Sepekan Rupiah Tertekan Sinyal The Fed, IHSG Masih Tahan di Zona Hijau, Aksi Asing Jadi Sorotan

21 Februari 2026 17:00
Bagikan :
Pergerakan rupiah dan IHSG dipengaruhi sinyal kebijakan suku bunga global dan arus dana asing. (DoyanDuit)

DOYANDUIT – Rupiah melemah 0,30% dalam sepekan meskipun pada Jumat, 20 Februari 2026, sempat ditutup menguat tipis di level Rp16.880 per dolar AS. Data JISDOR Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan harian, namun tekanan mingguan tetap terasa.

Pelemahan rupiah kali ini tidak berdiri sendiri. Pasar merespons risalah rapat Federal Reserve yang bernada hawkish, ditambah data tenaga kerja Amerika Serikat yang solid. Kombinasi ini menopang penguatan dolar AS.

Risalah rapat FOMC periode Januari menunjukkan perbedaan pandangan antarpejabat. Mayoritas memperkirakan inflasi akan mereda dan membuka ruang pemangkasan suku bunga. Namun sebagian lainnya tetap membuka opsi kenaikan suku bunga jika inflasi bertahan di atas target 2%.

Keputusan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75% didukung hampir seluruh anggota. Tetapi pasar membaca satu pesan penting: arah kebijakan belum sepenuhnya dovish.

Secara teknikal, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.880 hingga Rp16.910 per dolar AS dalam waktu dekat.

Sikap Bank Indonesia: Stabilitas Nilai Tukar Jadi Prioritas

Di dalam negeri, Bank Indonesia kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75% untuk periode Februari 2026.

Selain itu:

  • Suku bunga deposit facility tetap di 3,75%
  • Suku bunga lending facility bertahan di 5,50%

Gubernur BI menegaskan kebijakan ini fokus pada stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Inflasi domestik diperkirakan tetap terkendali di kisaran 2,5% ±1%. Artinya, ruang pelonggaran tetap ada, tetapi BI memilih berhati-hati.

Dari sudut pandang kebijakan moneter, langkah ini mencerminkan keseimbangan antara menjaga stabilitas rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

 

IHSG Sepekan Naik 0,72%, Kapitalisasi Tembus Rp14.941 Triliun

Berbeda dengan rupiah yang tertekan, IHSG justru mencatat kenaikan 0,72% selama periode 16–20 Februari 2026. Indeks ditutup di level 8.271,767.

Kapitalisasi pasar juga meningkat 0,35% menjadi Rp14.941 triliun.

Data Perdagangan Sepekan:

  • Rata-rata frekuensi transaksi harian naik 11,99% menjadi 3,06 juta kali
  • Volume transaksi harian naik 3,87% menjadi 47 miliar saham
  • Investor asing mencatat net buy Rp240,57 miliar
  • Sepanjang 2026, asing masih net sell Rp14,42 triliun

Namun di penutupan akhir pekan, IHSG terkoreksi tipis 0,03% setelah sempat menyentuh 8.328 secara intraday.

Rotasi Sektor dan Aksi Asing

Secara sektoral:

  • Infrastruktur naik 0,92%
  • Keuangan menguat 0,54%
  • Konsumsi primer turun 1,53%
  • Transportasi dan logistik melemah 1,06%

Tekanan jual asing masih terlihat di sektor perbankan besar. Namun, terdapat rotasi ke saham-saham tertentu yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan.

Volume transaksi cenderung tipis karena short week dan trauma pasar pasca koreksi besar sebelumnya.

Sham dengan volatilitas tinggi lebih banyak menarik perhatian trader jangka pendek, sementara investor jangka panjang cenderung menunggu konfirmasi arah kebijakan global.

Dinamika Global: Wall Street dan Eropa Terkoreksi

Bursa AS ditutup melemah:

  • S&P 500 turun 0,28%
  • Nasdaq melemah 0,31%
  • Dow Jones turun 0,54%

Tekanan datang dari sektor teknologi, terutama saham berbasis AI yang dinilai memiliki valuasi tinggi.

Di Eropa, indeks utama juga terkoreksi setelah sempat mencetak rekor tertinggi sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan pasar global masih sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga dan ketidakpastian ekonomi.

Aksi Korporasi: Ekspansi dan Pelunasan Obligasi

Beberapa emiten juga mencatat perkembangan penting:

  1. PT Matahari Putra Prima Tbk mengakuisisi enam aset properti senilai Rp780 miliar di berbagai kota. Langkah ini diharapkan memperkuat ekspansi bisnis ritel.
  2. PT Sinarmas Agro Resources and Technology Tbk memastikan pelunasan obligasi Rp220 miliar yang jatuh tempo Februari 2026, dengan sumber dana dari penerbitan sukuk ijarah.

Aksi korporasi ini memberi sinyal bahwa dunia usaha tetap bergerak aktif meski pasar global penuh dinamika.

 

Rupiah Melemah, IHSG Bertahan

Rupiah melemah 0,30% sepekan akibat tekanan eksternal, terutama sinyal kebijakan Federal Reserve dan kuatnya data ekonomi AS. Namun, IHSG justru mampu mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan 0,72% dan kapitalisasi pasar menembus Rp14.941 triliun.

Ke depan, stabilitas nilai tukar dan arus dana asing tetap menjadi faktor utama pergerakan pasar. Investor perlu mencermati kebijakan global sekaligus dinamika domestik.

Dalam situasi seperti ini, disiplin manajemen risiko dan strategi investasi yang terukur menjadi kunci menghadapi volatilitas pasar 2026.

Berita Terbaru
bos paud ra kemenag
Panduan Lengkap Pengisian Dokumen Ajuan BOP RA Tahap 2 Tahun 2026 agar Cepat Diverifikasi
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah