
DOYANDUIT – IHSG kembali mencatatkan performa impresif pada awal pekan Desember setelah dibuka di level 8.743 dan sempat menyentuh 8.749, yang menjadi titik tertinggi baru dalam sejarah bursa Indonesia.
Meski pada sesi berjalan mengalami koreksi tipis ke 8.682, tren penguatan jangka pendek masih terlihat dominan. Berdasarkan data perdagangan, indeks telah naik 22,39% year to date, mencerminkan kuatnya minat investor di tengah dinamika global menuju akhir 2025.
Dalam wawancara terbaru di kanal Market Buzz, Rey Siallagan, Head of Equity FAC Sekuritas Indonesia, menyebut bahwa lonjakan IHSG awal pekan terutama didorong oleh saham-saham berbasis teknologi dan mid-cap seperti DCI dan BSSA, yang menjadi penggerak utama indeks.
Menariknya, perbankan sebagai kontributor terbesar IHSG justru masih tertahan, membuka ruang apresiasi tambahan jika sektor finansial ikut menguat.
Sentimen Utama Penggerak IHSG Pekan Ini
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Sentimen global yang paling disorot adalah rapat The Federal Reserve periode Desember 2025. Pelaku pasar memperkirakan potensi pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin, yang selama ini menjadi katalis penguatan aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia.
Menurut Rey Siallagan, pelaku pasar “sangat mengharapkan dovish stance”, namun tetap berhati-hati mengingat keputusan The Fed dipengaruhi stabilitas inflasi dan arah ekonomi AS.
Bila kebijakan yang keluar lebih hawkish dari perkiraan, volatilitas jangka pendek dapat meningkat.
Dorongan Sentimen Domestik
Dari dalam negeri, katalis positif datang dari:
- Kinerja saham konglomerasi yang menjadi sasaran akumulasi investor besar.
- Reksa dana lokal yang melakukan penyesuaian portofolio jelang akhir tahun (window dressing).
- Proyek strategis pemerintah yang memperkuat keyakinan pasar terhadap outlook ekonomi 2025–2026.
Rey menegaskan bahwa dukungan kebijakan pemerintah “cukup membantu arah pergerakan IHSG”, terutama menjelang pergantian tahun.
Tren Bullish: Berlanjut atau Tertahan?
Meski IHSG berkali-kali mencetak all time high sepanjang Desember, analis menilai tren bullish yang terjadi masih dalam fase jangka pendek. Untuk mempertahankan kenaikan yang sehat, pasar memerlukan koreksi alami sebelum melanjutkan reli.
Proyeksi Akhir Tahun 2025
Menurut FAC Sekuritas, target IHSG sebelumnya dinilai masih sesuai jalur, tanpa revisi tambahan. Rey memperkirakan level realistis berada di sekitar 8.900, namun tidak menutup kemungkinan IHSG menyentuh 9.000 bila sektor perbankan mulai ikut menguat.
“Kalau penggerak utama seperti perbankan ikut naik signifikan, 9.000 itu mungkin saja,” ujarnya.
Level Penting IHSG Minggu Ini
Untuk pekan berjalan, analis menilai beberapa level teknikal krusial:
- Resistance: 8.900
- Support: 8.600
Dengan penguatan yang masih didominasi saham mid-cap dan saham yang berkaitan dengan reksa dana lokal, dinamika jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh momentum window dressing.
Saham dengan Transaksi Jumbo: Apa Artinya untuk Pasar?
Pada perdagangan terakhir, lima saham mencatat transaksi jumbo:
| Saham | Nilai Transaksi |
|---|---|
| BUMI | Rp1 triliun |
| DEWA | Rp949 miliar |
| GOTO | ±Rp922 miliar |
| KOIN | Rp76 miliar |
| ENRG | Rp491 miliar |
Rey menjelaskan bahwa lonjakan volume ini menandakan adanya pergeseran portofolio (switching) dari investor besar, terutama reksa dana lokal yang melakukan reposisi menjelang tutup tahun.
Contoh Sinyal Pasar dari Beberapa Saham
- BUMI – Masih menarik untuk strategi trading buy.
- GOTO – Sudah berada di area resistance, namun minat beli dari investor institusi masih memberi ruang kenaikan lanjutan.
- ENRG – Mengikuti tren saham-saham grup Bakrie yang bergerak menguat menjelang akhir tahun.
Fenomena transaksi jumbo ini memperlihatkan bahwa sentimen window dressing masih dominan dan bisa menjadi katalis tambahan bagi IHSG dalam beberapa minggu ke depan.
Apa yang Harus Dipantau Investor dalam Waktu Dekat?
Ada tiga fokus utama:
- Keputusan The Fed – Apakah kebijakan akan dovish sesuai harapan atau justru lebih hawkish.
- Aksi reksa dana lokal – Biasanya mendorong saham-saham tertentu menjelang penutupan akhir tahun.
- Pergerakan saham perbankan – Sebagai kontributor terbesar IHSG, penguatan sektor ini bisa menjadi kunci arah indeks berikutnya.
IHSG di Ujung 2025, Peluang Masih Terbuka
Pergerakan IHSG yang berhasil menembus rekor berulang kali menunjukkan kuatnya optimisme pasar menjelang akhir tahun. Meski demikian, fase bullish ini tetap membutuhkan koreksi sehat agar reli berlanjut ke level yang lebih tinggi.
Dengan sentimen positif dari The Fed, dukungan kebijakan domestik, serta momentum window dressing, peluang IHSG menuju level 8.900 hingga 9.000 masih terbuka.