Harga Bitcoin Tertekan di Area USD 75 Ribu, Anjloknya Likuiditas AS Jadi Biang Kerok Utama

2 Februari 2026 11:00
Bagikan :
Harga Bitcoin tertekan di tengah menyusutnya likuiditas global dan gejolak pasar. (TradingView)

DOYANDUIT – Harga Bitcoin kembali berada di bawah tekanan dan diperdagangkan di kisaran USD 75.000 pada awal pekan ini. Dalam sepekan terakhir, nilainya terkoreksi lebih dari 12 persen, sementara secara tahunan masih tercatat melemah lebih dari 24 persen.

Penurunan ini terjadi di tengah gejolak pasar global yang membuat kapitalisasi total kripto menyusut sekitar USD 250 miliar hanya dalam satu akhir pekan.

Menariknya, tekanan ini tidak berdiri sendiri. Saham teknologi berbasis langganan atau Software as a Service (SaaS) juga mengalami pelemahan serupa.

Pola pergerakan yang sejalan ini memunculkan satu kesimpulan penting: masalah utama bukan pada kripto, melainkan pada kondisi likuiditas global, khususnya di Amerika Serikat.

Likuiditas AS Menyusut, Aset Berisiko Jadi Korban

Pendapat tersebut disampaikan oleh Raoul Pal, pendiri dan CEO Global Macro Investor. Menurutnya, narasi bahwa siklus Bitcoin telah berakhir adalah kesimpulan yang keliru.

“Jika Bitcoin benar-benar rusak, seharusnya aset lain tidak bergerak dengan pola yang sama,” ujarnya dikutip dari Cointelegraph.

Ia menekankan bahwa Bitcoin dan saham SaaS sama-sama termasuk “long-duration assets”, yakni aset yang nilainya sangat bergantung pada ekspektasi pertumbuhan jangka panjang. Ketika likuiditas mengetat dan suku bunga tinggi, jenis aset ini biasanya paling cepat terkena tekanan.

Beberapa indikator yang memperkuat pandangan tersebut antara lain:

  • Saham SaaS dan Bitcoin jatuh bersamaan dalam beberapa bulan terakhir
  • Tidak ada masalah fundamental baru yang spesifik di sektor kripto
  • Arus dana global cenderung menjauh dari aset berisiko tinggi

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar sedang mengalami fase “risk-off”, bukan penolakan permanen terhadap kripto.

Reli Emas Sedot Dana, Bitcoin Kehilangan Momentum

Salah satu faktor yang memperparah tekanan likuiditas adalah reli emas sebelumnya. Lonjakan harga emas dinilai telah “menyedot” dana marginal yang seharusnya bisa mengalir ke Bitcoin dan saham teknologi.

Akibatnya, ketika likuiditas tidak cukup untuk menopang semua kelas aset, pasar secara alami memangkas eksposur pada instrumen yang dianggap paling berisiko. Bitcoin pun ikut terkena imbas, meski bukan karena masalah internal.

Fenomena ini juga menjelaskan mengapa setelah emas anjlok tajam, gejolak justru menyebar ke pasar kripto dan saham global.

Shutdown Pemerintah AS dan Masalah “Plumbing” Likuiditas

Peran Reverse Repo Facility

Raoul Pal juga menyoroti faktor teknis yang jarang dibahas investor ritel, yakni mekanisme likuiditas di sistem keuangan AS.

Salah satunya adalah Reverse Repo Facility (RRP), tempat bank dan dana pasar uang menyimpan dana jangka pendek di Federal Reserve.

Menurutnya, penopang likuiditas dari RRP praktis sudah habis sejak 2024. Sebelumnya, ketika Departemen Keuangan AS mengisi ulang Treasury General Account (TGA), dampak negatifnya masih bisa diimbangi oleh penarikan dana dari RRP. Kini, opsi penyeimbang itu tidak lagi tersedia.

Kondisi ini diperburuk oleh dua kali penutupan sementara pemerintahan AS (government shutdown) yang ikut menyedot likuiditas dari sistem.

Isu Ketua The Fed Baru, Benarkah Jadi Ancaman?

Kekhawatiran pasar sempat meningkat setelah muncul persepsi bahwa ketua The Fed berikutnya, Kevin Warsh, akan bersikap lebih keras terhadap inflasi dan suku bunga. Beberapa pelaku pasar menilai ekspektasi pemangkasan suku bunga menjadi lebih kecil.

Namun, Pal menepis anggapan tersebut. Ia menilai Warsh justru akan menjalankan pendekatan ala era Greenspan, yakni:

  • Menurunkan suku bunga secara bertahap
  • Membiarkan ekonomi tumbuh panas
  • Mengandalkan produktivitas, termasuk dari AI, untuk menekan inflasi

Dalam pandangannya, Warsh tidak akan menghambat agenda likuiditas yang didorong oleh Donald Trump dan tim ekonominya melalui sistem perbankan.

Pasar Asia dan Global Ikut Bergejolak

Tekanan juga terasa di pasar Asia. Indeks saham regional melemah, mengikuti penurunan futures Wall Street. Korea Selatan terkoreksi sekitar 1 persen, sementara indeks Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,7 persen.

Jepang menjadi pengecualian. Indeks Nikkei justru menguat seiring ekspektasi stimulus besar pasca pemilu, yang dinilai mendukung pelemahan yen dan likuiditas domestik.

Di pasar komoditas, situasi tak kalah bergejolak:

  • Perak sempat jatuh hingga 30 persen dalam satu hari
  • Emas mencatat penurunan harian terdalam sejak 1983
  • Minyak turun hampir 3 persen karena meredanya risiko geopolitik Iran-AS

Snapshot Pasar Kripto Terkini

  • Bitcoin: sekitar USD 75.500, turun 4%
  • Ether: USD 2.210, turun 9,3%
  • XRP: USD 1,56, turun 6%
  • Total kapitalisasi kripto: USD 2,62 triliun, turun 4,3%

Data ini menunjukkan bahwa tekanan bersifat menyeluruh, bukan hanya terfokus pada satu aset.

Prospek 2026, Masih Ada Alasan Optimistis?

Menutup analisanya, Raoul Pal menyampaikan pandangan yang cukup kontras dengan sentimen pasar saat ini. Ia menilai fase pengetatan likuiditas sudah mendekati akhir.

“Kami memang tidak bisa memprediksi semua detail dengan sempurna, tetapi sekarang peta besarnya jauh lebih jelas,” ujarnya.

Ia bahkan menegaskan tetap sangat bullish untuk 2026, seiring kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih longgar.

Penurunan harga Bitcoin ke area USD 75 ribu bukanlah sinyal bahwa kripto telah kehilangan relevansinya. Data dan pola pergerakan justru menunjukkan masalah utama berada pada likuiditas global yang menyusut, diperparah oleh faktor teknis dan kebijakan makro AS.

Fase seperti ini lebih mencerminkan siklus pasar daripada kegagalan aset. Dengan pemahaman konteks makro yang lebih utuh, investor dapat menilai situasi secara lebih rasional, bukan sekadar mengikuti narasi “kripto sudah mati” yang kerap muncul saat pasar terkoreksi.

 

Penafian

Artikel ini disusun berdasarkan data pasar, pernyataan narasumber, serta analisis yang tersedia pada saat penulisan dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi kepada pembaca. Seluruh isi artikel bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, atau rekomendasi transaksi dalam bentuk apa pun.

Perdagangan dan investasi aset kripto memiliki risiko tinggi karena pergerakan harga yang fluktuatif. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Penulis dan pengelola situs tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan yang timbul, dan pembaca disarankan melakukan riset mandiri serta berkonsultasi dengan penasihat keuangan profesional sebelum mengambil keputusan.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050