
DOYANDUIT – Shutdown pemerintah Amerika Serikat terjadi ketika Kongres dan Presiden gagal menyepakati anggaran belanja negara.
Tanpa persetujuan tersebut, banyak lembaga pemerintah harus menghentikan sebagian besar layanan karena tidak ada dana operasional.
Pegawai federal biasanya dirumahkan tanpa gaji, kecuali sektor penting seperti keamanan nasional, kesehatan darurat, atau militer.
Meski bukan peristiwa baru, shutdown kali ini memiliki dampak lebih luas. Penyebabnya, jadwal rilis data ketenagakerjaan AS yang sangat penting bagi kebijakan Federal Reserve ikut tertunda.
Data ini biasanya digunakan pasar sebagai acuan arah suku bunga, sehingga ketidakjelasan membuat situasi semakin rapuh.
Presiden Donald Trump juga menambah ketegangan dengan pernyataan bahwa shutdown bisa dimanfaatkan untuk memangkas pegawai federal.
Tidak ada kepastian berapa lama kondisi ini akan berlangsung, mengingat shutdown terpanjang sebelumnya mencapai 34 hari.
Emas Naik Tajam di Tengah Ketidakpastian
Harga emas dunia melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah. Pada perdagangan terakhir, kontrak berjangka emas ditutup di $3.897,50 per troy ounce, sedangkan harga spot berada di $3.867,595 per troy ounce. Dengan kurs terbaru Rp16.618,45 per dolar AS (2 Oktober 2025, data Morningstar), harga emas dunia setara sekitar:
- Rp64.313.000 per troy ounce (31,1035 gram)
- Rp2.068.000 per gram
Kenaikan hampir 50% sejak awal tahun ini menunjukkan kepercayaan investor pada logam mulia semakin kuat. Michael Field, analis Morningstar, menilai bahwa lonjakan harga emas bukan hanya efek shutdown.
“Konflik global, instabilitas politik, dan kebijakan tarif baru semuanya menciptakan situasi rapuh. Dalam kondisi seperti ini, emas selalu mendapat dorongan,” jelasnya.

Menuju Level $4.000 per Troy Ounce
Apakah emas bisa menembus $4.000? Banyak analis menilai hal itu hanya soal waktu. Philippe Gijsels dari BNP Paribas Fortis menegaskan prediksi tersebut sudah dibuat sejak setahun lalu.
Saat itu kenaikan harga lebih banyak dipicu oleh pembelian bank sentral, tetapi kini investor individu juga ikut masuk dan mempercepat pergerakan.
Menurut Gijsels, kepemilikan emas dalam portofolio global masih sangat kecil, hanya sekitar 2%.
“Kalau diibaratkan pertandingan bisbol, kita baru berada di inning kedua atau ketiga. Jadi $4.000 bukanlah akhir, melainkan awal dari bull market logam mulia terbesar dalam sejarah,” katanya.
UBS pun memberikan proyeksi sejalan. Strategis Joni Teves menyebut emas masih under-owned alias belum banyak dimiliki investor.
Ia memperkirakan reli emas akan bertahan beberapa kuartal ke depan, terutama karena pelemahan dolar AS, turunnya imbal hasil obligasi, serta siklus pelonggaran moneter The Fed.
Implikasi bagi Investor Global
Dengan harga mendekati Rp2,06 juta per gram, emas bukan lagi sekadar instrumen pelengkap, tetapi kini menjadi salah satu fondasi utama dalam strategi investasi global.
Ketidakpastian politik, inflasi yang sulit dikendalikan, hingga risiko ekonomi global membuat investor beralih ke aset nyata seperti emas.
Sejarah menunjukkan, logam mulia ini selalu mampu bertahan dalam berbagai krisis. Kini, perannya semakin strategis karena dianggap sebagai aset inti dalam alokasi jangka panjang, bukan hanya lindung nilai jangka pendek.