan Thorne, menciptakan alat bedah yang tidak lengket di jaringan tubuh. Masalah ini sederhana, tetapi sangat nyata bagi ahli bedah.
“Saya tidak ingin alat ini merusak jaringan otak pasien,” katanya. Dengan fokus pada masalah, bukan produk, bisnisnya berkembang dan akhirnya dibeli perusahaan alat kesehatan global, Stryker.
3. Lebih Baik Sempit tapi Dalam, daripada Luas tapi Dangkal
Perusahaan besar ingin pasar seluas mungkin. Entrepreneur justru sebaliknya—fokus ke niche market. Nike dimulai hanya dari sepatu lari jarak jauh. Saat itu, sepatu didesain untuk sprinter di lintasan halus, bukan pelari jarak jauh yang berlari di jalan tanah dan berbatu.
Phil Knight dan pelatihnya, Bill Bowerman, menciptakan sepatu dengan alas lebih stabil, ringan, dan melindungi kaki dari cedera. Setelah mendominasi pasar pelari, barulah mereka merambah basket, tenis, hingga fashion.
4. Minta Uang di Depan dan Gunakan “Float”
Mindset entrepreneur yang jarang diajarkan di sekolah bisnis adalah: “jual dulu, bangun kemudian”. Elon Musk bersama tim Tesla tak menunggu investor atau pinjaman bank. Mereka menjual 100 unit Tesla Roadster seharga 100.000 dolar AS, bahkan sebelum mobilnya selesai dibuat.
Menurut Musk, “Kalau ada orang yang percaya dan mau bayar sekarang, berarti idenya layak dilanjutkan.” Cara ini membuat Tesla memiliki modal awal 10 juta dolar tanpa utang.
5. Manfaatkan Sumber Daya Orang Lain – Beg, Borrow, Don’t Steal
Tidak semua aset perlu dimiliki. Terkadang cukup dipinjam atau bekerja sama. Tristram dan Rebecca Mayhew ingin membangun wahana petualangan di atas pohon di Inggris.
Mereka tidak membeli hutan, toilet, atau lahan parkir. Mereka bekerja sama dengan Forestry Commission, yang menyediakan lahan dan fasilitas dengan imbalan peningkatan pengunjung.
Hasilnya, bisnis Go Ape berkembang ke lebih dari 30 lokasi di Inggris dan Amerika Serikat.
6. Jangan Tunggu Izin, Kalau Aturannya Belum Ada
Dalam bisnis tradisional, semua ide baru harus melewati sistem perizinan. Entrepreneur seperti Travis Kalanick (Uber) memilih sebaliknya.
Ia tak menunggu lampu hijau untuk mendirikan “taksi tanpa mobil sendiri.” Kalau mereka bertanya dulu ke regulator, jawabannya pasti “tidak”.
Mullins menegaskan, “Saya tidak membenarkan tindakan ilegal, tapi kadang inovasi datang sebelum regulasi.” Selama tidak merugikan orang lain, bergerak cepat bisa menjadi keunggulan terbesar.

Apa yang Bisa Kita Pelajari dan Terapkan?
- Jangan takut menerima proyek di luar kemampuan awal.
- Cari masalah nyata, bukan sekadar produk yang terlihat keren.
- Mulai dari pasar kecil tapi spesifik.
- Tes minat pasar dengan pre-order atau pembayaran di muka.
- Gunakan aset bersama atau kolaborasi.
- Bergerak cepat saat peluang terbuka.
Menurut Mullins, “Pertanyaan pentingnya bukan apakah kamu siap, tapi apakah kamu mau belajar sambil jalan.”
Mindset Entrepreneur untuk Bertindak Lebih Berani
Mindset entrepreneur bukan soal bakat, tapi cara memandang peluang dan risiko. Enam pola pikir ini menunjukkan bahwa kadang kamu perlu melawan kebiasaan, mengambil keputusan sebelum semuanya sempurna, dan belajar dari jalan yang kamu pilih sendiri.
Dengan memahami mindset entrepreneur seperti ini, kamu bisa mengambil keputusan bisnis yang lebih cerdas, berani, dan relevan dengan tantangan zaman.