
DOYANDUIT – Lonjakan jumlah investor ritel dalam beberapa tahun terakhir mengubah wajah pasar saham Indonesia. Aktivitas transaksi menjadi lebih ramai, volatilitas meningkat, dan arus informasi bergerak cepat melalui media sosial. Di tengah perubahan ini, berbagai metode analisis kembali diperbincangkan, termasuk bandarmologi.
Pendekatan ini kerap diasosiasikan dengan upaya membaca pergerakan “bandar” atau pelaku bermodal besar. Namun, menurut William Hartanto, bandarmologi tidak sesempit itu.
Dalam sesi The Fundamentals di kanal IDX Channel, ia menegaskan bahwa inti metode tersebut adalah membaca perilaku pasar melalui arus dana.
“Di pasar saham tidak ada metode yang 100 persen akurat. Semua kembali ke kecocokan dengan profil risiko dan gaya masing-masing pelaku pasar,” ujarnya.
Tidak Ada Metode Paling Benar
William menilai, banyaknya aliran analisis di pasar saham justru lahir dari keterbatasan akurasi. Fundamental, teknikal, hingga pendekatan berbasis momentum memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Ia menekankan bahwa tujuan utama pelaku pasar pada akhirnya sama, yakni mengembangkan aset. Karena itu, metode apa pun dapat digunakan selama konsisten dan dipahami risikonya.
Pandangan ini sejalan dengan kondisi pasar saat ini, di mana perbedaan strategi justru menciptakan likuiditas dan peluang transaksi.
Bandarmologi sebagai Pembacaan Arus Dana
Dalam praktiknya, bandarmologi yang digunakan William berfokus pada pergerakan dana masuk dan keluar pada suatu saham. Harga saham, menurut dia, bergerak karena aktivitas beli dan jual manusia, bukan semata karena laporan keuangan atau pemberitaan.
Beberapa indikator yang diamati antara lain:
- Akumulasi: harga tertahan di level tertentu dengan volume transaksi yang stabil
- Konsolidasi: pergerakan sempit yang mengindikasikan penyerapan saham
- Distribusi: meningkatnya tekanan jual setelah tren naik berlangsung
“Sering kali saham sudah naik lebih dulu sebelum beritanya muncul. Ketika arus dana masuk, pasar sebenarnya sudah mengambil keputusan,” kata William.
Entry dan Exit Tidak Kaku
Berbeda dengan pendekatan berbasis target persentase tertentu, William mengaku tidak menetapkan batas keuntungan yang kaku. Selama tanda-tanda akumulasi masih terlihat, posisi cenderung dipertahankan.
Sebaliknya, ketika distribusi mulai dominan, keputusan jual dilakukan. Jika asumsi awal tidak sesuai, cut loss tetap dijalankan sebagai bagian dari manajemen risiko.
“Kalau akumulasi masih berjalan, harga bisa saja terus mencetak level tertinggi baru. Apakah nanti menjadi multibagger atau tidak, itu ditentukan oleh pasar,” ujarnya.
Momentum Lebih Menentukan bagi Trader Jangka Pendek
William juga menyoroti anggapan umum bahwa saham dengan kinerja keuangan kuat selalu menjadi yang paling menguntungkan. Dalam praktiknya, tidak sedikit saham yang mencatat kenaikan tajam meski laporan keuangannya belum mencerminkan kondisi ideal.
Bagi trader jangka pendek, fokus utama justru berada pada:
- Momentum pergerakan harga
- Likuiditas dan frekuensi transaksi
- Respons pasar terhadap arus dana
Menurut dia, selama saham tersebut likuid dan pergerakannya terukur, peluang tetap terbuka.
Menyaring Saham dari Ratusan Emiten
Dengan lebih dari 900 emiten tercatat di Bursa Efek Indonesia, menyaring saham menjadi tantangan tersendiri. William mengaku memulai dari daftar saham dengan frekuensi transaksi tertinggi, lalu menyempitkannya menjadi sekitar 10 saham teratas.
Dari sana, analisis dilanjutkan pada struktur harga dan risiko. Dalam praktiknya, ia membatasi kepemilikan aktif hanya pada beberapa saham agar fokus tetap terjaga.
Pendekatan ini dinilai lebih efisien dibanding menilai seluruh emiten satu per satu.
Label Blue Chip Bukan Penentu
William menilai klasifikasi seperti blue chip, second liner, atau third liner tidak selalu relevan bagi trader momentum. Menurutnya, banyak saham besar saat ini dulunya juga berasal dari kategori yang kurang diperhitungkan.
“Pasar yang menentukan kelas saham. Kalau akumulasi besar terjadi, saham bisa naik kelas dengan sendirinya,” ujarnya.
Yang terpenting, menurut dia, adalah likuiditas dan keterbacaan pergerakan harga.
Dampak Investor Ritel dan Influencer
Masuknya investor ritel dalam jumlah besar membuat pasar saham lebih volatil dibanding satu dekade lalu. Bagi trader, kondisi ini justru membuka peluang lebih besar. Namun, bagi investor pemula, volatilitas dapat menjadi risiko jika tidak diimbangi pemahaman yang memadai.
William menilai edukasi pasar tetap menjadi pekerjaan rumah utama. Menurut dia, alasan ekonomi sering menjadi pemicu utama seseorang masuk ke pasar saham, sebagaimana yang terjadi di aset lain seperti kripto.
“Kalau orang sudah melihat peluang ekonomi, tugas berikutnya adalah memberi pemahaman agar mereka tidak masuk tanpa persiapan,” katanya.
Masih Relevan, dengan Catatan
Di tengah perubahan struktur pasar dan derasnya arus informasi, bandarmologi dinilai masih relevan sebagai salah satu pendekatan membaca pasar. Namun, metode ini bukan jaminan keuntungan tanpa risiko.
Disiplin, manajemen risiko, dan pemahaman terhadap karakter pasar tetap menjadi faktor penentu. Cut loss dan kesediaan menerima kerugian tetap menjadi bagian dari strategi, bahkan bagi pelaku pasar berpengalaman.