
DOYANDUIT – Memahami pergerakan harga komoditas produsen sangat penting, baik bagi pelaku usaha, pengambil kebijakan, maupun masyarakat umum yang ingin memantau stabilitas harga pangan.
Data per 21 Juli 2025 berdasarkan tabel harga Badan Pangan Nasional menunjukkan fluktuasi harga komoditas utama di tingkat produsen, yang mencerminkan dinamika pasar dan potensi pengaruhnya terhadap harga di tingkat konsumen.
Harga Gabah dan Beras: Stabilitas yang Terjaga
Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani hari ini tercatat sebesar Rp 6.767 per kilogram, menunjukkan kecenderungan stabil dibandingkan hari sebelumnya. Sementara itu, gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan berada di angka Rp 8.001 per kilogram.
Untuk beras, harga beras medium di penggilingan tercatat sebesar Rp 13.129, dan beras premium di penggilingan dihargai Rp 14.404 per kilogram. Kestabilan harga ini mencerminkan kondisi pasokan yang cukup memadai serta distribusi yang relatif lancar di tengah musim panen yang berlangsung di beberapa daerah.
Tren Harga Komoditas Hortikultura
Harga komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang menunjukkan dinamika yang cukup signifikan. Bawang merah per kilogram hari ini dibanderol seharga Rp 30.194, masih relatif tinggi namun tidak menunjukkan lonjakan ekstrem.
Sementara itu, berbagai jenis cabai mengalami variasi harga:
- Cabai merah keriting: Rp 22.443
- Cabai merah besar: Rp 24.875
- Cabai rawit merah: Rp 43.602
Harga cabai rawit merah tercatat sebagai yang tertinggi di antara komoditas hortikultura lainnya. Kenaikan harga ini biasanya dipicu oleh faktor cuaca yang memengaruhi hasil panen serta distribusi dari sentra produksi ke pasar.
Jagung, Kedelai, dan Gula Konsumsi
Jagung pipilan kering saat ini dihargai Rp 4.925 per kilogram, sedangkan kedelai biji kering lokal tercatat Rp 9.113 per kilogram. Kedua komoditas ini memiliki peran penting dalam industri pakan ternak dan pangan olahan, sehingga pergerakan harganya kerap diawasi oleh pelaku industri makanan dan peternakan.
Untuk komoditas gula konsumsi, harga di tingkat petani atau pabrik gula hari ini mencapai Rp 14.852 per kilogram, yang masih berada dalam kisaran harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini menunjukkan stabilisasi yang cukup baik menjelang musim giling kedua.
Daging dan Telur: Harga Hewani Masih Terjaga
Di sektor peternakan, harga sapi hidup berada di level Rp 52.181 per kilogram, sementara ayam ras pedaging hidup tercatat sebesar Rp 20.559. Harga ini mencerminkan kondisi pasokan yang tetap terkendali.
Adapun harga telur ayam ras mengalami sedikit kenaikan dan berada di angka Rp 25.195 per kilogram. Lonjakan ini masih dalam taraf wajar dan belum menunjukkan tanda gejolak yang signifikan.

Berikut adalah tabel harga rata-rata komoditas produsen nasional per 21 Juli 2025, dibandingkan dengan harga pada hari sebelumnya (20 Juli 2025):
| Komoditas | Harga (Rp/Kg atau Rp/Ekor) | Keterangan |
|---|---|---|
| Gabah Kering Panen (GKP) – Petani | 6.767 | Stabil |
| Gabah Kering Giling (GKG) | 8.001 | Stabil |
| Beras Medium – Penggilingan | 13.129 | Stabil |
| Beras Premium – Penggilingan | 14.404 | Stabil |
| Jagung Pipilan Kering | 4.925 | Cenderung stabil |
| Kedelai Biji Kering (Lokal) | 9.113 | Sedikit fluktuatif |
| Bawang Merah | 30.194 | Relatif tinggi |
| Cabai Merah Keriting | 22.443 | Turun tipis |
| Cabai Merah Besar | 24.875 | Cenderung naik |
| Cabai Rawit Merah | 43.602 | Tertinggi dari kelompok cabai |
| Sapi Hidup | 52.181 | Stabil pasca Iduladha |
| Ayam Ras Pedaging (Hidup) | 20.559 | Stabil |
| Telur Ayam Ras | 25.195 | Mengalami kenaikan ringan |
| Gula Konsumsi – Petani/Pabrik | 14.852 | Dalam kisaran HET |
Catatan: Harga merupakan rata-rata nasional dan bisa berbeda antar daerah sesuai kondisi lokal.
Secara keseluruhan, harga rata-rata komoditas produsen per 21 Juli 2025 menunjukkan pola yang relatif stabil dengan sedikit variasi di beberapa sektor hortikultura dan peternakan. Stabilitas ini penting dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan konsumen, serta menjaga kelancaran rantai pasok nasional.
Masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk terus mengikuti pembaruan harga melalui kanal resmi agar dapat mengambil keputusan ekonomi yang lebih tepat.