IHSG Anjlok 4,32% pada Sesi Satu 4 Maret 2026, Geopolitik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasar

4 Maret 2026 13:00
Bagikan :
Ilustrasi penurunan IHSG akibat eskalasi konflik Timur Tengah tahun 2026. (DoyanDuit)

DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan sejak awal perdagangan pada Rabu, 4 Maret 2026. Hingga menjelang siang, indeks utama Bursa Efek Indonesia itu tercatat turun 4,32% dan berada di level 7.596,58.

Data perdagangan menunjukkan bahwa IHSG dibuka pada posisi 7.896,38, sempat menyentuh level tertinggi 7.897,81, sebelum akhirnya bergerak turun hingga menyentuh titik terendah 7.584,86 pada sesi pertama perdagangan.

Sebagai perbandingan, pada penutupan perdagangan sebelumnya IHSG berada di level 7.939,77. Dalam rentang satu tahun terakhir, indeks ini pernah menyentuh level tertinggi 9.174,47 dan terendah 5.882,60.

Pergerakan tajam tersebut menunjukkan meningkatnya volatilitas di pasar saham domestik. Berdasarkan pengamatan pelaku pasar pada awal 2026, sentimen global masih menjadi faktor dominan yang mempengaruhi arah IHSG.

Penyebab IHSG Melemah: Eskalasi Konflik Timur Tengah

Tekanan pada IHSG hari ini tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi menjadi semakin panas setelah Iran dilaporkan menutup jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Bursa Efek Indonesia (BEI), Irvan Susandy, menjelaskan bahwa kondisi tersebut memicu kekhawatiran global terhadap potensi krisis energi.

“Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas, dan Iran menutup Selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi. Hal ini sudah tercermin di harga minyak dunia yang meningkat,” katanya kepada media pada Rabu, 4 Maret 2026.

Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia. Sekitar 20% pasokan minyak global melintasi wilayah tersebut setiap harinya.

Ketika jalur tersebut terganggu, pasar global biasanya langsung bereaksi karena potensi lonjakan harga energi dapat memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Dampak Global: Bursa Asia Turut Terkoreksi

Penurunan IHSG ternyata bukan fenomena yang terjadi sendiri. Bursa saham di berbagai negara Asia juga mengalami tekanan serupa pada hari yang sama.

Menurut BEI, beberapa indeks regional yang turut melemah antara lain:

  • Kospi (Korea Selatan)
  • SET Index (Thailand)
  • Kosdaq
  • Nikkei (Jepang)
  • TAIEX (Taiwan)
  • ASX (Australia)

Irvan Susandy juga menambahkan bahwa pasar Korea Selatan bahkan sempat menghentikan sementara perdagangan.

“Pergerakan IHSG sejalan dengan pergerakan indeks regional lain yang juga turun tajam. Korea Selatan sempat mengalami trading halt setelah turun lebih dari 8%.”

Fenomena trading halt biasanya dilakukan untuk mencegah kepanikan pasar yang berlebihan ketika indeks jatuh terlalu cepat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap IHSG lebih dipicu oleh sentimen global dibandingkan faktor domestik semata.

Saham Perusahaan Besar yang Mengalami Penurunan

Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut mengalami koreksi dalam perdagangan hari ini. Saham-saham tersebut biasanya memiliki bobot besar dalam pergerakan IHSG sehingga penurunannya berdampak signifikan terhadap indeks.

Berikut beberapa saham besar yang tercatat melemah:

Perusahaan Harga Perubahan
Barito Renewables Energy Rp7.125 -5,94%
Bank Central Asia (BCA) Rp6.950 -1,77%
Dian Swastatika Sentosa Rp76.200 -2,93%
Bank Rakyat Indonesia (BRI) Rp3.710 -1,59%
Amman Mineral Internasional Rp6.125 -10,26%
Chandra Asri Pacific Rp5.375 -7,73%
DCI Indonesia Rp213.875 -0,62%
Bank Mandiri Rp4.950 -2,75%
Bayan Resources Rp13.750 -1,08%
Telkom Indonesia Rp3.180 -7,83%
Astra International Rp6.100 -2,79%

Dari daftar tersebut, saham Amman Mineral Internasional menjadi salah satu yang mengalami penurunan paling tajam.

Pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar memang sering menjadi penentu arah IHSG karena bobotnya yang tinggi dalam indeks.

Saham dengan Volume Transaksi Tertinggi

Selain saham unggulan, beberapa emiten juga mencatatkan aktivitas transaksi yang tinggi selama perdagangan.

Saham dengan volume perdagangan terbesar antara lain:

  • BUMI (Bumi Resources) – Rp232 (-7,94%)
  • ENRG (Energi Mega Persada) – Rp2.170 (+1,88%)
  • MEDC (Medco Energi) – Rp1.830 (-3,68%)
  • BMRI (Bank Mandiri) – Rp4.950 (-2,75%)
  • BBCA (Bank Central Asia) – Rp6.950 (-1,77%)
  • ANTM (Aneka Tambang) – Rp4.020 (-8,84%)

Aktivitas perdagangan yang tinggi pada saham energi mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap sektor yang berkaitan dengan komoditas energi.

Hal ini wajar mengingat situasi geopolitik global yang dapat mempengaruhi harga minyak dan gas.

Daftar Saham yang Menguat dan Melemah

Meski IHSG secara keseluruhan turun tajam, beberapa saham masih mencatatkan kenaikan harga.

Saham yang Menguat (Top Gainers)

  • SOTS (Satria Mega Kencana) +24,59%
  • IFSH (Ifishdeco) +22,69%
  • MASB (Bank Multiarta Sentosa) +22,62%
  • SULI (SLJ Global) +14,68%
  • BRRC (Raja Roti Cemerlang) +13,40%
  • BELL (Trisula Textile Industries) +10,34%

Saham yang Melemah (Top Losers)

  • ELPI (Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari) -14,91%
  • ARTA (Arthavest) -14,81%
  • INDO (Royalindo Investa Wijaya) -14,78%
  • INDS (Indospring) -14,68%
  • MDIA (Intermedia Capital) -14,49%
  • PEGE (Panca Global Kapital) -14,12%

Perbedaan pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar saham selalu memiliki dinamika yang kompleks. Bahkan ketika indeks turun tajam, beberapa saham masih mampu mencatatkan penguatan.

Kinerja Sektor Saham di Bursa

Tekanan IHSG juga terlihat pada sebagian besar sektor industri di Bursa Efek Indonesia.

Beberapa sektor yang mengalami pelemahan terbesar antara lain:

  • Mineral non-energi: -8,77%
  • Layanan konsumen: -7,14%
  • Komunikasi: -6,61%
  • Industri proses: -6,50%
  • Utilitas: -5,93%

Sementara sektor teknologi dan kesehatan mengalami penurunan yang relatif lebih kecil.

Dalam jangka panjang, data sektor menunjukkan bahwa beberapa industri masih mencatat pertumbuhan yang kuat dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir.

IHSG Tertekan Sentimen Global

Penurunan IHSG sebesar 4,32% pada 4 Maret 2026 mencerminkan tingginya sensitivitas pasar saham terhadap perkembangan geopolitik global.

Eskalasi konflik di Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia, yang kemudian berdampak pada pasar keuangan internasional.

Meski begitu, dalam sejarah pasar saham Indonesia, fluktuasi seperti ini bukan hal baru. Banyak investor berpengalaman melihat volatilitas sebagai bagian alami dari siklus pasar.

Dengan memahami faktor global, kinerja sektor, serta dinamika saham individual, investor dapat mengambil keputusan yang lebih rasional ketika menghadapi kondisi pasar yang bergejolak.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050