
DOYANDUIT – Setelah melewati tekanan cukup panjang sejak awal tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai mulai memasuki fase yang menarik untuk dicermati investor.
Bukan karena pasar sudah sepenuhnya pulih, melainkan muncul indikasi bahwa proses pembentukan dasar (bottoming process) mulai terbentuk sebelum memasuki tren berikutnya.
Pandangan tersebut disampaikan Dr. Gema Goeyardi, trader, analis keuangan, sekaligus pendiri Astronacci International, dalam video terbaru yang diunggah melalui kanal YouTube Astronacci International.
Menggunakan pendekatan Time Trading, ia memproyeksikan IHSG masih memiliki peluang bergerak menuju area 6.700 pada semester II 2026 apabila skenario akumulasi berjalan sesuai analisis teknikalnya.
Perlu dipahami, seluruh target maupun level harga dalam artikel ini merupakan proyeksi berdasarkan analisis teknikal Astronacci sebagaimana dipaparkan Dr. Gema Goeyardi, bukan kepastian arah pergerakan pasar maupun rekomendasi investasi.
IHSG Dinilai Memasuki Area Akumulasi
Dalam pemaparannya, Master Gema menjelaskan bahwa tim analis Astronacci sebelumnya telah memetakan area koreksi IHSG sebelum pasar mencapai titik tersebut.
Ia menyebut indeks memiliki peluang menguji area 6.050, sementara rentang 5.792 hingga 5.848 dipandang sebagai zona demand yang layak menjadi perhatian pelaku pasar.
“Kalau dia mau turun dalam ya turunnya sampai 5.792 sampai 5.848. Ini area demand yang perlu diperhatikan,” ujar Dr. Gema Goeyardi melalui kanal YouTube Astronacci International.
Dalam analisis teknikal, demand area merupakan kawasan yang sering diamati investor karena berpotensi menjadi titik munculnya tekanan beli. Namun, level tersebut bukan jaminan harga akan langsung berbalik arah karena tetap dipengaruhi sentimen pasar dan kondisi makroekonomi.
Menurutnya, keberhasilan membaca area seperti ini bukan sekadar melihat harga, tetapi juga memahami momentum waktu yang tepat untuk masuk ke pasar.
Time Trading Jadi Pembeda Analisis Astronacci
Berbeda dengan pendekatan teknikal konvensional yang lebih banyak menitikberatkan pada grafik harga, Astronacci menggabungkan analisis harga dengan Time Trading, yaitu metode yang memperhitungkan siklus waktu sebagai salah satu indikator perubahan tren.
Dalam video tersebut dijelaskan bahwa 23 Juni diperkirakan menjadi time support, yakni periode yang secara historis berpotensi menjadi titik pembalikan arah pasar.
“Tanggal 23 ini sebagai time support,” kata Master Gema.
Apabila pembalikan benar-benar terjadi pada rentang waktu tersebut, menurutnya peluang kenaikan IHSG akan semakin terbuka.
Sebaliknya, apabila skenario tersebut gagal, investor perlu menyiapkan langkah antisipasi sesuai rencana transaksi (trading plan) yang telah dibuat sebelumnya.
Pendekatan berbasis waktu inilah yang menjadi salah satu ciri khas metode Astronacci selama bertahun-tahun.
Semester II 2026 Diproyeksikan Menjadi Fase Akumulasi
Optimisme terhadap pasar tidak muncul tanpa alasan.
Master Gema menilai semester kedua tahun 2026 lebih berpotensi diisi oleh proses akumulasi, yaitu fase ketika investor mulai mengoleksi saham secara bertahap setelah periode koreksi panjang.
“Second half itu harusnya dipenuhi konsep tentang akumulasi,” ujarnya.
Dalam analisanya, fase tersebut diperkirakan berlangsung hingga sekitar minggu ketiga Juli, sebelum pasar mulai menunjukkan tren yang lebih jelas.
Ia juga menjelaskan bahwa selama proses tersebut investor masih mungkin menghadapi pergerakan harga yang tidak stabil, mulai dari pola sideways, falling wedge, hingga double bottom sebelum kenaikan yang lebih berkelanjutan terbentuk.
Berdasarkan pengalaman banyak pelaku pasar, fase seperti ini sering kali justru menjadi periode yang paling membingungkan. Harga belum benar-benar naik, tetapi tekanan jual mulai berkurang sehingga banyak investor ritel ragu menentukan waktu masuk.
Kondisi tersebut membuat disiplin terhadap strategi menjadi lebih penting dibanding sekadar mengejar momentum jangka pendek.
Target IHSG 6.700 Masih Dipertahankan
Berdasarkan analisis yang dipaparkan, Astronacci masih mempertahankan target 6.700 sebagai sasaran utama apabila proses akumulasi berjalan sesuai skenario.
“Target IHSG 6.700 itu minimal,” ujar Dr. Gema Goeyardi.
Ia menjelaskan bahwa target tersebut bukan muncul secara acak, melainkan berasal dari kombinasi analisis siklus waktu (time cycle), struktur harga (price action), serta level teknikal yang dipantau tim analis Astronacci.
Dalam skenario yang lebih panjang, peluang menuju area 8.800 juga masih terbuka. Namun, menurutnya, pasar perlu melewati fase konsolidasi terlebih dahulu sebelum membentuk tren naik yang lebih kuat.
Lantas, potensi apakah IHSG berpotensi turun hingga 4.700? Dalam pembahasannya, angka tersebut merupakan skenario risiko apabila level-level teknikal penting gagal dipertahankan dan tekanan jual kembali mendominasi pasar, bukan prediksi yang dipastikan akan terjadi.
Rupiah, BI Rate, dan Gejolak Global Masih Menjadi Perhatian
Selain memetakan arah IHSG, Master Gema juga mengulas sejumlah faktor makroekonomi yang diperkirakan masih memengaruhi sentimen investor pada semester kedua tahun ini.
Salah satunya adalah pergerakan nilai tukar rupiah.
Menurut proyeksinya, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam rentang Rp17.500 hingga Rp17.950 per dolar AS, dengan kemungkinan sesekali menembus level psikologis Rp18.000 apabila volatilitas global meningkat.
Di sisi lain, BI Rate yang dipertahankan di level 5,75 persen dinilai masih memberi ruang bagi stabilitas pasar keuangan domestik.
Ia juga menyinggung bahwa beberapa bank mulai menawarkan bunga deposito hingga sekitar 7 persen sebagai upaya mempertahankan dana masyarakat di tengah persaingan likuiditas.
“Sudah ada upaya supaya orang tidak keluar dananya,” ujarnya saat membahas perkembangan suku bunga simpanan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa arah pasar dalam beberapa bulan ke depan tetap dipengaruhi berbagai sentimen eksternal, mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah, harga minyak dunia, laporan keuangan emiten, hingga perkembangan ekonomi global.
Strategi Akumulasi Jadi Fokus Investor
Di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif, Astronacci menilai strategi yang paling relevan bukan mengejar kenaikan harga, melainkan mempersiapkan rencana akumulasi secara bertahap.
Dalam video tersebut, salah satu contoh yang dibahas adalah saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI).
Menurut analisis yang dipaparkan, area sekitar Rp2.810 menjadi salah satu level yang menarik untuk mulai dipertimbangkan apabila harga kembali menyentuh harmonic support.
“Mulai tambah posisi lagi di BBRI. Selama dia menyentuh harmonic support ini sebisa mungkin kita antre,” kata Master Gema.
Namun, pendekatan tersebut tetap dibarengi disiplin pengelolaan risiko. Apabila skenario yang diperkirakan tidak terjadi sesuai waktu yang telah ditentukan, posisi investasi disebut perlu dievaluasi.
“Kalau tanggal 24 dia tidak mau naik, saya kasih waktu dua hari. Tanggal 26 dia masih tidak naik, saya buang dulu. Mau loss 2 persen atau 3 persen tidak ada masalah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa metode Time Trading tidak hanya berfokus pada potensi keuntungan, tetapi juga menekankan pentingnya disiplin menjalankan trading plan dan membatasi risiko ketika pasar bergerak di luar ekspektasi.
Valuasi Saham Dinilai Mulai Menarik
Menjelang akhir pembahasan, Master Gema menyampaikan pandangannya mengenai valuasi saham Indonesia yang menurutnya mulai terlihat lebih murah setelah mengalami koreksi cukup panjang.
Ia memperkirakan investor institusi berpotensi kembali melakukan akumulasi terhadap saham-saham berkapitalisasi besar apabila tekanan pasar mulai mereda.
“Begitu market sudah over dihantam, mereka akan serok lagi dan kita mulai akumulasi, khususnya untuk saham-saham yang big caps,” katanya.
Menurutnya, kondisi seperti ini sering menjadi fase yang menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.
Namun, ia tetap mengingatkan agar keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada satu analisis, melainkan dikombinasikan dengan kondisi fundamental emiten dan perkembangan ekonomi terkini.
Ringkasan Proyeksi Astronacci
Berikut beberapa poin penting yang disampaikan dalam analisis Dr. Gema Goeyardi.
| Indikator | Proyeksi Astronacci |
|---|---|
| Area demand IHSG | 5.792โ5.848 |
| Target koreksi awal | sekitar 6.050 |
| Target IHSG semester II | 6.700 |
| Target jangka panjang | 8.800 |
| Rentang rupiah | Rp17.500โRp17.950 per dolar AS |
| BI Rate | 5,75% |
| Area akumulasi BBRI | sekitar Rp2.810 |
| Target teknikal BBRI | sekitar Rp3.450 |
Seluruh angka di atas merupakan bagian dari analisis teknikal yang dipaparkan melalui kanal YouTube Astronacci International dan tidak dimaksudkan sebagai kepastian arah pasar.
Dr. Gema Goeyardi melihat semester kedua 2026 sebagai periode transisi yang berpotensi membuka peluang baru bagi investor.
Berdasarkan pendekatan Time Trading yang dikembangkan Astronacci International, IHSG dinilai sedang memasuki fase akumulasi dengan peluang menguji area 6.700 dalam beberapa bulan mendatang apabila skenario teknikal berjalan sesuai harapan.
Di sisi lain, investor tetap perlu mengantisipasi kemungkinan koreksi apabila level-level penting gagal dipertahankan.
Di tengah kondisi pasar yang masih dipengaruhi dinamika global, disiplin menjalankan strategi investasi menjadi pesan utama yang disampaikan Master Gema.
Menggabungkan analisis teknikal, pemahaman fundamental, dan manajemen risiko dinilai akan membantu investor mengambil keputusan yang lebih terukur dibanding hanya mengikuti sentimen jangka pendek.