
DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai tahun 2026 dengan catatan impresif. Pada Selasa, 7 Januari 2026, IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) setelah menyentuh level 8.970,87 pada pukul 09.00 WIB.
Hingga penutupan perdagangan pukul 16.00 WIB, IHSG bertahan di level 8.944,81, menguat 0,13 persen atau naik 11,20 poin dibanding penutupan sebelumnya.
Kinerja ini menegaskan sentimen positif pasar saham domestik, seiring optimisme investor terhadap prospek ekonomi, stabilitas sektor keuangan, serta penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Secara historis, pergerakan IHSG juga menunjukkan tren kenaikan yang solid:
- 1 hari: +0,13%
- 5 hari: +3,09%
- 1 bulan: +3,09%
- 6 bulan: +27,12%
- 1 tahun: +26,44%
Rebound BBCA dan Lonjakan AMMN Jadi Penopang Utama
Penguatan IHSG kali ini tidak lepas dari kontribusi saham-saham unggulan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menunjukkan peran strategisnya sebagai penopang indeks. Saham BBCA rebound setelah sebelumnya tertekan, meski secara harian ditutup di Rp8.150 dengan koreksi tipis 0,31 persen.
Di sisi lain, perhatian investor tertuju pada PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang ditutup menguat 2,90 persen di level Rp7.975. Pergerakan saham ini mencerminkan minat kuat terhadap sektor mineral, sejalan dengan tren harga komoditas global.
Selain itu, beberapa saham berkapitalisasi besar lainnya bergerak variatif:
- BBRI: Rp3.700 (+0,54%)
- BMRI: Rp4.810 (−1,43%)
- TLKM: Rp3.540 (+0,57%)
- DSSA: Rp100.575 (+5,12%)
Saham Tambang dan Nikel Mencuri Perhatian Pasar
Sektor tambang kembali menjadi primadona. Reli saham nikel terjadi di tengah kenaikan harga nikel dunia di Bursa Logam London yang kembali menyentuh kisaran 17.000 dolar AS per ton, level tertinggi dalam 15 bulan terakhir.
Beberapa saham nikel dan tambang mencatatkan lonjakan signifikan:
- ANTM: Rp3.850 (+11,59%)
- NICL: melonjak tajam secara harian
- DKFT: menguat signifikan
- NCKL: ditutup menguat dua digit
Menurut pengamatan pelaku pasar, penguatan ini mencerminkan ekspektasi terhadap keberlanjutan hilirisasi mineral di dalam negeri serta permintaan global yang mulai pulih.
Jika kamu ingin memahami lebih jauh potensi saham tambang dan mineral ke depan, kamu bisa membaca artikel lain tentang strategi investasi saham komoditas di tengah volatilitas global.
Saham dengan Volume dan Volatilitas Tertinggi
Aktivitas perdagangan juga menunjukkan dinamika menarik pada saham-saham berlikuiditas tinggi. BUMI menjadi saham dengan volume transaksi terbesar meski ditutup melemah di Rp452.
Sementara itu, saham-saham dengan volatilitas tinggi antara lain:
- KPIG: Rp210 (+23,53%)
- OPMS: Rp268 (+34,67%)
- HOPE: Rp226 (+22,16%)
- DADA: Rp60 (+20,00%)
Di sisi lain, tekanan jual terjadi pada beberapa emiten:
- VICI: −14,93%
- ECII: −14,84%
- SOHO: −13,62%
Pergerakan ini menunjukkan bahwa meski IHSG berada di level rekor, selektivitas saham tetap menjadi kunci bagi investor.
Kinerja Sektor: Energi dan Layanan Konsumen Unggul
Dari sisi sektoral, performa IHSG ditopang oleh beberapa sektor dengan kinerja menonjol:
- Mineral Energi: +1,77% (harian), +67,12% (6 bulan)
- Mineral Non-Energi: +0,39% (harian), +58,89% (6 bulan)
- Layanan Konsumen: +4,98% (harian), +492,50% (6 bulan)
Sebaliknya, sektor teknologi dan industri proses mengalami koreksi terbatas. Namun secara jangka menengah hingga panjang, data historis menunjukkan sektor teknologi masih mencatat pertumbuhan signifikan.
Sentimen Global Masih Berpengaruh ke Pasar Domestik
Dari sisi global, sentimen pasar turut dipengaruhi pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of Philadelphia, Anna Paulson, yang menyebut peluang pemangkasan suku bunga lanjutan masih terbuka pada akhir 2026, dengan catatan kondisi ekonomi tetap kondusif.
Ia menilai kebijakan moneter saat ini masih sedikit ketat untuk menekan inflasi, meski risiko perlambatan pasar tenaga kerja tetap perlu dicermati. Pasar sendiri memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang 2026, lebih agresif dibanding proyeksi pejabat bank sentral.
Di sisi lain, harga minyak global masih berada di bawah tekanan akibat pasokan yang dinilai melimpah. Kondisi ini ikut memengaruhi sentimen sektor energi, meski tidak sepenuhnya menahan laju IHSG.
Rekor Tinggi Bukan Akhir, Tapi Titik Seleksi
Mencetak rekor tertinggi sering kali memunculkan euforia, namun juga menuntut kehati-hatian. Level IHSG yang tinggi bukan berarti semua saham berada di harga ideal. Justru pada fase seperti ini, disiplin memilih saham dengan fundamental kuat dan prospek jelas menjadi semakin penting.
IHSG berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di awal 2026, didorong oleh rebound saham perbankan, lonjakan emiten tambang, serta sentimen global yang relatif kondusif. Meski demikian, volatilitas antar saham dan sektor tetap tinggi.
Dengan memahami dinamika pasar, kinerja sektor, dan sentimen global, kamu bisa mengambil keputusan investasi yang lebih cerdas dan terukur di tengah euforia rekor IHSG.