Kisah Inspiratif Saamra Mekuria-Grillo, Setiap Orang Bisa Jadi Entrepreneur meski dengan Banyak Keterbatasan

21 Oktober 2025 18:00
Bagikan :
Cara membangun makna baru kewirausahaan yang inklusif dan inspiratif bagi generasi muda. (Freepik)

DOYANDUIT – Selama ini, banyak orang punya gambaran sempit tentang sosok entrepreneur. Bayangan paling umum? Seorang pria muda berbaju hoodie yang membangun startup di garasi rumah.

Gambaran itu memang populer berkat kisah sukses seperti Mark Zuckerberg atau Elon Musk, tapi menurut Saamra Mekuria-Grillo, pandangan tersebut justru membatasi banyak orang untuk percaya bahwa mereka juga bisa menjadi pengusaha.

Saamra mengaku baru menjadi entrepreneur di usia 39 tahun, meski sejak muda ia tumbuh di lingkungan yang penuh semangat wirausaha. Kedua orang tuanya memiliki bisnis kecil: sang ibu seorang pembuat film independen dan ayahnya pengacara mandiri.

Namun, mereka tak pernah menyebut diri mereka sebagai “entrepreneur”. “Mereka bicara soal kuliah dan pekerjaan bagus, bukan soal membangun usaha,” ujarnya.

Bagi Saamra, hal ini menunjukkan betapa kuatnya persepsi sosial dalam membentuk identitas. Ia sempat merasa bahwa dunia wirausaha hanya terbuka bagi orang-orang tertentu, yakni mereka yang punya “koneksi”, “modal”, dan “pengetahuan ajaib” tentang bagaimana menciptakan perusahaan dari ide sederhana.

Saat Representasi Mengubah Segalanya

Pergeseran besar terjadi ketika Saamra melihat perempuan kulit hitam lain di sekitarnya mulai meluncurkan bisnis dan menyebut diri mereka sebagai pengusaha.

Dari situlah kepercayaan dirinya tumbuh. “Melihat orang yang seperti saya melakukannya, membuat saya yakin bahwa saya juga bisa,” katanya.

Berdasarkan pengalamannya, representasi punya kekuatan luar biasa. Banyak anak muda kulit hitam di Amerika yang ketika ditanya siapa sosok entrepreneur inspiratif, mereka menjawab: Mark Zuckerberg, Bill Gates, atau Elon Musk.

Dan ketika menyebut nama dari komunitas mereka sendiri, biasanya terbatas pada bidang hiburan atau olahraga seperti Beyoncé, Jay-Z, atau Serena Williams.

Padahal, dunia wirausaha jauh lebih luas dari itu. Saamra menyebut beberapa contoh penting: Tope Awotona (pendiri Calendly), Shontay Lundy (pencipta Black Girl Sunscreen), Robert Reffkin (pendiri Compass Real Estate), dan Julia Collins (pendiri Planet Forward).

“Jika anak muda bisa melihat orang-orang seperti mereka di posisi sukses, mereka akan lebih mudah membayangkan diri mereka di sana juga,” tegasnya.

Membuka Banyak Jalan Menuju Kewirausahaan

Menurut Saamra, salah satu hal yang paling penting adalah mengajarkan bahwa tidak ada satu cara tunggal untuk menjadi entrepreneur.
Ada banyak jalur yang bisa ditempuh:

  • Side hustle atau usaha sampingan
  • Pemilik usaha kecil (small business)
  • Intrapreneurship di dalam perusahaan
  • Startup teknologi berskala besar

Namun, sayangnya, hanya jalur startup teknologi yang sering disorot media. “Budaya ‘tech bro’ dengan hoodie itu tidak inklusif,” ujarnya sambil tertawa dalam pidatonya.

Karena itu, organisasi yang ia dirikan kini berfokus untuk membantu generasi muda kulit hitam menemukan jalur kewirausahaan yang sesuai dengan jati diri mereka.

Ia juga mengembangkan program mentorship berbasis near-peer, yaitu bimbingan dari wirausahawan muda yang baru beberapa langkah lebih maju.

“Ketika mereka melihat seseorang seperti Jada, yang punya bisnis lash tech sendiri, atau Ahmed, seorang filmmaker muda, mereka merasa lebih dekat dan percaya diri,” tutur Saamra.

Modal Sosial: Kunci yang Sering Terlupakan

Selain modal finansial, faktor terpenting dalam dunia wirausaha menurut Saamra adalah modal sosial (social capital),  jaringan hubungan yang membuka peluang baru.

“Setiap entrepreneur sukses pasti bisa menunjuk satu pertemuan atau koneksi yang mengubah arah hidupnya,” katanya.

Saamra percaya bahwa kemampuan membangun jaringan bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dipelajari. D

alam programnya, ia mengajarkan peserta untuk mengenali siapa saja yang sudah ada dalam lingkaran mereka, belajar menggunakan platform seperti LinkedIn, dan berani menghubungi orang-orang yang bisa membantu.

Pendekatan ini terbukti efektif. Ia menyaksikan anak-anak muda yang awalnya hanya penasaran menjadi sosok percaya diri dalam waktu kurang dari tiga bulan.

“Ada momen ajaib ketika mereka menyadari bahwa mereka sudah punya potensi dan koneksi yang bisa membawa mereka ke depan,” ucapnya.

Mengapa Inklusivitas dalam Wirausaha Penting

Kewirausahaan bukan hanya soal membangun bisnis, tapi juga membangun kesetaraan. Data menunjukkan, keluarga kulit hitam di Amerika rata-rata hanya memiliki 15% kekayaan dari keluarga kulit putih.

Jika generasi muda kulit hitam hanya diajarkan untuk “mencari kerja” dan bukan “menciptakan kerja”, maka kesenjangan ini akan terus melebar.

Lebih jauh lagi, laporan ekonomi menunjukkan bahwa menutup kesenjangan pendapatan antar ras dapat menambah hingga USD 8 triliun bagi ekonomi Amerika Serikat pada 2050.

Selain itu, dengan munculnya teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), banyak pekerjaan lama akan tergantikan. Mereka yang tahu cara “menciptakan pekerjaan” akan lebih siap menghadapi masa depan.

Refleksi: Melihat Diri Sendiri Sebagai Pembuat Peluang

Saamra menjadi bukti bahwa tidak ada kata terlambat untuk mulai berwirausaha. Ia memulai organisasinya di usia 39 tahun dan kini membantu ratusan anak muda menemukan kepercayaan diri sebagai pembuat peluang, bukan sekadar pencari kerja.

“Bayangkan jika anak muda bisa melihat diri mereka sebagai pencipta pekerjaan sejak usia 19 tahun,” katanya. “Mereka tak hanya akan mengubah hidup mereka, tapi juga masa depan seluruh komunitas.”

Kisah Saamra memberi kita satu pesan penting: wirausaha bukanlah privilese bagi segelintir orang, tapi peluang yang bisa diakses siapa pun.

Dengan membangun jaringan, mencari panutan yang relevan, dan menemukan jalur yang sesuai, setiap orang bisa menjadi bagian dari perubahan besar.

Kesimpulan

Menjadi entrepreneur bukan hanya soal ide besar, tapi juga keberanian untuk melihat diri sendiri sebagai pembuat perubahan. Seperti yang dikatakan Saamra Mekuria-Grillo, “Tidak ada satu cara untuk menjadi pengusaha, dan tidak ada batasan siapa yang boleh menjadi satu.”

Dengan memahami hal ini, kamu bisa mengambil keputusan karier dengan lebih percaya diri — dan mungkin, menciptakan pekerjaan bagi orang lain di sepanjang jalan.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050