Penjualan Eceran Diproyeksi Melemah Oktober 2026 dan Januari 2027

10 September 2026 15:00
Bagikan :
BI mencatat ekspektasi penjualan eceran Oktober 2026 dan Januari 2027 menurun. Penurunan Januari dipengaruhi normalisasi pasca Natal.

DOYANDUIT – Ekspektasi penjualan eceran di Indonesia mulai menunjukkan pelemahan menjelang akhir 2026 dan awal 2027. Hasil Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Oktober 2026 turun menjadi 143,9, dari periode sebelumnya sebesar 148,3.

Penurunan ekspektasi juga terlihat pada Januari 2027. IEP Januari tercatat 158,0, merosot dibandingkan periode Desember 2026 yang mencapai 171,6.

Data tersebut menunjukkan pelaku usaha ritel memperkirakan momentum penjualan tidak sekuat periode sebelumnya.

Ekspektasi Januari Turun Setelah Natal

BI mencatat pelemahan ekspektasi penjualan Januari 2027 terutama berkaitan dengan normalisasi aktivitas konsumsi setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal.

Periode menjelang dan selama Natal biasanya menjadi salah satu momentum yang mendorong aktivitas belanja masyarakat. Setelah periode tersebut berakhir, permintaan diperkirakan kembali ke pola normal.

Penurunan IEP Januari dari 171,6 menjadi 158,0 karena itu tidak serta-merta menunjukkan kontraksi tajam konsumsi rumah tangga. Angka tersebut lebih menggambarkan berkurangnya optimisme pelaku usaha terhadap penjualan setelah melewati periode dengan faktor musiman yang relatif kuat.

Sementara itu, turunnya IEP Oktober dari 148,3 menjadi 143,9 menunjukkan bahwa pelemahan ekspektasi sudah terlihat sebelum memasuki periode pasca-Natal.

Tekanan Harga Juga Diperkirakan Menurun

Menariknya, pelemahan ekspektasi penjualan berjalan bersamaan dengan penurunan perkiraan tekanan harga.

BI mencatat Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Oktober 2026 sebesar 146,5, turun dari 155,2 pada periode sebelumnya.

IEH Januari 2027 juga diproyeksikan berada di 166,0, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 168,1.

Kondisi tersebut menunjukkan pelaku usaha memperkirakan tekanan inflasi pada Oktober 2026 dan Januari 2027 cenderung lebih rendah.

Dengan demikian, perlambatan ekspektasi penjualan tidak sepenuhnya dibarengi kekhawatiran terhadap kenaikan harga. Dari sisi konsumen, tekanan harga yang lebih rendah berpotensi membantu menjaga daya beli, meski pelaku usaha tetap memperkirakan penjualan tidak setinggi periode sebelumnya.

Penjualan Agustus Masih Tumbuh

Sementara ekspektasi ke depan mulai melemah, kinerja penjualan eceran pada Agustus 2026 masih diproyeksikan tumbuh secara tahunan.

BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2026 tumbuh 0,5% secara tahunan (yoy).

Namun, pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 1,1% yoy.

Secara bulanan, penjualan eceran Agustus diperkirakan mengalami kontraksi 0,1% month to month (mtm). Angka tersebut masih sama dengan kontraksi yang tercatat pada bulan sebelumnya.

Artinya, sektor ritel masih mencatat pertumbuhan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi momentumnya mulai tidak sekuat bulan sebelumnya.

Suku Cadang Jadi Penopang Utama

Pertumbuhan penjualan Agustus terutama ditopang oleh kelompok Suku Cadang dan Aksesori.

Kelompok tersebut memiliki indeks 150,0 dan tumbuh 10,1% yoy, menjadi salah satu penyumbang utama pertumbuhan penjualan eceran.

Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau juga masih mencatat pertumbuhan. Indeks kelompok ini mencapai 317,6, dengan pertumbuhan 0,7% yoy.

Kinerja kedua kelompok tersebut menunjukkan aktivitas konsumsi masih berjalan, meski pertumbuhan keseluruhan penjualan eceran mulai melambat.

Membaca Arah Konsumsi hingga Awal 2027

Rangkaian data survei BI memperlihatkan dua kondisi yang berjalan bersamaan.

Di satu sisi, penjualan eceran pada Agustus masih tumbuh secara tahunan. Di sisi lain, ekspektasi pelaku usaha untuk Oktober 2026 dan Januari 2027 justru mengalami penurunan.

Pelemahan ekspektasi Januari sebagian besar bersifat musiman karena berkaitan dengan normalisasi setelah Natal. Namun, penurunan IEP Oktober juga menunjukkan pelaku usaha mulai memperkirakan momentum penjualan yang lebih moderat sebelum memasuki periode tersebut.

Sementara itu, turunnya indeks ekspektasi harga memberikan gambaran bahwa tekanan harga diperkirakan lebih terkendali.

Jika kondisi tersebut terealisasi, tantangan sektor ritel ke depan bukan hanya mengenai harga, tetapi juga bagaimana menjaga permintaan konsumen ketika momentum belanja musiman mulai berakhir.

Data tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati untuk melihat arah konsumsi domestik hingga akhir 2026 dan memasuki awal 2027.

Berita Terbaru
32043
Daftar Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027, Total 26 Hari
harga emas
Harga Emas Dunia Tertekan, Pasar Makin Yakin The Fed Naikkan Suku Bunga
Screenshot 2026-09-15 101601
Anggota DPD RI Kenang Rapat Terakhir dengan Purbaya, Bawa Harapan 6 Program Besar dari Pengangkatan PPPK Paruh Waktu hingga Utang Daerah Dibayar Negara
suahazil nazara
Profil Suahasil Nazara: Guru Besar UI yang Kini Kelola APBN Rp4.000 Triliun, Hartanya Rp138 Miliar
menkeu ri
Empat Dugaan di Balik Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari Kursi Menteri Keuangan