
DOYANDUIT – Pendiri PT Astronacci Internasional, Gema Goeyardi, kembali memicu diskusi publik setelah merilis lanjutan video Untold Story yang mengangkat dugaan adanya tekanan ekonomi dan politik terhadap Indonesia.
Dalam paparan melalui kanal Youtube Astronacci, Gema menegaskan bahwa kondisi yang terjadi saat ini menurutnya tidak sepenuhnya bisa dijelaskan hanya dari faktor fundamental ekonomi.
Ia melihat adanya pola yang dianggap tidak lazim, terutama ketika rupiah dan pasar saham mengalami tekanan cukup besar di tengah sejumlah indikator ekonomi yang masih relatif stabil.
Menurut Gema, terdapat tiga faktor utama yang saat ini memengaruhi kondisi Indonesia, yakni persoalan internal, tekanan global, dan dugaan adanya faktor eksternal yang berkaitan dengan kepentingan geopolitik maupun arus modal internasional.
Fundamental Ekonomi Masih Relatif Stabil
Salah satu alasan mengapa Gema mempertanyakan tekanan yang terjadi adalah karena sejumlah indikator ekonomi Indonesia masih menunjukkan kondisi yang cukup baik.
Data yang ia soroti antara lain:
| Indikator Ekonomi | Nilai |
|---|---|
| Pertumbuhan PDB | 5,61% |
| Inflasi | 3,08% |
| Cadangan Devisa | US$146,2 miliar |
| Rasio Utang terhadap PDB | 40,75% |
| Neraca Perdagangan | Surplus sekitar US$5 miliar |
Menurutnya, angka-angka tersebut masih menunjukkan fondasi ekonomi yang relatif kuat dibanding banyak negara berkembang lainnya.
“Kalau melihat data resmi, ekonomi Indonesia masih terlihat cukup baik. Karena itu muncul pertanyaan mengapa tekanan terhadap rupiah dan IHSG begitu besar,” ujar Gema dalam paparannya.
Meski demikian, ia juga mengakui bahwa sejumlah ekonom memiliki pandangan berbeda terkait kualitas pertumbuhan ekonomi tersebut.
Bukan Resesi, Tetapi Sedang Mengalami Tekanan
Dalam penjelasannya, Gema menegaskan bahwa Indonesia saat ini belum masuk kategori resesi. Secara teknis, resesi terjadi ketika pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut.
Sementara itu, kondisi Indonesia saat ini masih mencatat pertumbuhan positif. Ia juga menilai aktivitas ekonomi masyarakat masih berjalan normal.
Pusat perbelanjaan masih ramai. Restoran masih dipenuhi pengunjung. Aktivitas konsumsi masyarakat belum menunjukkan tanda-tanda kontraksi besar seperti yang terjadi saat krisis 1998 maupun pandemi Covid-19.
Karena itu, menurutnya kondisi saat ini lebih tepat disebut sebagai tekanan ekonomi dan tekanan pasar keuangan dibanding resesi.
Sorotan terhadap MSCI, Moody’s, Goldman Sachs dan UBS
Bagian yang paling banyak mendapat perhatian dalam analisis Gema adalah rangkaian keputusan sejumlah lembaga keuangan internasional sepanjang 2026.
Menurutnya, terdapat pola yang menarik untuk dicermati. Beberapa peristiwa yang ia soroti antara lain:
Januari 2026
MSCI disebut membekukan sejumlah indeks terkait Indonesia dan muncul ancaman penurunan status pasar ke kategori Frontier Market.
Dampak yang disebutkan mencapai sekitar US$120 miliar nilai pasar.
Goldman Sachs
Bank investasi asal Amerika Serikat tersebut menurunkan rekomendasi Indonesia menjadi underweight.
Dalam dunia investasi global, rekomendasi semacam ini sering memengaruhi keputusan investor institusi.
UBS
UBS menurunkan pandangannya terhadap aset Indonesia menjadi netral.
Meski tidak merekomendasikan jual, langkah ini dianggap mengurangi optimisme investor.
Moody’s
Lembaga pemeringkat tersebut memberikan outlook negatif terhadap Indonesia.
Menurut Gema, keputusan ini menjadi salah satu faktor yang memperbesar tekanan psikologis di pasar.
Mei 2026
MSCI menghapus 19 emiten Indonesia dari indeksnya. Dampaknya diperkirakan memicu outflow pasif sebesar Rp28 triliun hingga Rp31 triliun.
Menurut Gema, rangkaian kejadian tersebut membentuk persepsi negatif terhadap pasar Indonesia.
Mengapa Singapura Menjadi Sorotan?
Salah satu bagian paling menarik dalam paparan Gema adalah analisis mengenai Singapura. Ia menyoroti pergerakan dana yang menurutnya keluar dari Indonesia dan berpindah ke Singapura.
Menurut data yang dipaparkannya, investasi langsung Amerika Serikat di Singapura mencapai sekitar US$467 miliar pada akhir 2024.
Sementara total stok investasi asing di negara tersebut mencapai sekitar US$3,13 triliun.
Gema menilai posisi Singapura sangat strategis karena menjadi salah satu pusat keuangan terbesar di Asia.
Hal inilah yang menurutnya membuat Singapura menjadi tujuan utama arus modal global ketika terjadi ketidakpastian di kawasan.
“Ketika terjadi tekanan terhadap Indonesia, dana global cenderung mencari tempat yang dianggap lebih aman,” ujarnya.
Hubungan Diplomasi Indonesia dan Dugaan Tekanan Eksternal
Dalam videonya, Gema juga mengaitkan tekanan pasar dengan langkah diplomasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menyoroti sejumlah kebijakan seperti:
- Bergabung dengan BRICS.
- Kerja sama pertahanan dengan Prancis.
- Pembelian alutsista Eropa.
- Pembelian minyak dari Rusia.
- Kebijakan luar negeri bebas aktif.
Menurut Gema, langkah-langkah tersebut berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian kekuatan ekonomi global yang memiliki kepentingan tertentu.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa hal tersebut masih berupa analisis dan hipotesis yang menurutnya perlu terus diamati.
Kritik untuk Pemerintah Indonesia
Selain membahas faktor eksternal, Gema juga menyoroti berbagai kelemahan internal yang menurutnya perlu segera diperbaiki.
Beberapa di antaranya:
1. Komunikasi Publik
Ia menilai komunikasi pemerintah masih sering menimbulkan kebingungan di pasar.
2. Koordinasi Antarkementerian
Menurutnya masih terdapat ego sektoral yang membuat kebijakan berjalan tidak sinkron.
3. Kepastian Hukum
Persoalan hukum dan regulasi dianggap menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kepercayaan investor.
4. Konsistensi Kebijakan
Perubahan aturan yang terlalu cepat dinilai membuat dunia usaha kesulitan melakukan perencanaan.
5. Transparansi Program Strategis
Gema juga mendorong transparansi yang lebih besar terhadap berbagai program investasi dan pengelolaan aset negara.
Apa yang Diperkirakan Terjadi Selanjutnya?
Menurut Gema, tekanan terhadap Indonesia kemungkinan belum selesai.
Ia memperkirakan beberapa skenario yang perlu diwaspadai, antara lain:
- Arus keluar modal yang masih berlanjut.
- Penurunan peringkat dari lembaga pemeringkat lainnya.
- Meningkatnya sentimen negatif terhadap pasar Indonesia.
- Potensi gejolak politik menjelang berbagai agenda nasional.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tetap kritis namun tidak terjebak dalam kepanikan.
Menurut Gema Goeyardi, kondisi yang dialami Indonesia saat ini tidak hanya berkaitan dengan faktor ekonomi domestik.
Ia melihat adanya kombinasi antara kelemahan internal, tekanan global, dan kemungkinan faktor geopolitik yang memengaruhi persepsi investor terhadap Indonesia.
Meski demikian, ia menekankan bahwa Indonesia masih memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat, terlihat dari pertumbuhan ekonomi 5,61 persen, inflasi yang terjaga di 3,08 persen, cadangan devisa sebesar US$146,2 miliar, serta rasio utang yang masih berada di bawah batas aman.
Karena itu, fokus utama yang menurutnya perlu dilakukan saat ini adalah memperbaiki tata kelola, memperkuat komunikasi pemerintah, menjaga kepercayaan investor, dan meningkatkan daya tahan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks.