IHSG 22 Januari 2026 Berpotensi Rebound di Tengah Depresiasi Rupiah, Saham Tambang & Komoditas Jadi Andalan 2026

22 Januari 2026 12:00
Bagikan :
Pergerakan IHSG di tengah fluktuasi rupiah dan prospek saham komoditas pada 2026. (DoyanDuit)

DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026, pukul 11.33 WIB jelang penutupan sesi pertama berada di level 9.056 setelah sempat tertekan pada sesi sebelumnya.

Penguatan ini terjadi di tengah aksi jual bersih investor asing sekitar Rp1,8 triliun sehari sebelumnya, yang membuat IHSG sempat terkoreksi lebih dari satu persen.

Berdasarkan data perdagangan, IHSG bergerak di rentang 9.016–9.109 dengan level penutupan di sekitar 9.056. Secara teknikal, area 8.950–9.000 kini menjadi zona support kuat, sementara resistance terdekat berada di kisaran 9.035–9.080.

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai peluang rebound masih terbuka. Ia menyebutkan, “Selama IHSG mampu bertahan di atas area support psikologis 9.000, peluang penguatan teknikal masih cukup besar, terutama dengan kembali masuknya minat beli di saham-saham komoditas.”

Tekanan Rupiah dan Arus Modal Asing

Di sisi makro, rupiah memang masih berada dalam fase tertekan dan sempat mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Namun pemerintah dan Bank Indonesia menilai pelemahan ini lebih bersifat jangka pendek akibat sentimen global dan ketidakpastian geopolitik.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Rekor tertinggi IHSG yang sempat menembus 9.100 menjadi salah satu indikator kepercayaan investor terhadap prospek domestik.

“Kenaikan indeks tidak mungkin terjadi tanpa dukungan aliran dana asing. Ketika modal masuk, suplai dolar akan bertambah dan itu berpotensi menguatkan rupiah,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan ekonom Universitas Indonesia, Prof. Telisa Aulia Falianty, yang menjelaskan fenomena “exchange rate overshooting”.

Menurutnya, pergerakan rupiah yang tajam dalam jangka pendek kerap dipicu faktor non-fundamental, sementara dalam jangka panjang akan kembali ke keseimbangan sesuai kekuatan ekonomi riil.

Saham Rekomendasi: Fokus Komoditas dan Emiten Pilihan

Dalam kondisi pasar yang mulai stabil, analis merekomendasikan sejumlah saham dengan potensi teknikal menarik:

1. Trimegah Bangun Persada (NCKL)

  • Strategi: Buy if break 1.470
  • Target: 1.500–1.520
  • Cut loss: < 1.445
    Didukung prospek nikel sebagai komoditas strategis untuk baterai kendaraan listrik.

2. Merdeka Copper Gold (MDKA)

  • Strategi: Buy if break 3.330
  • Target: 3.400–3.520
  • Cut loss: < 3.250
    Eksposur ke emas dan tembaga membuat saham ini relatif defensif di tengah volatilitas global.

3. Merdeka Battery Materials (MBMA)

  • Strategi: Speculative buy 775–780
  • Target: 800–830
  • Cut loss: < 765
    Sentimen positif datang dari proyek hilirisasi nikel dan baterai.

4. VKTR Teknologi Mobilitas

  • Strategi: Speculative buy 1.190–1.220
  • Target: 1.250–1.340
  • Cut loss: < 1.190
    Terkait tema kendaraan listrik dan infrastruktur transportasi hijau.

5. Elang Mahkota Teknologi (EMTK)

  • Strategi: Speculative buy 160–175
  • Target: 180–195
  • Cut loss: < 135
    Didukung pemulihan sektor media dan digital.

6. Chandra Asri Pacific (CPI)

  • Strategi: Speculative buy 4.430–4.450
  • Target: 4.520–4.620
  • Cut loss: < 4.430
    Mengandalkan sektor petrokimia dan permintaan domestik.

Komoditas dan PNBP Minerba: Katalis Jangka Menengah

Prospek pasar saham 2026 juga tidak lepas dari peran sektor komoditas. Pemerintah menargetkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari subsektor mineral dan batubara mencapai Rp134 triliun, lebih tinggi dibanding realisasi tahun sebelumnya.

Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM menyebutkan bahwa target ini ditopang oleh kebijakan pengendalian produksi melalui RKAB serta potensi penguatan harga nikel, emas, dan batubara.

Di sisi lain, asosiasi industri menilai kebijakan ini perlu dievaluasi secara berkala agar keseimbangan antara volume produksi, harga global, dan penerimaan negara tetap terjaga.

Bagi investor pasar modal, kebijakan tersebut menjadi sinyal bahwa emiten tambang berpeluang memperoleh dukungan jangka menengah, baik dari sisi harga komoditas maupun stabilitas permintaan global.

Strategi Investor di Tengah Volatilitas

Dengan kombinasi teknikal IHSG yang mulai membaik, stabilisasi rupiah, dan outlook positif komoditas, strategi yang relatif aman adalah:

  • Fokus pada saham berfundamental kuat dan likuid.
  • Manfaatkan koreksi sebagai peluang akumulasi bertahap.
  • Disiplin menerapkan manajemen risiko melalui cut loss.

Di sisi makro, langkah Bank Indonesia melalui intervensi pasar valas, penguatan devisa hasil ekspor, serta instrumen lindung nilai dinilai mampu meredam volatilitas jangka pendek.

Namun investor tetap perlu mencermati perkembangan global, khususnya terkait arus modal dan kebijakan suku bunga internasional.

IHSG masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan teknikal selama mampu bertahan di atas area 9.000. Tekanan rupiah yang terjadi lebih mencerminkan sentimen jangka pendek, sementara fundamental ekonomi dan aliran dana asing tetap menjadi penopang utama pasar.

Saham-saham berbasis komoditas seperti NCKL, MDKA, dan MBMA berpotensi menjadi pilihan menarik di tengah target ambisius PNBP Minerba 2026 dan tren hilirisasi.

Dengan pendekatan selektif dan manajemen risiko yang disiplin, peluang memanfaatkan fase rebound IHSG tetap terbuka.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050