
DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka pekan dengan tekanan kuat. Pada perdagangan sesi pertama Senin, 2 Februari 2026, IHSG langsung tergelincir tajam hingga lebih dari 5 persen dan sempat menyentuh level terendah harian di kisaran 7.858.
Pada pukul 11.59 WIB, indeks tercatat berada di posisi 7.884,64 atau turun 444,96 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Tekanan jual sudah terasa sejak awal perdagangan. IHSG dibuka di level 8.306 dan gagal mempertahankan area psikologis 8.000.
Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang masih rapuh, terutama di tengah kekhawatiran investor terhadap tata kelola dan transparansi kepemilikan saham emiten besar.
Secara historis, penurunan harian di atas 5 persen tergolong jarang terjadi. Berdasarkan pengamatan pasar sepanjang beberapa tahun terakhir, koreksi sedalam ini biasanya dipicu oleh kombinasi sentimen domestik dan global yang saling memperkuat.
Tekanan Jual Saham Konglomerat Jadi Pemicu Utama
Saham Grup Besar Rontok Berjamaah
Aksi jual paling masif terjadi pada saham-saham milik kelompok usaha besar. Emiten dari grup konglomerasi menjadi pemberat utama laju IHSG sepanjang sesi pertama.
Beberapa saham yang mencatat penurunan signifikan antara lain:
| Emiten | Kode | Harga (Rp) | Perubahan | Persentase |
|---|---|---|---|---|
| PT Dian Swastatika Sentosa Tbk | DSSA | 84.550 | −14.600 | −14,60% |
| PT Bumi Resources Tbk | BUMI | 220 | −38 | −14,73% |
| PT Mora Telematika Indonesia Tbk | MORA | 9.925 | −1.750 | −14,99% |
| PT Amman Mineral Internasional Tbk | AMMN | 6.625 | −975 | −12,83% |
| PT Chandra Asri Pacific Tbk | TPIA | 5.825 | −625 | −9,69% |
| PT Barito Renewables Energy Tbk | BREN | 8.200 | −325 | −3,81% |
Tekanan ini menunjukkan bahwa investor global maupun domestik cenderung melakukan pengurangan risiko (risk-off) pada saham-saham dengan kepemilikan terkonsentrasi dan volatilitas tinggi.
Menurut pelaku pasar, peringatan dari MSCI terkait isu investability dan transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia menjadi katalis utama aksi jual tersebut.
Pasar merespons cepat isu transparansi karena hal ini berkaitan langsung dengan kepercayaan investor jangka panjang.
Saham Perbankan Relatif Bertahan
Di tengah tekanan luas, saham perbankan besar cenderung bergerak lebih stabil. PT Bank Central Asia Tbk masih mampu menguat tipis, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bergerak relatif datar hingga melemah terbatas.
Kondisi ini menunjukkan investor masih melihat sektor perbankan sebagai jangkar stabilitas, meskipun sentimen pasar secara keseluruhan sedang negatif.
Respons Otoritas: Stabilisasi dan Reformasi Pasar
OJK dan SRO Siapkan Langkah Lanjutan
Merespons gejolak pasar, Otoritas Jasa Keuangan bersama Self Regulatory Organization (SRO) menyiapkan sejumlah langkah stabilisasi. Fokus utama diarahkan pada peningkatan transparansi kepemilikan saham emiten serta penguatan aturan free float.
Salah satu rencana yang disiapkan adalah kewajiban free float minimum 15 persen bagi emiten baru. Aturan ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan mengurangi volatilitas ekstrem akibat kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi.
Selain itu, pembaruan struktur pengawasan juga dilakukan dengan penunjukan pejabat baru di jajaran dewan komisioner. Langkah ini dipandang sebagai sinyal keseriusan regulator dalam memperbaiki tata kelola pasar modal.
Dialog Intensif di Bursa Efek Indonesia
Pemerintah dan otoritas pasar modal juga menggelar dialog terbuka dengan pelaku pasar pada 1 Februari 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Pertemuan ini melibatkan OJK, Bank Indonesia, KPEI, KSEI, serta perwakilan investor institusi.
Beberapa agenda utama yang dibahas meliputi:
- Peningkatan transparansi kepemilikan saham
- Penegakan aturan dan tata kelola emiten yang lebih tegas
- Penguatan likuiditas melalui reformasi struktural
- Sinergi lintas lembaga untuk menjaga integritas pasar
Dialog ini menjadi bagian dari upaya jangka menengah untuk memulihkan kepercayaan investor. Bagi pembaca yang ingin memahami lebih jauh arah reformasi pasar modal nasional, kamu bisa membaca artikel analisis lanjutan tentang kebijakan terbaru OJK di kanal ekonomi kami.
Sentimen Global Ikut Menekan Pasar
Bursa Asia dan Wall Street Melemah
Tekanan tidak hanya datang dari dalam negeri. Bursa saham Asia bergerak melemah seiring turunnya kontrak berjangka Wall Street. Harga perak sempat jatuh hingga 5 persen, menandakan meningkatnya aversi risiko di pasar global.
Di sisi lain, harga minyak dunia turun hampir 3 persen setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Iran tengah melakukan negosiasi serius dengan Washington. Pernyataan ini menambah tekanan pada sektor energi dan komoditas.
Kombinasi sentimen global dan domestik tersebut membuat pelaku pasar cenderung menahan diri dan memilih aset yang lebih aman.
Kinerja Saham dan Sektor: Merah Mendominasi
Saham dengan Volume dan Pergerakan Ekstrem
Pada perdagangan sesi pertama, saham-saham dengan volume transaksi tertinggi didominasi emiten pertambangan dan perbankan. Namun, mayoritas saham berkapitalisasi besar berada di zona merah.
Di sisi lain, masih terdapat sejumlah saham yang mencatat kenaikan signifikan, terutama di papan pengembangan dan saham berkapitalisasi kecil. Kondisi ini menunjukkan rotasi sektor dan selektivitas investor tetap berlangsung meskipun indeks melemah tajam.
Saham dengan Volume Transaksi Tertinggi
| Emiten | Kode | Harga (Rp) | Perubahan |
|---|---|---|---|
| PT Bumi Resources Tbk | BUMI | 220 | −14,73% |
| PT Bank Central Asia Tbk | BBCA | 7.450 | +0,68% |
| PT Aneka Tambang Tbk | ANTM | 3.670 | −12,83% |
| PT Bank Rakyat Indonesia Tbk | BBRI | 3.810 | 0,00% |
| PT Petrosea Tbk | PTRO | 6.000 | −14,89% |
Saham Pencatat Kenaikan Tertinggi (Top Gainers)
| Emiten | Kode | Harga (Rp) | Kenaikan |
|---|---|---|---|
| PT Soho Global Health Tbk | SOHO | 2.240 | +24,79% |
| PT Inter-Delta Tbk | INTD | 308 | +23,20% |
| PT Nusantara Almazia Tbk | NZIA | 138 | +16,95% |
| PT Charnic Capital Tbk | NICK | 1.490 | +16,41% |
| PT Saraswanti Indoland Development Tbk | SWID | 133 | +13,68% |
Saham dengan Penurunan Maksimal (Auto Reject Bawah)
| Emiten | Kode | Harga (Rp) | Penurunan |
|---|---|---|---|
| PT Energi Mega Persada Tbk | ENRG | 1.105 | −15,00% |
| PT GTS Internasional Tbk | GTSI | 238 | −15,00% |
| PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk | NSSS | 1.275 | −15,00% |
| PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk | VKTR | 680 | −15,00% |
| PT MD Entertainment Tbk | FILM | 12.325 | −15,00% |
Hampir Semua Sektor Terkoreksi
Secara sektoral, tekanan terjadi hampir di seluruh sektor, dengan penurunan terdalam pada:
- Mineral non-energi
- Layanan konsumen
- Industri proses
- Komunikasi dan energi
Sektor finansial relatif lebih defensif, meskipun tetap mencatat koreksi mingguan dan bulanan. Berdasarkan data kinerja jangka panjang, beberapa sektor masih mencatat pertumbuhan kuat dalam horizon lima hingga sepuluh tahun, yang menunjukkan fundamental jangka panjang belum sepenuhnya berubah.
Data Kinerja Sektor (Ringkasan)
| Sektor | Perubahan Harian |
|---|---|
| Mineral Non-Energi | −12,55% |
| Layanan Konsumen | −11,96% |
| Industri Proses | −8,08% |
| Mineral Energi | −7,98% |
| Komunikasi | −6,95% |
| Finansial | −1,92% |
Apa yang Perlu Dicermati Investor?
Dalam kondisi pasar seperti ini, investor perlu bersikap rasional dan disiplin. Beberapa hal yang patut diperhatikan antara lain:
- Transparansi dan struktur kepemilikan emiten
- Likuiditas saham dan kepatuhan terhadap aturan free float
- Fundamental perusahaan dibandingkan pergerakan harga jangka pendek
- Arah kebijakan regulator dan respons pemerintah
Gejolak pasar sering kali membuka peluang bagi investor jangka panjang, namun juga mengandung risiko tinggi bagi trader jangka pendek. Membaca dinamika ini secara utuh menjadi kunci pengambilan keputusan.
Jika kamu tertarik memahami strategi bertahan di tengah pasar volatil, artikel panduan manajemen risiko saham yang kami siapkan bisa menjadi bacaan lanjutan yang relevan.
Volatilitas Tinggi Masih Membayangi IHSG
Penurunan IHSG lebih dari 5 persen pada sesi pertama 2 Februari 2026 menegaskan bahwa pasar modal Indonesia masih berada dalam fase volatil. Tekanan jual saham konglomerat, sorotan MSCI, serta sentimen global menjadi kombinasi yang sulit dihindari dalam jangka pendek.
Meski demikian, langkah reformasi dan dialog intensif yang dilakukan otoritas menunjukkan adanya komitmen untuk memperkuat fondasi pasar.
Dalam jangka menengah hingga panjang, konsistensi kebijakan dan peningkatan transparansi akan menjadi faktor penentu pemulihan kepercayaan investor.