
DOYANDUIT – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Kamis, 9 Januari, dengan posisi di Rp16.855,40 per dolar AS. Rupiah tercatat turun 42,55 poin atau sekitar 0,25 persen dalam satu hari, mencerminkan tekanan lanjutan yang masih membayangi mata uang domestik.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar masih belum berpihak pada rupiah. Penguatan dolar AS secara global, ditambah kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dalam negeri, membuat pelaku pasar cenderung mengambil posisi defensif sejak awal perdagangan.
Tekanan Terlihat dalam Berbagai Periode Waktu
Jika dilihat lebih luas, pelemahan rupiah tidak hanya terjadi secara harian. Data pergerakan menunjukkan tekanan yang relatif konsisten dalam berbagai horizon waktu.
Kinerja rupiah terhadap dolar AS tercatat sebagai berikut:
- 1 hari: melemah 0,25 persen
- 5 hari: melemah 0,90 persen
- 1 bulan: melemah 1,15 persen
- 6 bulan: melemah 3,81 persen
- 1 tahun: melemah 3,79 persen
Tren ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap rupiah bersifat struktural dan tidak semata dipicu sentimen jangka pendek. Banyak pelaku pasar menilai penguatan dolar global masih menjadi faktor dominan dalam menentukan arah USD/IDR.
Data Ekonomi AS Dorong Penguatan Dolar
Dari sisi eksternal, membaiknya sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat kembali memperkuat posisi dolar AS.
Salah satu data yang menjadi perhatian pasar adalah lonjakan produktivitas tenaga kerja pada kuartal ketiga, yang tercatat sebagai yang tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Data dari Biro Statistik Tenaga Kerja menunjukkan produktivitas pekerja non-pertanian per jam meningkat 4,9 persen secara tahunan, setelah sebelumnya direvisi naik menjadi 4,1 persen pada kuartal kedua. Peningkatan efisiensi ini dinilai mampu menekan tekanan inflasi dari sisi upah.
Selain itu, indikator pasar tenaga kerja lainnya juga relatif solid:
- Pemutusan hubungan kerja di AS turun 8,3 persen (yoy) pada Desember 2025
- Jumlah PHK tercatat 35.553, terendah sejak Juli 2024
- Initial Jobless Claims naik menjadi 208 ribu, namun tetap di bawah ekspektasi pasar
Kombinasi data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan moneter ketat di AS akan bertahan lebih lama, sehingga menopang penguatan dolar terhadap mata uang lain, termasuk rupiah.
Defisit Fiskal Domestik Tambah Beban Rupiah
Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal turut menjadi faktor penekan. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tercatat melebar menjadi 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dari proyeksi resmi sebelumnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi sementara defisit APBN 2025 mencapai Rp695,1 triliun per 31 Desember 2025. Angka ini hampir menyentuh batas maksimum defisit yang ditetapkan undang-undang sebesar 3 persen dari PDB.
Menurut pengamatan pelaku pasar, kondisi tersebut meningkatkan persepsi risiko fiskal dan membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berdenominasi rupiah, terutama di tengah ketidakpastian pembiayaan APBN pada 2026.
Neraca Perdagangan AS Ikut Memperkuat Dolar
Sentimen positif terhadap dolar AS juga datang dari membaiknya neraca perdagangan. Pada Oktober 2025, defisit perdagangan AS menyempit menjadi 29,4 miliar dolar AS, level terendah sejak 2009, seiring melemahnya impor.
Bagi pasar global, data ini memperkuat pandangan bahwa fundamental ekonomi AS masih relatif kuat dibandingkan banyak negara lain. Dampaknya, arus modal global cenderung kembali mengarah ke aset dolar.
Risiko Uji Level Lebih Tinggi
Secara teknikal, pergerakan rupiah masih berada dalam tren melemah. Area Rp16.850–Rp16.880 per dolar AS kini menjadi zona krusial yang diawasi pelaku pasar. Jika tekanan global berlanjut, rupiah berisiko melanjutkan pelemahan ke level yang lebih tinggi.
Minimnya sentimen positif domestik dalam jangka pendek membuat ruang penguatan rupiah relatif terbatas. Pergerakan USD/IDR saat ini masih sangat sensitif terhadap rilis data ekonomi AS dan dinamika pasar global.
Selama sentimen global belum berubah dan risiko fiskal masih menjadi perhatian, rupiah diperkirakan tetap bergerak volatil dengan kecenderungan tertekan. Stabilitas kebijakan dan kejelasan arah fiskal akan menjadi faktor penting untuk memulihkan kepercayaan pasar.