Deretan Saham Konglomerat Paling Moncer di 2025, Lonjakan Fantastis Warnai Bursa

25 Desember 2025 11:00
Bagikan :
Saham-saham grup konglomerat mencatatkan lonjakan tajam sepanjang 2025 di tengah dinamika pasar. (DoyanDuit)

DOYANDUIT – Saham-saham yang terafiliasi dengan kelompok konglomerat kembali mencuri perhatian di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2025. Di tengah aksi korporasi, restrukturisasi bisnis, serta rencana ekspansi jangka menengah, sejumlah emiten mencatatkan lonjakan harga saham yang signifikan secara year to date (YTD).

Berdasarkan data perdagangan intraday pada Rabu, 24 Desember 2025, beberapa saham mencatatkan kenaikan ratusan hingga ribuan persen. Pergerakan ini terjadi di berbagai sektor, mulai dari perhotelan, perkebunan, properti, teknologi, hingga energi.

Menurut pelaku pasar, kenaikan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan dipicu kombinasi sentimen fundamental, aksi korporasi, dan ekspektasi ekspansi usaha ke depan.

Saham Perhotelan dan Perkebunan Catat Kenaikan Ekstrem

Saham perhotelan dan resor PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) yang berada dalam kelompok usaha Haji Isam menjadi salah satu perhatian investor. Di sektor perkebunan sawit, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) mencatatkan kenaikan 2.170,05% YTD ke level Rp9.725 per saham.

Kinerja serupa juga terlihat pada PT John Agraya Tbk (JARR) yang menguat 912,9% ke harga Rp3.140 per saham. Lonjakan tajam ini mencerminkan tingginya minat pasar terhadap emiten berbasis sumber daya alam dan agribisnis.

Kelompok Happy Hapsoro Dominasi Daftar Saham Teratas

Kelompok usaha Happy Hapsoro mendominasi daftar saham berkinerja tinggi sepanjang 2025. Beberapa emiten yang menonjol antara lain:

  • PT Mina Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) naik 1.050% YTD
  • PT Red Planet Indonesia Tbk (PSKT) menguat 681,25%
  • PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) meningkat 623,4%

Di sektor properti, PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RAIS) yang dikendalikan keluarga Tanoko mencatatkan kenaikan 765,85% YTD ke level Rp8.875 per saham, seiring rencana penambahan modal dan peluncuran proyek baru pada 2026.

Saham Teknologi dan Telekomunikasi Ikut Menguat

Dari sektor teknologi dan telekomunikasi, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) yang berada dalam konsorsium Hasyim Jojo Hadikusumo melonjak 709,76% YTD. Pasar menilai emiten ini sebagai salah satu pemain disruptif di industri telekomunikasi nasional.

Sementara itu, saham teknologi lain seperti PT GTS Internasional Tbk (GTSI) milik Grup Hampes menguat 490,91% YTD, menunjukkan kuatnya minat investor terhadap sektor berbasis data dan teknologi digital.

Konglomerat Lama Kembali Unjuk Gigi

Saham-saham milik konglomerat lama juga kembali menunjukkan performa impresif. Emiten rumah sakit PT Sejahtera Raya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) milik Grup Mayapada naik 594,92% YTD.

Di sektor tambang emas, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang berada di bawah Grup Rajawali menguat 593,55%, didukung sentimen positif dari kenaikan harga emas dunia.

Kelompok Bakrie turut mencatatkan penguatan melalui:

  • PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) naik 543,48% YTD
  • PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) melonjak 507,69%

Sementara itu, emiten data center PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang dikendalikan konsorsium Toto Sugiri dan Antoni Salim naik 456,24% ke level Rp234.175 per saham. Emiten lain dari Grup Djarum, PT Remala Abadi Tbk, juga menguat 431,61%.

Grup Barito Ikut Mencatat Kinerja Positif

Saham-saham dari Grup Barito besutan Prajogo Pangestu turut mencatatkan kenaikan sepanjang 2025. PT Petrosea Tbk (PTRO) melonjak 275,1% ke level Rp10.300 per saham, sementara PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menguat 247,83%.

Pergerakan saham-saham ini menunjukkan bahwa sentimen positif tidak hanya terkonsentrasi pada emiten baru, tetapi juga pada perusahaan dengan rekam jejak panjang di pasar modal.

IHSG Melemah Jelang Libur Natal

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup melemah menjelang libur panjang Natal 2025. IHSG berakhir di level 8.537,91, turun pada akhir perdagangan Rabu, setelah sempat rebound ke level di 8.611,33.

Sektor dengan penguatan tertinggi meliputi:

  • Layanan Konsumen 2,89%
  • Komunikasi 1,09%
  • Layanan Kesehatan 0,28%

Adapun sektor dengan pelemahan terdalam adalah:

  • Mineral Non Energi -2,28%
  • Utilitas -1,28%
  • Mineral Energi -1,19%

 

Saham Big Caps Jadi Pemberat IHSG

Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Rabu, 24 Desember 2025 tidak terlepas dari kinerja saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang bergerak melemah atau stagnan. Sejumlah emiten unggulan mencatatkan koreksi harga dan menjadi faktor utama penahan laju indeks.

Beberapa saham big caps yang tercatat memberikan tekanan terhadap IHSG antara lain:

  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) ditutup di level Rp9.325, melemah 1,06%.

  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berada di harga Rp104.100, turun 0,98%.

  • PT DCI Indonesia Tbk (DCII) ditutup melemah 2,70% ke level Rp228.800.

  • PT Bayan Resources Tbk (BYAN) terkoreksi 1,11% ke harga Rp15.650.

  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turun 2,36% ke level Rp6.200.

  • PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) melemah 0,29% dan ditutup di Rp3.460.

  • PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatatkan koreksi terdalam dengan penurunan 4,57% ke harga Rp3.130 per saham.

Sementara itu, sejumlah saham perbankan besar tercatat bergerak stagnan tanpa perubahan harga, antara lain:

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di level Rp8.025.

  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) di harga Rp3.770.

  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) bertahan di Rp5.050.

  • PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ditutup stabil di Rp7.000.

Pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar tersebut menunjukkan bahwa tekanan IHSG pada akhir perdagangan lebih dipengaruhi oleh koreksi selektif pada saham unggulan, seiring aksi ambil untung investor menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru.

Kebijakan Bea Keluar Emas Jadi Sentimen Domestik

Dari dalam negeri, sentimen datang dari kebijakan pemerintah terkait ekspor emas. Menteri Keuangan Yuliot T. Sadewa menetapkan tarif bea keluar emas melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 80 Tahun 2025.

Kebijakan ini berlaku mulai 23 Desember 2025, setelah ditetapkan pada 17 November 2025, dengan tujuan mendukung program hilirisasi mineral, khususnya emas, sambil menjaga keberlangsungan usaha pertambangan.

Dalam aturan tersebut, tarif bea keluar emas ditentukan berdasarkan harga referensi dan jenis emas yang diekspor:

  • Harga referensi USD 2.800โ€“<3.200 per troy ons: tarif 7,5%โ€“12,5%
  • Harga โ‰ฅ USD 3.200 per troy ons: tarif naik menjadi 10%โ€“15%

Ekonomi Amerika Serikat Tumbuh Kuat

Dari global, ekonomi Amerika Serikat mencatatkan ekspansi tercepat dalam dua tahun terakhir pada kuartal III 2025. Berdasarkan laporan Bureau of Economic Analysis, produk domestik bruto (PDB) riil AS tumbuh 4,3% secara tahunan, melampaui pertumbuhan 3,8% pada periode sebelumnya.

Pertumbuhan ini didorong oleh ketangguhan konsumsi rumah tangga, belanja dunia usaha, serta kebijakan perdagangan yang mulai stabil.

Meski sempat tertunda akibat penghentian operasional pemerintah, data tersebut menunjukkan ekonomi AS masih menjaga momentum hingga pertengahan 2025.

Dengan kombinasi sentimen domestik dan global tersebut, pasar saham Indonesia menghadapi dinamika yang kompleks.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050