
DOYANDUIT – Bayaran Rp10.000 untuk sekali like dan follow di TikTok terdengar mudah, cepat, dan menggiurkan. Banyak orang tergoda karena tugasnya sederhana, tanpa aplikasi tambahan, dan komisi diklaim bisa cair langsung ke Dana, OVO, GoPay, atau rekening bank.
Namun berdasarkan pengalaman banyak korban pada tahun 2025, skema ini ternyata hanyalah modus penipuan dengan teknik pancingan psikologis.
Menurut konten kreator Mulyono Herlambang melalui kanal YouTubenya menjelaskan, penipu sengaja mengirim sedikit uang di awal agar korban percaya, lalu perlahan mengarahkan ke deposit yang lebih besar.
“Mereka berani keluar uang dulu supaya korban merasa sistemnya benar-benar membayar,” jelasnya.
Pada beberapa kasus, kerugian korban tidak main-main. Ada yang kehilangan ratusan ribu, bahkan puluhan juta rupiah karena terus diminta deposit tambahan dengan alasan “syarat penarikan”.
Bagaimana Modus Penipuan Ini Berjalan?
Modusnya selalu dimulai dari pesan WhatsApp tidak dikenal. Mereka mengaku berasal dari TikTok atau perusahaan digital besar seperti Shopee. Di tahap awal, isi pesannya terlihat profesional dan sangat meyakinkan.
1. Mengaku dari TikTok atau Shopee
Penipu memperkenalkan diri sebagai tim pemasaran yang mencari pekerja freelance untuk mempromosikan video.
Kalimat pembukanya biasanya seperti:
“Kami mencari pemasar media sosial untuk membantu promosi bisnis. Tugas Anda hanya like dan subscribe video. Komisi per tugas Rp10.000.”
Tawaran ini terasa realistis karena banyak orang sudah familiar dengan sistem micro-tasking di media sosial.
2. Korban Diberi Tugas dan Dibayar Beneran
Untuk memperkuat kepercayaan, mereka memberi link video TikTok, meminta bukti screenshot, lalu langsung mencairkan komisi Rp10.000–Rp40.000 ke Dana atau e-wallet lain.
Ini bagian yang paling berbahaya, karena korban berpikir sistem tersebut real dan legal.
📌 Tujuan mereka hanya satu: membuat korban yakin dan ingin terus mengerjakan lebih banyak tugas.
3. Korban Dimasukkan ke Grup Telegram
Setelah beberapa pembayaran kecil, korban diarahkan ke grup Telegram yang terlihat aktif. Grup ini biasanya menampilkan:
✅ bukti transfer
✅ testimoni palsu
✅ admin fast-response
✅ jadwal tugas harian
Namun, saat korban berhenti atau curiga, bukti transfer itu hilang. “Semua bukti tiba-tiba dihapus,” jelas Mulono dalam videonya. Grup dibuat hanya untuk menciptakan ilusi banyak orang berhasil mendapat komisi.
Ingin tahu modus penipuan lain berkedok aplikasi penghasil uang? Kamu bisa membaca salah satunya di sini.
4. Mulai Masuk ke Perangkap: Tugas Deposit
Setelah beberapa komisi cair, barulah penipuan sebenarnya dimulai.
Korban ditawari tugas tambahan dengan tulisan seperti:
👉 Deposit Rp198.000 menjadi Rp237.600
👉 Deposit Rp1.100.000 menjadi Rp1.320.000
👉 Bahkan ada tugas deposit Rp15 juta
Skema ini mirip “investasi cepat”. Sedikit masuk, dibayar dulu, agar korban percaya. Tapi setelah nominal besar dikirim, barulah uang korban hilang.
Penipu bahkan menggunakan logo OJK dan Bank Indonesia untuk membuat tampilan semakin meyakinkan.
5. Ketika Korban Deposit Besar, Uang Tidak Bisa Ditarik
Di sinilah banyak korban terjebak. Setelah mengirim uang jutaan rupiah, tiba-tiba:
❌ komisi tidak cair
❌ rekening penipu tidak bisa dihubungi
❌ korban diminta deposit lagi sebagai syarat penarikan
❌ grup Telegram berubah sunyi atau admin hilang
Penipu mempermainkan psikologis korban dengan alasan:
- saldo pending
- sistem error
- syarat penarikan belum terpenuhi
- limit perlu ditingkatkan
Saat korban sadar, uang sudah hilang dan penipu menghilang.
Kenapa Modus Ini Banyak Memakan Korban?
✅ 1. Ada Bukti Transfer di Awal
Korban merasa “kalau dibayar diawal, berarti aman”.
✅ 2. Tugasnya Sangat Mudah
Tidak perlu upload konten, hanya like dan follow.
✅ 3. Transfernya ke Dana atau rekening biasa
Membuatnya terlihat legal dan terpercaya.
✅ 4. Ada grup Telegram berisi ratusan orang
Padahal banyak anggotanya hanyalah bot atau akun palsu.
Berdasarkan pengalaman korban, penipu berani mengeluarkan uang kecil agar mendapatkan deposit lebih besar di akhir.

Ciri-Ciri Modus Like Video Dibayar yang Pasti Penipuan
✅ Mengaku dari TikTok tapi kontak via WhatsApp pribadi
✅ Meminta data pribadi seperti nomor rekening dan usia
✅ Menggunakan grup Telegram “resmi”
✅ Ada tugas deposit dengan janji keuntungan cepat
✅ Tampilkan logo OJK namun tidak terdaftar resmi
Menurut banyak pakar keamanan digital, tugas deposit adalah tanda paling jelas bahwa sistem itu scam. Tidak ada pekerjaan legal yang meminta pekerja menyetor uang untuk mendapatkan komisi.
Punya akun Dana atau OVO? Pelajari juga cara menghindari phising dan pencurian saldo agar tetap aman saat bertransaksi digital.
Tips agar Tidak Jadi Korban
- Jangan kirim foto, KTP, atau data pribadi
- Jangan tergoda setelah dibayar beberapa kali
- Jika harus deposit, tinggalkan
- Jangan klik link mencurigakan
- Cek legalitas perusahaan melalui situs resmi OJK
Jika kamu pernah tertipu, segera laporkan rekening ke call center bank dan layanan PPATK.
Contoh Real Kejadian
Dalam kasus Mulyono Herlambang, awalnya ia dibayar Rp10.000, lalu Rp40.000. Setelah itu barulah penipu mulai menawarkan sistem deposit hingga jutaan rupiah dan memaksa korban melakukan transfer terus menerus.
“Semakin banyak deposit, semakin kamu sulit menarik uang,” jelasnya. Ketika korban berhenti, semua akses dan bukti transfer dihapus oleh admin grup.
Kesimpulan
Penipuan like video TikTok dibayar Rp10 ribu adalah salah satu modus digital paling rapi pada tahun 2025. Skemanya sederhana: korban diberi komisi kecil untuk membangun kepercayaan, lalu diarahkan ke tugas deposit. Ketika uang besar sudah terkirim, penipu menghilang.
Dengan memahami cara kerja penipuan ini, kamu bisa lebih berhati-hati dan membantu orang lain agar tidak menjadi korban berikutnya. Keputusan cerdas dimulai dari mengenali tanda-tanda awal penipuan.