Bitcoin Tertekan ke Area USD 82.000, Likuidasi Jumbo dan Isu The Fed Picu Kewaspadaan Pasar Kripto

30 Januari 2026 10:00
Bagikan :
Grafik pergerakan harga BTC/USD 30 Januaro 2026. (TradingView)

DOYANDUIT – Harga Bitcoin kembali tertekan dan sempat turun ke kisaran USD 82.000 saat perdagangan Asia dibuka. Dalam 24 jam, koreksi mendekati 7 persen, memperpanjang fase volatilitas yang sudah terasa sejak awal pekan.

Berdasarkan data pasar terbaru tahun 2026, pelemahan ini terjadi di tengah kombinasi sentimen makro dan teknikal.

Salah satu pemicunya datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mendukung kesepakatan bipartisan untuk mencegah penutupan pemerintah, sekaligus mengisyaratkan keputusan soal calon pimpinan bank sentral AS berikutnya.

Di saat yang sama, pasar kripto menghadapi tekanan internal berupa likuidasi besar-besaran. Kondisi ini membuat pergerakan harga semakin sensitif terhadap kabar politik dan ekonomi global.

Likuidasi Jumbo Menekan Posisi Long

Tekanan harga Bitcoin diperparah oleh gelombang forced liquidation di pasar derivatif kripto. Data agregat menunjukkan total likuidasi mencapai sekitar USD 1,75 miliar hanya dalam satu hari.

Rincian Likuidasi 24 Jam:

  • Posisi long: ± USD 1,65 miliar

  • Posisi short: ± USD 105 juta

  • Jumlah trader terdampak: lebih dari 276 ribu akun

Bitcoin menjadi aset dengan likuidasi terbesar, mendekati USD 826 juta. Ethereum menyusul dengan sekitar USD 428 juta, sementara XRP dan Solana juga mencatat tekanan puluhan juta dolar.

Komposisi ini memberi gambaran jelas bahwa pasar sebelumnya terlalu berat di sisi optimistis. Ketika harga bergerak turun, posisi berleverage tinggi terpaksa ditutup secara berantai.

Secara editorial, situasi ini menegaskan kembali risiko leverage berlebih. Keuntungan bisa datang cepat, tetapi kerugian juga bisa terjadi dalam hitungan menit.

Pasar Saham Global Ikut Mengirim Sinyal Waspada

Nada hati-hati tidak hanya muncul di kripto. Bursa saham global bergerak tidak seragam, dengan indeks saham Asia Pasifik di luar Jepang melemah tipis. Kontrak berjangka indeks saham AS juga turun, mencerminkan kehati-hatian investor.

Dari Wall Street, tekanan datang setelah laporan kinerja emiten teknologi besar memunculkan keraguan soal efektivitas belanja kecerdasan buatan. Sektor teknologi tertinggal, meski sebagian saham berhasil bertahan berkat prospek pendapatan yang masih solid.

Kondisi ini menurunkan risk appetite global. Dalam situasi seperti ini, aset berisiko—termasuk kripto—cenderung lebih mudah tertekan.

Zona Support Menahan Tekanan Lebih Dalam

Meski tertekan, Bitcoin belum kehilangan semua pijakan. Minat beli terlihat muncul di atas area USD 80.700–83.400, yang untuk sementara berfungsi sebagai zona penahan.

Pantulan dari area ini memberi “napas” bagi pasar. Namun, banyak analis menilai bahwa pemulihan berkelanjutan tidak cukup ditopang harga semata. Fokus kini beralih ke indikator likuiditas dan data on-chain.

Likuiditas dan Data On-Chain Jadi Kunci

Sejumlah analis on-chain menyoroti kondisi suplai Bitcoin yang relatif ketat. Sekitar 22 persen Bitcoin yang beredar saat ini berada di bawah harga belinya. Angka ini cukup besar dan berpotensi memicu tekanan jual tambahan jika level support penting jebol.

Firma analitik Glassnode menekankan pentingnya indikator berbasis likuiditas. Dalam sebuah analisis, mereka menyatakan bahwa pemulihan pasar yang sehat biasanya tercermin pada indikator sensitif likuiditas, bukan sekadar lonjakan harga sesaat.

“Transisi menuju reli pasar yang kuat umumnya ditandai oleh meningkatnya indikator likuiditas, seperti rasio laba/rugi terealisasi,” tulis analis Glassnode dalam catatan pasar di x.com.

Indikator yang Sedang Dipantau:

  • Realized Profit/Loss Ratio (rata-rata 90 hari)

  • Ambang historis di kisaran 5

  • Kenaikan berkelanjutan di atas level ini sering menandai masuknya arus modal baru

Selama indikator tersebut belum menguat, reli harga cenderung rapuh dan mudah dipangkas oleh aksi ambil untung.

Arus ke Bursa Masih Rendah

Salah satu faktor yang sedikit meredam risiko penurunan adalah rendahnya arus Bitcoin ke bursa. Data bulanan menunjukkan aliran BTC ke bursa utama berada jauh di bawah rata-rata jangka panjang.

Hal ini mengindikasikan banyak pemegang memilih menyimpan koin di luar bursa, bukan menyiapkannya untuk dijual.

Kondisi tersebut memang mengurangi tekanan jual langsung, meski belum tentu menjamin masuknya pembeli baru dalam jumlah besar.

Futures dan Potensi “Liquidity Grab”

Di pasar futures dan opsi, posisi leverage terlihat menumpuk di area USD 90.000-an awal. Klaster posisi seperti ini sering memicu pergerakan cepat yang dikenal sebagai liquidity grab.

Pergerakan semacam ini biasanya:

  • Terjadi cepat dan volatil

  • Memberi kesan breakout

  • Sering diikuti konsolidasi atau koreksi di pasar spot

Trader jangka pendek kerap memanfaatkan momen ini, sementara investor jangka menengah cenderung menunggu konfirmasi yang lebih solid.

Washington Kembali Dorong Aturan Kripto

Dari sisi kebijakan, Washington kembali mencoba membuka jalan bagi aturan kripto tingkat federal. Pemerintah AS dijadwalkan mempertemukan pimpinan bank dan perusahaan kripto dalam satu forum resmi.

Pertemuan ini bertujuan meredakan kebuntuan pembahasan rancangan aturan yang dikenal sebagai CLARITY Act. Isu utama berkisar pada stablecoin, fitur imbal hasil, dan batas tegas antara aset kripto dan simpanan perbankan.

Perbedaan Pandangan yang Mencuat

Pihak perbankan:

  • Menginginkan pembatasan agar token tidak menyerupai deposito

  • Khawatir dana nasabah berpindah dari sistem perbankan

Pihak industri kripto:

  • Menilai pembatasan terlalu ketat menghambat inovasi

  • Menyebut imbal hasil sebagai fitur yang diharapkan pengguna

Tarik-menarik ini membuat pasar bereaksi naik-turun terhadap setiap kabar baru. Banyak pelaku pasar menilai kejelasan aturan akan berdampak positif dalam jangka panjang, meski prosesnya penuh dinamika.

Pasar Masih Mencari Arah

Penurunan harga Bitcoin ke area USD 82.000 mencerminkan tekanan berlapis: likuidasi besar, melemahnya selera risiko global, serta ketidakpastian kebijakan moneter dan regulasi.

Dalam jangka pendek, volatilitas kemungkinan masih tinggi. Namun, banyak analis sepakat bahwa penguatan likuiditas dan kejelasan aturan akan menjadi fondasi utama bagi pemulihan yang lebih berkelanjutan.

Bagi pembaca, memahami konteks ini membantu melihat pergerakan Bitcoin secara lebih utuh—bukan sekadar grafik naik-turun, tetapi sebagai cerminan dinamika ekonomi dan politik global yang terus berkembang.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050