Bitcoin Gagal Tembus USD 90.000, Pasar Kripto Tertekan Sentimen AI dan Data Inflasi AS

18 Desember 2025 10:00
Bagikan :
Grafik Bitcoin-USD 18 Desember 2025. (TradingView)

Harga Bitcoin kembali berada di bawah tekanan dan bergerak turun mendekati area USD 86.000 pada Kamis pagi waktu Asia. Pelemahan ini terjadi seiring dibukanya pasar Asia dengan sentimen yang cenderung defensif, memperpanjang gelombang risk-off yang sebelumnya menekan saham teknologi di Wall Street.

Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin tercatat berada di kisaran USD 86.500–86.700, turun sekitar 1 persen secara harian. Secara mingguan dan bulanan, koreksi masih terasa lebih dalam, mencerminkan pasar yang belum menemukan pijakan kuat setelah reli besar di paruh pertama tahun.

Tekanan terhadap Bitcoin tidak berdiri sendiri. Saat investor global mengurangi eksposur pada aset berisiko tinggi, kripto kerap menjadi salah satu instrumen yang terdampak lebih cepat.

Gambaran Singkat Pasar Kripto Hari Ini

Kondisi pasar kripto secara umum menunjukkan pelemahan yang relatif merata. Berdasarkan pantauan pergerakan terkini:

  • Bitcoin (BTC): sekitar USD 86.500, turun ±1,1%
  • Ether (ETH): sekitar USD 2.830, turun ±4,2%
  • XRP: sekitar USD 1,86, turun ±3,7%
  • Total kapitalisasi pasar kripto: mendekati USD 3 triliun, turun sekitar 1,5%

Penurunan ini mencerminkan sentimen hati-hati investor yang masih menunggu kejelasan arah kebijakan moneter dan prospek pertumbuhan ekonomi global.

Tekanan Datang dari Saham Teknologi dan Isu Valuasi AI

Salah satu pemicu utama pelemahan kripto adalah koreksi tajam di pasar saham Amerika Serikat, khususnya sektor teknologi. Indeks Nasdaq 100 tercatat turun hampir 2 persen, sementara indeks S&P 500 melemah hingga ke level terendah dalam tiga pekan terakhir.

Saham-saham unggulan di sektor kecerdasan buatan (AI) menjadi sorotan. Penurunan signifikan pada saham produsen chip dan perusahaan teknologi besar memicu pertanyaan baru: apakah valuasi tinggi di sektor AI masih sebanding dengan potensi keuntungan jangka panjangnya?

Kekhawatiran ini semakin kuat setelah muncul laporan tentang tertundanya pendanaan proyek pusat data bernilai besar, serta meningkatnya biaya ekspansi infrastruktur AI. Ketika optimisme terhadap AI sedikit meredup, aset berisiko lain seperti kripto ikut terkena imbasnya.

Struktur Pasar Bitcoin Masih Rapuh

Dari sisi teknikal dan arus dana, pasar Bitcoin saat ini belum menunjukkan tanda pemulihan yang solid. Beberapa analis menilai struktur pasar di bawah harga sekarang masih relatif lemah.

Seorang analis riset kripto menyampaikan bahwa minat beli belum muncul dalam skala besar, terutama dari sisi arus masuk ETF Bitcoin. “Ketika aliran dana cenderung ringan, pasar menjadi lebih rentan terhadap perubahan sentimen,” ujarnya dalam sebuah pernyataan analitis.

Ia juga menambahkan bahwa kekhawatiran makro, mulai dari suku bunga hingga ketidakpastian pertumbuhan global, memperberat upaya Bitcoin untuk bangkit dengan cepat.

Level Support dan Resistance yang Perlu Dicermati

Dalam kondisi pasar seperti ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada level teknikal kunci. Berdasarkan pergerakan terbaru, beberapa area penting yang perlu diperhatikan antara lain:

Support jangka pendek:

  • USD 85.500
  • USD 85.250
  • USD 85.000

Jika tekanan jual berlanjut dan level tersebut ditembus, support berikutnya berada di area USD 84.200 hingga USD 83.500.

Resistance terdekat:

  • USD 86.800
  • USD 87.350
  • USD 87.800

Penutupan harga yang stabil di atas USD 87.800 berpotensi membuka jalan menuju USD 88.000 hingga USD 89.200. Namun, area USD 90.000 masih menjadi penghalang psikologis yang cukup kuat bagi pergerakan naik.

Pasar Menunggu Data Inflasi AS

Selain sentimen saham teknologi, perhatian investor kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat. Data indeks harga konsumen (CPI) diperkirakan akan memengaruhi ekspektasi suku bunga hingga akhir tahun.

Komentar pejabat bank sentral AS belakangan ini menunjukkan sikap yang cenderung berhati-hati. Imbal hasil obligasi tenor menengah mengalami kenaikan tipis, mencerminkan pasar yang masih menimbang risiko inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Bagi Bitcoin dan pasar kripto, data inflasi ini bisa menjadi penentu arah jangka pendek: apakah harga mampu stabil di level saat ini atau justru kembali menguji support yang lebih rendah.

Konsolidasi Harga, Sinyal Tunggu dan Lihat

Secara teknikal, Bitcoin saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah gagal menembus area USD 90.000. Pergerakan harga yang cenderung datar namun berat ke bawah menunjukkan pasar masih dalam mode “tunggu dan lihat”.

Dalam situasi seperti ini, pendekatan konservatif sering kali lebih relevan, terutama bagi investor ritel. Mengamati reaksi harga di level kunci dan mencermati perkembangan makro bisa membantu mengurangi keputusan emosional.

 

 

Pelemahan harga Bitcoin ke area USD 86.000 mencerminkan kombinasi tekanan global, mulai dari koreksi saham teknologi, kekhawatiran valuasi AI, hingga sikap hati-hati menjelang rilis data inflasi AS.

Struktur pasar yang belum kuat membuat pergerakan naik masih terbatas, sementara risiko penurunan tetap terbuka jika support penting gagal bertahan.

Berita Terbaru
bos paud ra kemenag
Panduan Lengkap Pengisian Dokumen Ajuan BOP RA Tahap 2 Tahun 2026 agar Cepat Diverifikasi
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah