Jeremy Grantham Prediksi Bitcoin Akan Nol, Ini Alasan Peramal dot-com Bubble dan Krisis Properti AS Menolak Kripto

29 Juni 2026 10:00
Bagikan :
Investor veteran Jeremy Grantham kembali menegaskan pandangannya bahwa Bitcoin pada akhirnya akan kehilangan seluruh nilainya. (DoyanDuit)

DOYANDUITHarga Bitcoin kembali melemah pada perdagangan Senin pagi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko. Pada pukul 09.35 GMT+7, Bitcoin diperdagangkan di US$59.426, turun US$47 atau 0,08% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Tekanan tidak hanya terlihat dalam perdagangan harian. Berdasarkan data Bitstamp, Bitcoin telah terkoreksi 6,03% dalam sepekan terakhir, turun 19,01% dalam satu bulan, melemah 32,77% selama enam bulan terakhir, serta masih mencatat penurunan 32,08% sejak awal tahun (year-to-date). Secara tahunan, harga aset kripto terbesar di dunia itu juga masih berada sekitar 44,65% di bawah posisi setahun sebelumnya.

Di tengah pelemahan tersebut, investor legendaris Jeremy Grantham kembali menghidupkan perdebatan mengenai masa depan Bitcoin.

Pendiri GMO yang dikenal luas karena berhasil memperingatkan gelembung saham dot-com pada 2000 dan krisis pasar perumahan Amerika Serikat menjelang 2008 itu menegaskan bahwa dirinya tetap tidak melihat nilai jangka panjang pada Bitcoin.

Bitcoin Disebut “Tidak Berguna” dan Hanya Menjadi Alat Spekulasi

Dalam wawancara di podcast The Diary of a CEO bersama Steven Bartlett, Grantham mengaku tidak pernah membeli aset kripto dan tidak memiliki rencana untuk melakukannya di masa depan.

Ketika ditanya berapa banyak aset kripto yang ia miliki, jawabannya singkat.

“None.”

Ia juga menegaskan tidak pernah memiliki Bitcoin, tidak akan membeli Bitcoin, bahkan tidak akan menyarankan orang lain untuk berinvestasi di aset digital tersebut.

Menurut Grantham, Bitcoin tidak memberikan manfaat ekonomi yang nyata.

“I think it’s an unnecessary piece of nonsense. It facilitates nothing except criminals moving money so they can’t be seen.”

Dalam pandangannya, Bitcoin lebih banyak digunakan untuk memindahkan uang secara anonim dibandingkan menciptakan nilai ekonomi baru.

Ia juga menolak anggapan bahwa Bitcoin dapat berfungsi sebagai penyimpan nilai (store of value).

“It’s not a store of value since it bounces around all over the place.”

Grantham menilai volatilitas harga yang sangat tinggi membuat Bitcoin sulit dianggap sebagai aset pelindung kekayaan. Ia mencontohkan bagaimana harga Bitcoin dapat berubah drastis hanya karena sentimen pasar tanpa didukung perubahan fundamental yang jelas.

Selain itu, ia juga mempertanyakan fungsi Bitcoin sebagai alat pembayaran.

“It’s not used conveniently as a medium of exchange. You can’t go into a shop and use it easily.”

Menurutnya, penggunaan Bitcoin dalam transaksi sehari-hari masih jauh dari praktis sehingga belum mampu menjalankan fungsi utama sebuah mata uang.

Meski demikian, Grantham mengakui Bitcoin memiliki satu fungsi yang berjalan sangat baik.

“It does one thing very, very well. It’s a means of speculating beautifully.”

Artinya, menurut Grantham, Bitcoin lebih tepat disebut sebagai instrumen spekulasi dibandingkan aset investasi produktif.

Grantham: Bitcoin Pada Akhirnya Akan Menuju Nol

Bagian wawancara yang paling banyak mendapat perhatian muncul ketika Steven Bartlett menanyakan secara langsung apakah Bitcoin suatu saat akan bernilai nol.

Jawaban Grantham tetap konsisten dengan pandangan yang telah ia sampaikan selama bertahun-tahun.

“Well, in the distant future, yes, it will certainly go to zero, but it may take a long time.”

Meski memprediksi Bitcoin pada akhirnya akan kehilangan seluruh nilainya, ia mengakui proses tersebut kemungkinan membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Ia bahkan menambahkan bahwa dalam jangka waktu yang sangat panjang hampir semua aset pada akhirnya akan kehilangan nilainya.

Pandangan tersebut bukanlah sikap resmi GMO Asset Management. Grantham menegaskan seluruh komentarnya merupakan opini pribadi dan tidak mewakili perusahaan investasi yang ia dirikan di Boston tersebut.

GMO sendiri dikenal sebagai salah satu manajer investasi institusional besar dengan aset kelolaan sekitar US$80 miliar.

Kritik Berlanjut di CNBC

Sehari setelah wawancara tersebut, Grantham kembali menyampaikan kritik serupa saat tampil dalam program Squawk Box CNBC.

Dalam kesempatan itu, ia menyebut cryptocurrency sebagai “useless, speculative mechanism” atau mekanisme spekulatif yang tidak memiliki kegunaan nyata.

Ia juga memperkirakan aset kripto tidak akan runtuh secara dramatis, melainkan perlahan kehilangan relevansinya.

“Not with a bang, but with a whimper.”

Meski sangat kritis terhadap Bitcoin, Grantham tetap membedakan antara cryptocurrency dengan teknologi blockchain.

Ia mengakui infrastruktur blockchain berpotensi memainkan peran penting dalam sistem keuangan maupun berbagai aplikasi digital pada masa depan.

Namun kritiknya secara spesifik ditujukan kepada Bitcoin dan aset kripto sejenis yang menurutnya tidak memiliki nilai fundamental.

Pelemahan Harga Bitcoin Kembali Memicu Perdebatan

Komentar Grantham muncul ketika Bitcoin masih diperdagangkan lebih dari 50% di bawah rekor tertingginya sekitar US$126.000 yang sempat dicapai pada Oktober lalu.

Kondisi tersebut kembali memunculkan perdebatan lama mengenai apakah volatilitas ekstrem merupakan karakter alami Bitcoin atau justru menjadi bukti bahwa aset tersebut belum layak disebut sebagai penyimpan nilai.

Di kalangan investor kripto sendiri, pandangan terhadap koreksi harga tetap beragam.

Sebagian menganggap penurunan tajam merupakan bagian dari siklus pasar yang telah berulang beberapa kali sepanjang sejarah Bitcoin.

Namun tidak sedikit pula investor yang mulai lebih berhati-hati mengingat tekanan suku bunga global, regulasi aset digital, serta perubahan sentimen terhadap aset berisiko masih membayangi pasar.

Rekam Jejak Grantham Membuat Pandangannya Tetap Diperhatikan

Jeremy Grantham bukan sosok baru dalam dunia investasi.

Namanya dikenal luas setelah beberapa kali memperingatkan terbentuknya gelembung aset jauh sebelum krisis benar-benar terjadi, termasuk gelembung saham teknologi pada awal 2000-an dan gelembung properti Amerika Serikat menjelang krisis keuangan global 2008.

Meski sejumlah prediksinya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terbukti, rekam jejak tersebut membuat setiap pandangan Grantham tetap menjadi perhatian investor global.

Namun seperti prediksi pasar pada umumnya, pernyataan Grantham tetap merupakan opini yang belum tentu menjadi kenyataan.

Arah Bitcoin ke depan masih akan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari adopsi institusi, perkembangan regulasi, kondisi makroekonomi global, hingga sentimen investor terhadap aset digital.

Bagi pelaku pasar, komentar Grantham menjadi pengingat bahwa Bitcoin masih merupakan aset dengan tingkat volatilitas tinggi.

Di tengah fluktuasi harga yang tajam, keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada analisis risiko, bukan semata mengikuti optimisme maupun pesimisme yang berkembang di pasar.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050