Waspada! 5 Ciri Franchise Abal-abal yang Perlu Kamu Hindari Sebelum Gabung

20 Juni 2025 18:00
Bagikan :
Tanda franchise abal-abal yang wajib dihindari!

DOYANDUIT – Bisnis franchise (waralaba) memang menjadi salah satu jalur usaha yang menjanjikan bagi pemula.

Dengan sistem yang sudah jadi, merek yang dikenal, dan pendampingan dari pusat, banyak orang melihat franchise sebagai cara “cepat” untuk berbisnis. Namun di balik populernya skema ini, tak sedikit pula jebakan berkedok franchise resmi.

Sayangnya, tidak semua franchise yang beredar memiliki legalitas, sistem, dan niat bisnis yang sehat. Banyak kasus penipuan terjadi akibat minimnya edukasi calon mitra.

Agar Anda tidak menjadi korban berikutnya, berikut 5 ciri franchise abal-abal yang wajib diwaspadai.

1. Tidak Memiliki Izin Usaha dan Sertifikasi Resmi (PIRT/NPWP/Haki)

Ciri pertama dan paling mencolok dari franchise bermasalah adalah tidak memiliki legalitas usaha yang sah. Beberapa bentuk legalitas yang seharusnya dimiliki oleh franchise resmi antara lain:

  • Nomor Induk Berusaha (NIB) dan NPWP Badan Usaha
  • Sertifikat Merek (HAKI) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual
  • Izin edar dari BPOM atau minimal PIRT jika produk berupa makanan/minuman

Tanpa dokumen-dokumen ini, franchise tersebut berisiko tinggi bermasalah di kemudian hari, termasuk kemungkinan dibubarkan oleh otoritas setempat.

💡 Tips: Kamu bisa mengecek sertifikat HAKI di situs https://pdki-indonesia.dgip.go.id dan izin PIRT di layanan Dinas Kesehatan setempat.

2. Sistem Pembinaan Tidak Jelas atau Hanya Sekali Saja

Salah satu keuntungan bergabung dengan franchise adalah adanya sistem pelatihan dan pembinaan berkala. Franchise profesional biasanya menyediakan:

  • Training awal operasional dan manajerial
  • SOP (Standard Operating Procedure)
  • Pendampingan saat grand opening
  • Evaluasi kinerja dan dukungan marketing secara berkala

Namun franchise abal-abal biasanya hanya memberikan pelatihan singkat sekali, bahkan tidak menyediakan SOP resmi. Setelah mitra bayar paket usaha, tidak ada pendampingan lanjutan.

“Franchise yang serius biasanya punya tim support dan hotline. Kalau setelah akad kamu harus cari sendiri semua vendor dan bahan, itu red flag besar.” — Fadli Santoso, Konsultan Waralaba, dikutip dari kanal YouTube Bisnis Rumahan (2024).

3. Tidak Transparan Soal Royalti, Biaya Bahan Baku, dan Target Penjualan

Franchise abal-abal sering mengelabui mitra dengan menjanjikan “tanpa royalti” atau “full profit 100% untuk mitra”, namun diam-diam membebani lewat:

  • Harga bahan baku pusat yang sangat tinggi
  • Syarat pembelian minimum yang memaksa
  • Tidak adanya perjanjian tertulis soal pembagian keuntungan

Sebaliknya, franchise yang sehat justru transparan sejak awal mengenai biaya:

  • Biaya royalti tetap atau berdasarkan omzet
  • Margin harga bahan baku
  • Target penjualan per bulan
  • Biaya perpanjangan kerjasama

📌 Pastikan semua rincian itu tercantum jelas dalam kontrak dan sudah dijelaskan di awal presentasi kerjasama.

4. Tidak Terdaftar di Kementerian Koperasi dan UKM atau Asosiasi Waralaba

Untuk franchise skala nasional, sangat penting mereka terdaftar di Kementerian Koperasi dan UKM sebagai penyelenggara kemitraan usaha yang sah.

Selain itu, franchisor yang kredibel juga biasanya bergabung dalam organisasi seperti:

  • Asosiasi Franchise Indonesia (AFI)
  • Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI)

Kamu bisa cek atau meminta langsung surat penetapan sebagai franchisor sah dari mitra yang bersangkutan.

5. Menggunakan Skema Promosi Terlalu Bombastis Tanpa Bukti Nyata

Kalimat seperti:

  • “Omzet Rp20 juta per bulan dijamin!”
  • “Balik modal hanya dalam 1 bulan!”
  • “Cukup setor, tim kami jalankan!”

…adalah contoh klasik jebakan promosi franchise bodong. Mereka cenderung menjanjikan hasil yang tidak masuk akal, tanpa transparansi risiko dan biaya operasional.

Franchise asli akan menunjukkan studi kasus nyata dari mitra lain, testimoni lengkap, dan tidak menekan calon mitra untuk buru-buru ambil keputusan.

🔍 Tips: Telusuri dulu nama franchise-nya di media sosial, forum bisnis, hingga Google Review untuk melihat pengalaman mitra lain.

Penutup

Memulai bisnis franchise memang bisa menjadi solusi cepat untuk memiliki usaha, tetapi bukan berarti bebas risiko. Edukasi adalah kunci agar Anda tidak terjebak dalam kerugian dan penipuan.

Sebelum bergabung dengan franchise mana pun, pastikan Anda:

  • Mengecek legalitas usaha dan merek
  • Memahami sistem dan kewajiban mitra
  • Tidak tergiur janji manis tanpa perhitungan realistis

Jika masih ragu, jangan segan konsultasi ke dinas koperasi setempat atau pelaku franchise berpengalaman.

“Franchise bukan jalan pintas, tapi bisa jadi jalan aman — kalau kamu tahu cara memilihnya.”

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050