
DOYANDUIT – Harga Bitcoin (BTC) bergerak menguat pada perdagangan Asia, Rabu pagi waktu setempat. Berdasarkan data pasar, BTC diperdagangkan di kisaran US$87.000, naik hampir 2 persen dalam 24 jam terakhir.
Pergerakan ini terjadi saat pelaku pasar mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat (Consumer Price Index/CPI) yang dijadwalkan keluar dalam waktu dekat.
Dalam 100 hari terakhir, volatilitas Bitcoin cenderung meningkat. Secara mingguan, BTC masih terkoreksi lebih dari 5 persen, sementara dalam enam bulan terakhir pelemahannya mencapai dua digit. Namun penguatan jangka pendek ini memberi sinyal bahwa minat beli masih bertahan, terutama dari investor yang bersikap oportunistis.
Menurut Akshat Siddhant, analis kuantitatif utama di Mudrex, rendahnya cadangan Bitcoin di bursa menjadi faktor penopang harga.
“Cadangan Bitcoin di exchange berada di level terendah sepanjang sejarah. Kondisi ini memberi keunggulan bagi pembeli, meski pasar masih dibayangi ketidakpastian makro,” ujarnya seperti dikutip dari cryptonews.com.
Ia menambahkan, jika momentum bertahan, Bitcoin berpeluang menguji area US$90.000, dengan zona dukungan bergerak naik di kisaran US$86.000.
Sentimen Saham Asia dan Dampaknya ke Pasar Kripto
Penguatan Bitcoin berjalan seiring dengan membaiknya sentimen saham Asia. Bursa Korea Selatan dan Hong Kong mencatat kenaikan moderat, dipimpin saham teknologi berkapitalisasi besar.
Kembalinya minat pada sektor teknologi dan kecerdasan buatan turut menular ke aset berisiko, termasuk kripto.
Di sisi lain, pasar saham Amerika Serikat bergerak beragam. Nasdaq ditutup menguat, sementara Dow Jones dan S&P 500 melemah akibat tekanan di sektor kesehatan dan energi. Investor menilai data ekonomi AS yang tertunda masih cukup memberi arah, meski belum sepenuhnya konklusif.
Dalam konteks ini, Bitcoin kembali diperlakukan sebagai aset alternatif yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga. Harapan pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026 menjadi katalis penting yang terus dipantau pasar.
Data Ketenagakerjaan AS Belum Redakan Kekhawatiran
Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan penambahan lapangan kerja yang relatif terbatas, disertai kenaikan tingkat pengangguran. Data penjualan ritel yang stagnan turut memperkuat perdebatan soal apakah pertumbuhan ekonomi AS mulai melambat signifikan.
Nic Puckrin, analis investasi dan salah satu pendiri Coin Bureau, menilai tekanan akhir tahun juga datang dari aksi tax-loss selling.
“Banyak investor Bitcoin masih berada dalam posisi rugi. Tekanan jual ini bisa berlanjut hingga akhir 2025,” katanya.
Ia menyebut area US$83.800 sebagai titik penting berdasarkan biaya rata-rata ETF, dengan dukungan lanjutan di sekitar US$81.200.
Bitcoin Sulit Tembus Resistensi, Kekhawatiran Koreksi Menguat
Meski sempat menguat, Bitcoin masih kesulitan menembus resistensi utama di area US$94.000. Selama lebih dari sebulan, pergerakan harga tertahan dalam rentang lebar US$85.000–US$93.000.
Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa pasar sedang membangun fase distribusi. Sejumlah analis melihat potensi koreksi lanjutan jika sentimen makro memburuk atau data inflasi kembali memicu kebijakan moneter ketat.
Seorang analis pasar kripto dengan nama akun NoLimit di platform X bahkan memproyeksikan skenario ekstrem. Ia memperkirakan Bitcoin bisa menyentuh area US$40.000 pada 2026, atau turun lebih dari 50 persen dari level saat ini.
Siklus Empat Tahunan Bitcoin dan Pola Koreksi Besar
Menurut NoLimit, Bitcoin bergerak dalam siklus empat tahunan yang dipengaruhi likuiditas, leverage, dan perilaku manusia, bukan sekadar sentimen sesaat.
Ia menjelaskan tiga fase utama dalam siklus kenaikan Bitcoin:
- Lonjakan harga pasca peristiwa halving
- Masuknya leverage tinggi dan pembeli di fase akhir
- Koreksi tajam sebelum siklus berikutnya dimulai
Secara historis, fase koreksi ini selalu signifikan. Bitcoin pernah turun sekitar 85 persen pada 2013–2014, 84 persen pada 2017–2018, dan 77 persen pada siklus 2021–2022. Menariknya, setiap fase selalu diawali keyakinan bahwa “kali ini berbeda”.
Pandangan ini memang terkesan konservatif, namun memberi konteks penting bagi investor agar tidak hanya terpaku pada pergerakan jangka pendek.
US$40.000 sebagai Fondasi Reli Berikutnya?
Bagi NoLimit, potensi penurunan ke area US$40.000 bukanlah bencana, melainkan bagian dari proses alami pasar. Zona tersebut dinilai selaras dengan:
- Area resistensi lama yang berubah menjadi dukungan
- Rata-rata pergerakan jangka panjang
- Celah likuiditas yang terbentuk pasca persetujuan ETF
Penurunan besar, jika terjadi, diyakini dapat “membersihkan” leverage berlebih dan menjadi fondasi bagi reli berikutnya. Perspektif ini sering dipegang investor berpengalaman yang terbiasa menghadapi volatilitas ekstrem kripto.
Pandangan Optimistis dari Grayscale untuk 2026
Di tengah kekhawatiran koreksi, nada berbeda datang dari laporan outlook terbaru Grayscale. Manajer aset kripto tersebut memperkirakan Bitcoin berpeluang mencetak rekor tertinggi baru pada paruh pertama 2026.
Grayscale mengaitkan proyeksi ini dengan meningkatnya permintaan aset lindung nilai dan kejelasan regulasi di Amerika Serikat. Persetujuan produk ETF Bitcoin spot sejak 2024 serta pengesahan GENIUS Act pada 2025 dinilai menurunkan hambatan masuk bagi investor institusional besar.
Selain Bitcoin, laporan tersebut juga menyoroti pertumbuhan stablecoin, tokenisasi aset, serta perluasan penggunaan staking dan DeFi di kalangan institusi.
Data On-Chain: Investor Memilih Bertahan, Bukan Agresif
Sementara itu, data dari kelompok analitik on-chain Glassnode menunjukkan sikap pasar yang cenderung berhati-hati. Dalam tiga bulan terakhir, sebagian besar sektor kripto mencatat kinerja di bawah Bitcoin, menandakan konsentrasi modal masih bertahan di BTC.
Namun dominasi Bitcoin tidak sepenuhnya mencerminkan keyakinan kuat. Rotasi ke Ether dan melemahnya pemulihan pasca deleveraging menunjukkan investor lebih memilih bertahan daripada mengambil posisi agresif baru.
Optimisme dan Risiko Berjalan Beriringan
Bitcoin saat ini berada di persimpangan penting. Di satu sisi, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan adopsi institusional memberi ruang kenaikan lanjutan. Di sisi lain, sejarah siklus dan tekanan makro mengingatkan bahwa koreksi besar bukan hal mustahil.
Dengan memahami dinamika ini, kamu bisa menilai risiko secara lebih rasional dan menyesuaikan strategi investasi sesuai profil masing-masing.
Pendekatan seimbang antara optimisme dan kewaspadaan sering kali menjadi kunci bertahan di pasar kripto yang penuh kejutan.