
DOYANDUIT – Death Cross kembali muncul pada 16 November 2025 ketika moving average 50 hari Bitcoin turun melewati MA 200 hari, sebuah sinyal teknikal yang secara historis dianggap bearish.
Pada saat sinyal ini muncul, harga Bitcoin berada di sekitar USD 93.646, menembus bawah level USD 94.000 untuk pertama kalinya sejak Mei.
Berdasarkan performa 1 minggu terakhir, BTC anjlok lebih dari 9%, memperpanjang koreksi sebulan terakhir yang sudah menembus –10%. Indeks Fear & Greed turun ke level 10, menandakan ketakutan ekstrem yang jarang terjadi.
Namun, perlu dicatat:
Death Cross tidak selalu berarti kejatuhan jangka panjang. Menurut data historis, justru banyak Death Cross yang terjadi sangat dekat dengan titik dasar harga (local bottom).
Death Cross sering muncul ketika pasar sedang sangat takut, dan kondisi seperti ini justru sering mendahului pembalikan arah yang kuat.
Harga Bitcoin (BTCUSD) di bursa Bitstamp pagi ini berada di USD 94.891, naik USD 704 atau sekitar +0,75% per pukul 08:49 GMT+7.
Dalam 24 jam terakhir, BTC mencatat kenaikan 0,79%, meski secara mingguan masih terkoreksi –9,31%. Secara bulanan, pelemahan semakin terasa dengan penurunan –10,83%, dan dalam enam bulan terakhir total koreksi mencapai –11,18%.
Menariknya, meskipun volatil di jangka pendek, performa Bitcoin tahun ini masih positif 1,70%, dan jika ditarik setahun ke belakang, BTC tetap mencatat pertumbuhan 4,74%.
Angka ini menunjukkan bahwa tekanan pasar yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir belum sepenuhnya menghapus tren naik jangka panjang.
Apa Itu Death Cross dan Mengapa Penting di Siklus Bitcoin 2025?
Death Cross adalah kondisi ketika pergerakan harga jangka pendek melemah, sehingga kurva MA-50 turun melewati MA-200. Dalam konteks Bitcoin 2025, sinyal ini muncul di tengah sentimen negatif:
- Penjualan besar dari investor whale
- Arus keluar spot ETF yang meningkat
- Dampak shutdown pemerintah AS selama 43 hari
- Ketidakpastian kebijakan baru di era pemerintahan Donald Trump
Meskipun kondisi makro tidak ideal, para analis sepakat bahwa Death Cross bukan indikator tunggal penentu tren jangka panjang.
Kinerja Historis: Rugi Jangka Pendek, Untung Jangka Menengah
Data dari analis on-chain dan trader veteran memperlihatkan pola menarik:
1–3 Minggu Setelah Death Cross
- Peluang naik/turun 50:50
- Median return: 0,25–2,35% positif, meski volatilitas tinggi
2–3 Bulan Setelah Death Cross
- Rata-rata imbal hasil 15–26%, menunjukkan kecenderungan pemulihan kuat
12 Bulan Kemudian
- Hasil bervariasi tergantung siklus
- Beberapa tahun: BTC naik lebih 85%
- Tahun lainnya: turun signifikan karena tekanan makro
Menurut analis cypto reseacher Rekt Fencer, “Death Cross justru sering menjadi penanda dasar harga, bukan puncak. Itu sebabnya banyak bounce besar muncul tidak lama setelah sinyal ini muncul.”
Posisi Bitcoin Saat Ini: Tekanan Dumping OG Whales
Penurunan aktual BTC ke level USD 93.029 pada akhir pekan membuat Bitcoin sempat menghapus seluruh keuntungan year-to-date. Tekanan tambahan datang dari:
- Aksi jual dari OG Bitcoiners
- Profit taking pada akhir bull run
- Perlambatan momentum ETF Bitcoin
- Penguatan dolar AS akibat kebijakan fiskal Trump
Namun, menurut analis dari Glassnode, narasi “OG Whales Dumping” tidak sepenuhnya akurat. Mereka menyebut:
“Ini adalah pola normal bull market. Investor lama mendistribusikan aset secara bertahap, bukan keluar secara panik.”
Bitcoin bukan satu-satunya aset yang melemah. Ether (ETH) dan Solana (SOL) juga terkoreksi masing-masing –7,95% dan –28,3% sejak awal 2025.

Level Penting yang Wajib Dipantau Investor BTC
Level Support Besar
- Zona USD 60.000–70.000 berpotensi menjadi lantai kuat jika tekanan jual meningkat.
Sinyal Bullish Penting
- Harga kembali di atas MA-200
- Candle harian menutup stabil di atas USD 95.000
Batas Waktu Bounce
Analis Benjamin Cowen menyebut bahwa pasar punya waktu sekitar 7 hari untuk memantul. Jika tidak, ada risiko penurunan lanjutan sebelum fase pemulihan besar.
Indikator Lebih Penting: MA 50-Week
Beberapa analis menilai MA 50 minggu lebih akurat dalam memprediksi arah jangka panjang dibanding Death Cross harian.
Siklus Empat Tahunan: Masih Relevan atau Sudah Berubah?
Meski institusi makin masuk dan regulasi semakin stabil, banyak trader mempertanyakan apakah pola empat tahunan Bitcoin masih berlaku.
Matt Hougan dari Bitwise menegaskan:
“Fundamental Bitcoin terlalu kuat untuk ditekan lebih lama. Saya melihat 2026 sebagai tahun eksplosif.”
Ia menyebut tiga katalis utama:
- adopsi treasury korporat
- pertumbuhan stablecoin
- tokenisasi aset dan DeFi generasi baru
Ringkasan Dampak Death Cross
| Periode Setelah Death Cross | Efek ke Harga BTC | Catatan Utama |
|---|---|---|
| 1–3 minggu | Mixed | Volatil, peluang naik 50% |
| 2–3 bulan | +15–26% | Potensi recovery kuat |
| 12 bulan | Bervariasi | Dipengaruhi kondisi makro |
| Siklus bull | Sering jadi local bottom | Potensi all-time high baru |
| Siklus bear | Koreksi singkat | Jarang bertahan lama |
Sinyal Perhatian, Bukan Panik
Death Cross memang membuat pasar crypto tertekan, tetapi sejarah menunjukkan bahwa Bitcoin sering pulih kuat setelah sinyal ini muncul. Tahun 2025 penuh dinamika politik, ekonomi, dan regulasi, namun fundamental jangka panjang BTC tetap solid.
Dengan memahami pola historis, level teknikal, dan konteks makro, kamu bisa mengambil keputusan lebih cerdas—baik sebagai trader harian maupun investor jangka panjang.