Harga Bitcoin Terkoreksi Usai ATH Oktober 2025, Sentimen Analis Berubah Soroti Risiko Turun ke Area US$67.000

28 Desember 2025 11:00
Bagikan :
Bitcoin bergerak di fase krusial dengan harga bertahan di atas level support US$85.000, membentuk pola descending triangle pada grafik harian yang kerap dikaitkan dengan potensi kelanjutan tekanan turun. (X/@CryptoOnchain)

DOYANDUIT – Harga Bitcoin mengalami koreksi signifikan setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di level US$126.000 pada Oktober 2025.

Sejak itu, pergerakan harga cenderung volatil dengan kecenderungan melemah, memicu perubahan sikap di kalangan analis pasar kripto.

Sejumlah analis yang sebelumnya optimistis kini menunjukkan pandangan lebih berhati-hati terhadap prospek jangka pendek Bitcoin.

Perubahan Sentimen Analis di Tengah Konsolidasi Berkepanjangan

Dilansir dari U.Today, perubahan sikap analis disorot oleh pendiri CryptoQuant, Ki Young Ju, yang menyebutkan bahwa indikator sentimen analis terkemuka mulai “berubah menjadi merah”.

Menurutnya, fase pergerakan harga yang stagnan dan berkepanjangan, yang oleh sebagian pelaku pasar dianggap sebagai konsolidasi, telah memicu kekhawatiran baru.

Ki Young Ju mengungkapkan bahwa semakin sedikit analis yang mempertahankan pandangan optimistis. Ia bahkan menyebut dirinya merasa “tertinggal” karena masih memandang potensi pemulihan Bitcoin secara positif.

Dalam kondisi saat ini, ekspektasi pasar cenderung mengarah pada pelemahan lanjutan, sementara suara optimisme semakin jarang terdengar.

Sikap Tokoh Publik Ikut Berubah

Perubahan sentimen juga tercermin dari langkah investor ternama Robert Kiyosaki. Penulis buku Rich Dad, Poor Dad tersebut sebelumnya dikenal sebagai pendukung Bitcoin sebagai lindung nilai inflasi. Namun, ia dilaporkan melepas sebagian kepemilikan Bitcoin untuk dialihkan ke investasi lain.

Yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah absennya pernyataan Kiyosaki mengenai Bitcoin di media sosial X. Pada periode reli sebelumnya, ia aktif menyuarakan pandangannya terkait aset kripto.

Kali ini, sikap diam tersebut dinilai sebagai sinyal berkurangnya keyakinan terhadap pergerakan jangka pendek Bitcoin.

Meski demikian, Ki Young Ju menegaskan bahwa ia belum sepenuhnya sependapat dengan konsensus bearish. Tanpa menyebut target harga atau waktu tertentu, ia tetap mempertahankan pandangan positif terhadap Bitcoin.

Sejumlah pelaku pasar lain juga menilai penurunan harga saat ini sebagai peluang akumulasi, merujuk pada pola historis di mana fase pesimistis kerap mendahului reli.

Tekanan Teknis Meningkat di Tengah Optimisme Jangka Panjang

Bitcoin pada Sabtu, 27 Desember 2025 diperdagangkan di kisaran US$87.448, turun sekitar 1,36% dalam 24 jam terakhir. Dalam periode yang sama, harga sempat terkoreksi lebih dari US$2.000, sementara volume perdagangan menurun 16,9% menjadi sekitar US$27,8 miliar.

Dari sisi teknikal, grafik harian menunjukkan potensi terbentuknya death cross, yang membuka risiko penurunan menuju area US$67.000.

Namun, tekanan diperkirakan tidak terjadi secara tajam karena masih terdapat zona penopang penting di antara harga saat ini dan target penurunan tersebut.

Level support yang menjadi perhatian berada di:

  • US$80.600
  • US$74.111

Selain itu, area US$85.000 dipandang sebagai level psikologis sekaligus teknikal yang krusial. Kekuatan level ini dinilai akan diuji sebelum pasar menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Pola Descending Triangle Dekat Support US$85.000

Analisis terbaru yang dipublikasikan di QuickTake oleh analis on-chain CryptoOnchain menyoroti terbentuknya pola descending triangle pada grafik harian Bitcoin. Pola ini umumnya diasosiasikan dengan potensi kelanjutan tren turun.

Ciri utama pola tersebut meliputi:

  • Rangkaian lower swing highs
  • Harga yang terus menekan support horizontal sebagai dasar segitiga

Menariknya, Point of Control (POC), level harga dengan volume transaksi tertinggi, juga berada di sekitar US$85.000. Kondisi ini memperkuat signifikansi area tersebut.

Jika support ini ditembus secara tegas, tekanan jual berpotensi meningkat akibat likuidasi dan aksi kapitulasI, terutama bila tidak muncul permintaan baru yang cukup kuat.

Aktivitas Penarikan dari Bursa Turun ke Level Terendah

CryptoOnchain turut menguatkan pandangan bearishnya dengan data on-chain lain, yakni metrik Bitcoin Exchange Withdrawing Transactions (7-day Moving Average). Indikator ini mencatat jumlah transaksi penarikan Bitcoin dari bursa selama tujuh hari terakhir.

Saat ini, angka tersebut berada di sekitar 5.000 transaksi, terendah sejak 2016. Level ini bahkan lebih rendah dibandingkan periode pasar bearish sebelumnya pada 2018, 2020, dan 2022.

Secara umum, peningkatan penarikan dari bursa menandakan minat akumulasi dan keyakinan investor jangka panjang, karena aset dipindahkan ke dompet pribadi.

Sebaliknya, penurunan tajam mengindikasikan lemahnya minat akumulasi serta berkurangnya keyakinan untuk menyimpan Bitcoin dalam jangka panjang.

CryptoOnchain menyimpulkan bahwa data tersebut mencerminkan skeptisisme luas atau kelelahan investor, dengan permintaan riil non-spekulatif yang masih terbatas.

Open Interest Futures Turun, Namun Belum Sinyal Bear Market

Di sisi lain, pasar derivatif menunjukkan dinamika berbeda. Open interest futures Bitcoin di bursa utama turun menjadi US$42 miliar, level terendah dalam delapan bulan, dari US$47 miliar dua pekan sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh likuidasi lebih dari US$260 juta posisi futures saat harga gagal bertahan di atas US$89.000.

Meski demikian, penurunan leverage tidak serta-merta mencerminkan sentimen bearish murni, karena posisi long dan short selalu berpasangan.

Kekhawatiran investor juga meningkat setelah arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot selama lima hari berturut-turut mencapai US$825 juta.

Nilai tersebut kurang dari 1% dari total dana kelolaan sekitar US$116 miliar, namun cukup memicu kekhawatiran bahwa momentum bullish Oktober mulai memudar di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Basis Rate dan Opsi Masih Relatif Stabil

Premi futures bulanan Bitcoin, atau basis rate, berada di kisaran 5% secara tahunan. Angka ini masih dalam batas normal meski mencerminkan sikap pasar yang sedikit berhati-hati.

Basis rate tersebut juga menjauh dari level di bawah 4% yang sempat muncul pada pertengahan Desember ketika harga Bitcoin turun di bawah US$85.000.

Sementara itu, pasar opsi Bitcoin menunjukkan stabilitas relatif. Indikator delta skew—yang mengukur perbandingan biaya opsi jual dan beli, belum menembus ambang pesimistis yang menandakan ekspektasi penurunan tajam.

Makro Global dan Perbandingan Aset

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, aset lindung nilai tradisional seperti emas dan perak justru mencetak rekor harga baru.

Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya minat terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat dan turunnya imbal hasil Treasury tenor 10 tahun ke level terendah dalam tiga pekan.

Sebaliknya, Bitcoin masih menunjukkan karakteristik sebagai aset berisiko tinggi. Meski demikian, penurunan open interest futures dan arus keluar ETF yang relatif kecil belum cukup untuk mengonfirmasi terbentuknya pasar bearish berkepanjangan.

Dengan harga yang masih bertahan di atas US$85.000, Bitcoin berada di titik krusial. Risiko penurunan tetap ada, namun sejumlah indikator derivatif menunjukkan stabilisasi sentimen.

Pasar kini menanti apakah level support utama mampu bertahan dan memulihkan kepercayaan investor.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050