
DOYANDUIT – Bank Indonesia melaporkan uang primer adjusted pada Desember 2025 tumbuh 16,8% secara tahunan (year on year/yoy) dan mencapai Rp2.367,8 triliun. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 13,3% yoy, mencerminkan penguatan likuiditas menjelang akhir tahun.
Berdasarkan rilis resmi Bank Indonesia, peningkatan uang primer adjusted ditopang oleh kenaikan giro bank umum di Bank Indonesia (adjusted) serta pertumbuhan uang kartal yang diedarkan. Kedua komponen tersebut menjadi indikator awal bahwa tekanan likuiditas yang sempat terjadi pada periode sebelumnya mulai mereda.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa indikator uang primer adjusted digunakan untuk memberikan gambaran yang lebih bersih mengenai kondisi likuiditas, karena telah menyesuaikan dampak kebijakan insentif likuiditas yang berlaku.
Komponen Utama Pendorong Likuiditas
Secara garis besar, pertumbuhan uang primer adjusted Desember 2025 didukung oleh:
- Giro bank umum di Bank Indonesia (adjusted) yang tumbuh 35,1% yoy
- Uang kartal yang beredar di masyarakat meningkat 12,9% yoy
Pertumbuhan giro mencerminkan posisi likuiditas perbankan yang lebih longgar, sementara peningkatan uang kartal menunjukkan aktivitas transaksi masyarakat yang tetap bergerak, terutama pada periode akhir tahun.
Dalam konteks kebijakan moneter, perkembangan ini penting karena uang primer merupakan fondasi awal bagi pembentukan uang beredar dan penyaluran kredit ke perekonomian.
Uang Primer sebagai Fondasi Uang Beredar
Uang primer atau M0 sering kali dipandang sebagai indikator awal arah kebijakan ekonomi. Ketika uang primer tumbuh, sistem keuangan memiliki ruang yang lebih besar untuk mendukung aktivitas ekonomi melalui pembiayaan dan transaksi.
Sebaliknya, pengalaman historis menunjukkan bahwa periode ketika pertumbuhan uang primer sangat rendah atau mendekati nol kerap beriringan dengan perlambatan ekonomi.
Karena itu, pertumbuhan dua digit uang primer adjusted di akhir 2025 dapat dibaca sebagai indikasi pelonggaran likuiditas yang lebih terukur, meski dampaknya ke ekonomi riil tetap bergantung pada transmisi lanjutan ke kredit dan konsumsi.
Pandangan Purbaya Soal Pertumbuhan Uang Beredar
Sebelumnya, pandangan mengenai pentingnya pertumbuhan uang beredar telah disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam berbagai forum kebijakan, termasuk saat berbicara di Rapimnas Kadin pada awal Desember 2025.
Dalam forum tersebut, Purbaya menekankan bahwa untuk membaca apakah kebijakan ekonomi bersifat longgar atau ketat, indikator yang lebih relevan adalah laju pertumbuhan uang, bukan semata-mata pergerakan suku bunga.
Ia mengingatkan bahwa suku bunga rendah tidak selalu mencerminkan ekonomi yang longgar jika uang beredar justru stagnan. Menurut Purbaya, periode ketika pertumbuhan uang mendekati nol menciptakan efek “rem” bagi perekonomian.
Sebaliknya, ketika pertumbuhan uang kembali bergerak, aktivitas ekonomi berangsur pulih seiring membaiknya transmisi ke sektor riil.
Relevansi terhadap Kondisi Terkini
Dalam konteks ini, data uang primer adjusted Desember 2025 dapat dipandang selaras secara arah. Pertumbuhan M0 adjusted yang menguat memberi fondasi likuiditas yang dibutuhkan agar uang beredar dapat kembali mengalir lebih luas ke perekonomian.
Purbaya sebelumnya juga menilai bahwa pertumbuhan uang beredar yang sehat berpotensi mendorong penurunan bertahap suku bunga simpanan, antarbank, hingga kredit.
Pola tersebut diharapkan membuka ruang bagi sektor swasta untuk kembali berperan lebih aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan uang primer adjusted sebesar 16,8% yoy pada Desember 2025 merupakan sinyal awal bahwa likuiditas ekonomi mulai menguat. Namun, sebagaimana sering ditekankan dalam diskursus kebijakan, uang primer bukan tujuan akhir, melainkan alat.
Efektivitasnya akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat dan berkualitas likuiditas tersebut diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi nyata, mulai dari kredit produktif, investasi, hingga konsumsi domestik.
Dengan demikian, data akhir 2025 ini dapat dibaca sebagai fondasi awal menuju 2026, sementara keberlanjutan pertumbuhan ekonomi akan bergantung pada konsistensi kebijakan dan respons sektor usaha dalam periode mendatang.