IHSG Terperosok 5 Persen ke 7.800-an di Sesi Pertama 2 Februari 2026, Tekanan Saham Konglomerat Masih Dominan

2 Februari 2026 12:00
Bagikan :
Grafik IHSG Sesi 1 pada 2 Februari 2026. (TradingView)

DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka pekan dengan tekanan kuat. Pada perdagangan sesi pertama Senin, 2 Februari 2026, IHSG langsung tergelincir tajam hingga lebih dari 5 persen dan sempat menyentuh level terendah harian di kisaran 7.858.

Pada pukul 11.59 WIB, indeks tercatat berada di posisi 7.884,64 atau turun 444,96 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.

Tekanan jual sudah terasa sejak awal perdagangan. IHSG dibuka di level 8.306 dan gagal mempertahankan area psikologis 8.000.

Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang masih rapuh, terutama di tengah kekhawatiran investor terhadap tata kelola dan transparansi kepemilikan saham emiten besar.

Secara historis, penurunan harian di atas 5 persen tergolong jarang terjadi. Berdasarkan pengamatan pasar sepanjang beberapa tahun terakhir, koreksi sedalam ini biasanya dipicu oleh kombinasi sentimen domestik dan global yang saling memperkuat.

Tekanan Jual Saham Konglomerat Jadi Pemicu Utama

Saham Grup Besar Rontok Berjamaah

Aksi jual paling masif terjadi pada saham-saham milik kelompok usaha besar. Emiten dari grup konglomerasi menjadi pemberat utama laju IHSG sepanjang sesi pertama.

Beberapa saham yang mencatat penurunan signifikan antara lain:

Emiten Kode Harga (Rp) Perubahan Persentase
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk DSSA 84.550 −14.600 −14,60%
PT Bumi Resources Tbk BUMI 220 −38 −14,73%
PT Mora Telematika Indonesia Tbk MORA 9.925 −1.750 −14,99%
PT Amman Mineral Internasional Tbk AMMN 6.625 −975 −12,83%
PT Chandra Asri Pacific Tbk TPIA 5.825 −625 −9,69%
PT Barito Renewables Energy Tbk BREN 8.200 −325 −3,81%

Tekanan ini menunjukkan bahwa investor global maupun domestik cenderung melakukan pengurangan risiko (risk-off) pada saham-saham dengan kepemilikan terkonsentrasi dan volatilitas tinggi.

Menurut pelaku pasar, peringatan dari MSCI terkait isu investability dan transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia menjadi katalis utama aksi jual tersebut.

Pasar merespons cepat isu transparansi karena hal ini berkaitan langsung dengan kepercayaan investor jangka panjang.

Saham Perbankan Relatif Bertahan

Di tengah tekanan luas, saham perbankan besar cenderung bergerak lebih stabil. PT Bank Central Asia Tbk masih mampu menguat tipis, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bergerak relatif datar hingga melemah terbatas.

Kondisi ini menunjukkan investor masih melihat sektor perbankan sebagai jangkar stabilitas, meskipun sentimen pasar secara keseluruhan sedang negatif.

Respons Otoritas: Stabilisasi dan Reformasi Pasar

OJK dan SRO Siapkan Langkah Lanjutan

Merespons gejolak pasar, Otoritas Jasa Keuangan bersama Self Regulatory Organization (SRO) menyiapkan sejumlah langkah stabilisasi. Fokus utama diarahkan pada peningkatan transparansi kepemilikan saham emiten serta penguatan aturan free float.

Salah satu rencana yang disiapkan adalah kewajiban free float minimum 15 persen bagi emiten baru. Aturan ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan mengurangi volatilitas ekstrem akibat kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi.

Selain itu, pembaruan struktur pengawasan juga dilakukan dengan penunjukan pejabat baru di jajaran dewan komisioner. Langkah ini dipandang sebagai sinyal keseriusan regulator dalam memperbaiki tata kelola pasar modal.

Dialog Intensif di Bursa Efek Indonesia

Pemerintah dan otoritas pasar modal juga menggelar dialog terbuka dengan pelaku pasar pada 1 Februari 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Pertemuan ini melibatkan OJK, Bank Indonesia, KPEI, KSEI, serta perwakilan investor institusi.

Beberapa agenda utama yang dibahas meliputi:

  • Peningkatan transparansi kepemilikan saham
  • Penegakan aturan dan tata kelola emiten yang lebih tegas
  • Penguatan likuiditas melalui reformasi struktural
  • Sinergi lintas lembaga untuk menjaga integritas pasar

Dialog ini menjadi bagian dari upaya jangka menengah untuk memulihkan kepercayaan investor. Bagi pembaca yang ingin memahami lebih jauh arah reformasi pasar modal nasional, kamu bisa membaca artikel analisis lanjutan tentang kebijakan terbaru OJK di kanal ekonomi kami.

Sentimen Global Ikut Menekan Pasar

Bursa Asia dan Wall Street Melemah

Tekanan tidak hanya datang dari dalam negeri. Bursa saham Asia bergerak melemah seiring turunnya kontrak berjangka Wall Street. Harga perak sempat jatuh hingga 5 persen, menandakan meningkatnya aversi risiko di pasar global.

Di sisi lain, harga minyak dunia turun hampir 3 persen setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Iran tengah melakukan negosiasi serius dengan Washington. Pernyataan ini menambah tekanan pada sektor energi dan komoditas.

Kombinasi sentimen global dan domestik tersebut membuat pelaku pasar cenderung menahan diri dan memilih aset yang lebih aman.

Kinerja Saham dan Sektor: Merah Mendominasi

Saham dengan Volume dan Pergerakan Ekstrem

Pada perdagangan sesi pertama, saham-saham dengan volume transaksi tertinggi didominasi emiten pertambangan dan perbankan. Namun, mayoritas saham berkapitalisasi besar berada di zona merah.

Di sisi lain, masih terdapat sejumlah saham yang mencatat kenaikan signifikan, terutama di papan pengembangan dan saham berkapitalisasi kecil. Kondisi ini menunjukkan rotasi sektor dan selektivitas investor tetap berlangsung meskipun indeks melemah tajam.

Saham dengan Volume Transaksi Tertinggi

Emiten Kode Harga (Rp) Perubahan
PT Bumi Resources Tbk BUMI 220 −14,73%
PT Bank Central Asia Tbk BBCA 7.450 +0,68%
PT Aneka Tambang Tbk ANTM 3.670 −12,83%
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk BBRI 3.810 0,00%
PT Petrosea Tbk PTRO 6.000 −14,89%

Saham Pencatat Kenaikan Tertinggi (Top Gainers)

Emiten Kode Harga (Rp) Kenaikan
PT Soho Global Health Tbk SOHO 2.240 +24,79%
PT Inter-Delta Tbk INTD 308 +23,20%
PT Nusantara Almazia Tbk NZIA 138 +16,95%
PT Charnic Capital Tbk NICK 1.490 +16,41%
PT Saraswanti Indoland Development Tbk SWID 133 +13,68%

Saham dengan Penurunan Maksimal (Auto Reject Bawah)

Emiten Kode Harga (Rp) Penurunan
PT Energi Mega Persada Tbk ENRG 1.105 −15,00%
PT GTS Internasional Tbk GTSI 238 −15,00%
PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk NSSS 1.275 −15,00%
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk VKTR 680 −15,00%
PT MD Entertainment Tbk FILM 12.325 −15,00%

Hampir Semua Sektor Terkoreksi

Secara sektoral, tekanan terjadi hampir di seluruh sektor, dengan penurunan terdalam pada:

  • Mineral non-energi
  • Layanan konsumen
  • Industri proses
  • Komunikasi dan energi

Sektor finansial relatif lebih defensif, meskipun tetap mencatat koreksi mingguan dan bulanan. Berdasarkan data kinerja jangka panjang, beberapa sektor masih mencatat pertumbuhan kuat dalam horizon lima hingga sepuluh tahun, yang menunjukkan fundamental jangka panjang belum sepenuhnya berubah.

Data Kinerja Sektor (Ringkasan)

Sektor Perubahan Harian
Mineral Non-Energi −12,55%
Layanan Konsumen −11,96%
Industri Proses −8,08%
Mineral Energi −7,98%
Komunikasi −6,95%
Finansial −1,92%

Apa yang Perlu Dicermati Investor?

Dalam kondisi pasar seperti ini, investor perlu bersikap rasional dan disiplin. Beberapa hal yang patut diperhatikan antara lain:

  • Transparansi dan struktur kepemilikan emiten
  • Likuiditas saham dan kepatuhan terhadap aturan free float
  • Fundamental perusahaan dibandingkan pergerakan harga jangka pendek
  • Arah kebijakan regulator dan respons pemerintah

Gejolak pasar sering kali membuka peluang bagi investor jangka panjang, namun juga mengandung risiko tinggi bagi trader jangka pendek. Membaca dinamika ini secara utuh menjadi kunci pengambilan keputusan.

Jika kamu tertarik memahami strategi bertahan di tengah pasar volatil, artikel panduan manajemen risiko saham yang kami siapkan bisa menjadi bacaan lanjutan yang relevan.

Volatilitas Tinggi Masih Membayangi IHSG

Penurunan IHSG lebih dari 5 persen pada sesi pertama 2 Februari 2026 menegaskan bahwa pasar modal Indonesia masih berada dalam fase volatil. Tekanan jual saham konglomerat, sorotan MSCI, serta sentimen global menjadi kombinasi yang sulit dihindari dalam jangka pendek.

Meski demikian, langkah reformasi dan dialog intensif yang dilakukan otoritas menunjukkan adanya komitmen untuk memperkuat fondasi pasar.

Dalam jangka menengah hingga panjang, konsistensi kebijakan dan peningkatan transparansi akan menjadi faktor penentu pemulihan kepercayaan investor.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050