Bitcoin Bertahan di Area US$87.000, Pasar Kripto Menunggu Arah Jelang 2026

30 Desember 2025 12:00
Bagikan :
Pergerakan harga Bitcoin menjelang akhir tahun 2025. (TradingView)

DOYANDUIT – Harga Bitcoin (BTC) bertahan di sekitar US$87.000 pada perdagangan Selasa pagi waktu Asia, mencerminkan kondisi pasar kripto yang relatif stabil di tengah perlambatan aktivitas akhir tahun.

Stabilitas ini muncul ketika bursa saham Asia mulai melemah setelah mencatat reli selama tujuh hari berturut-turut, sementara saham teknologi Amerika Serikat mengalami tekanan menjelang penutupan tahun.

Indeks saham Asia Pasifik versi MSCI tercatat turun sekitar 0,1% pada awal perdagangan. Di saat yang sama, kontrak berjangka S&P 500 melemah tipis setelah indeks utama Wall Street ditutup turun 0,3% pada sesi sebelumnya.

Tekanan juga terlihat pada Nasdaq 100 yang terkoreksi 0,5%, dengan saham-saham teknologi besar seperti Tesla, Nvidia, dan Meta berada di zona merah.

Di pasar kripto, kondisi tersebut tercermin pada pergerakan harga yang cenderung mendatar dengan volatilitas terbatas.

Snapshot Pasar Kripto Terkini

Berikut gambaran pergerakan aset kripto utama pada perdagangan terbaru:

  • Bitcoin: US$87.164, turun 1,9%
  • Ether (ETH): US$2.929, turun 2,3%
  • XRP: US$1,85, turun 2,2%
  • Total kapitalisasi pasar kripto: US$3,03 triliun, turun 2,1%

Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual terjadi secara merata, seiring menurunnya partisipasi pasar menjelang akhir tahun kalender.

Volume Menyusut, Bitcoin dan Ethereum Bergerak Sideways

Dikutip dari cryptonews, menurut Jake Kennis, analis riset senior di Nansen, aktivitas perdagangan kripto memang cenderung melambat pada periode akhir tahun. Ia menilai pergerakan harga Bitcoin dan Ethereum yang mendatar dalam sepekan terakhir lebih mencerminkan pola musiman, bukan perubahan struktur pasar.

“Bitcoin dan Ethereum sebagian besar bergerak sideways dalam beberapa hari terakhir. Ini lebih disebabkan oleh aktivitas musiman akhir tahun, bukan karena pergeseran fundamental pasar,” ujar Kennis.

Ia juga mencatat adanya penurunan aktivitas on-chain di berbagai jaringan, termasuk jumlah alamat aktif, transaksi, dan biaya jaringan dalam 30 hari terakhir.

Jaringan seperti Base mengalami penurunan volume DEX setelah sempat mencatat lonjakan signifikan sebelumnya. Sementara itu, Solana masih menjadi jaringan dengan volume perdagangan on-chain terbesar, meskipun aktivitas pengguna sedikit melunak, dengan BNB Chain berada cukup jauh di belakang.

Kennis menegaskan bahwa perlambatan ini bukan berarti minat pasar menghilang. Aktivitas hanya menjadi lebih selektif menjelang tutup tahun.

Volatilitas Logam Mulia Ikut Tekan Sentimen

Selain kripto, pasar logam mulia juga mengalami volatilitas tajam. Harga perak anjlok hampir 4,8% setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi, sementara emas terkoreksi usai mencetak level puncak baru.

Tekanan ini terjadi seiring aksi ambil untung dan menurunnya likuiditas pasar pasca-libur. Investor global kini menanti rilis risalah rapat Federal Reserve bulan Desember, yang kerap menjadi acuan untuk mengatur ulang ekspektasi suku bunga ketika posisi pasar mulai padat.

Meski demikian, secara tahunan aset berisiko masih mencatat kinerja solid. Indeks MSCI All Country World telah naik sekitar 21% sepanjang 2025, sementara saham Asia secara agregat melonjak hampir 26%.

Bitcoin Berada di Area Biaya Rata-Rata Investor Aktif

Data on-chain terbaru menunjukkan Bitcoin saat ini bergerak di sekitar biaya perolehan investor aktif. Analisis dari Glassnode mengungkapkan bahwa harga Bitcoin kini berada di sekitar Active Realized Price, level yang mencerminkan rata-rata harga beli investor yang masih aktif bertransaksi.

Glassnode menjelaskan bahwa:

  • Realized Price Bitcoin berada di sekitar US$56.200, menandakan secara agregat jaringan Bitcoin masih berada dalam posisi untung.
  • True Market Mean tercatat di kisaran US$81.100, yang sebelumnya menjadi area dasar saat koreksi besar November lalu.
  • Active Realized Price berada di sekitar US$87.700, level yang saat ini menjadi zona konsolidasi harga Bitcoin.

Dengan harga spot yang bergerak di sekitar level tersebut, investor aktif secara ekonomi dapat dikatakan berada dalam posisi impas.

Tekanan Masih Terasa bagi Investor Jangka Pendek

Meski kondisi investor aktif relatif netral, situasi berbeda dialami kelompok short-term holders (STH), yakni alamat yang memperoleh Bitcoin dalam 155 hari terakhir.

Saat ini, STH Realized Price berada di kisaran US$99.900, yang berarti kelompok ini masih berada dalam kondisi rugi secara agregat.

Kondisi ini menjelaskan mengapa tekanan jual sesekali muncul ketika harga mendekati area US$90.000, sekaligus memperkuat pola konsolidasi dalam rentang US$86.000–US$90.000.

Optimisme Jangka Menengah Tetap Terjaga

Setelah mengalami koreksi sekitar 30% dari rekor tertinggi Oktober lalu, ekspektasi pasar terhadap Bitcoin tetap relatif positif.

Analis pasar Dominic Basulto dari The Motley Fool menilai Bitcoin berpotensi mencapai US$150.000 pada 2026, dengan salah satu pendorong utama berupa pembentukan US Strategic Bitcoin Reserve.

Basulto mengacu pada pola historis Bitcoin, di mana aset ini kerap mencatat pemulihan kuat setelah periode tekanan. Ia membandingkan situasi saat ini dengan tahun 2019, ketika Bitcoin melonjak hampir 95% setelah anjlok 74% pada 2018.

Peran Institusi dan Cadangan Negara Jadi Kunci

Menurut Basulto, peluang Bitcoin mencapai level tersebut sangat bergantung pada persepsi investor terhadap fungsinya sebagai penyimpan nilai jangka panjang.

Jika Bitcoin hanya dipandang sebagai aset berisiko tinggi, investor bisa saja lebih memilih emas fisik, yang mencatat kinerja kuat sepanjang tahun ini.

Faktor krusial lainnya adalah potensi pembelian Bitcoin oleh pemerintah AS. Basulto berpendapat, langkah tersebut bisa memicu perlombaan global antarnegara untuk membangun cadangan Bitcoin strategis.

“Jika negara mulai menimbun Bitcoin sebagai cadangan, dampaknya terhadap harga bisa jauh lebih besar dibandingkan pembelian oleh perusahaan swasta,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, sejumlah korporasi kini diperkirakan telah menguasai hampir 5% dari total suplai Bitcoin yang beredar.

Proyeksi Harga Bitcoin 2026 Masih Terbuka Lebar

Selain proyeksi US$150.000, prediksi lain bahkan lebih agresif. JPMorgan Chase memperkirakan Bitcoin berpotensi mencapai US$170.000, sementara Tom Lee dari Fundstrat menyebut kemungkinan harga menembus US$250.000 dalam skenario sangat optimistis.

Meski begitu, semua proyeksi tersebut tetap bergantung pada kombinasi faktor makroekonomi, arus institusional, serta kebijakan strategis pemerintah.

Konsolidasi Sebelum Arah Baru

Pada saat penulisan, harga Bitcoin kembali mendekati US$87.330 setelah sempat menembus US$90.500 di awal pekan. Pergerakan ini memperkuat pandangan bahwa pasar tengah memasuki fase jeda, bukan kehilangan momentum.

Bagi investor dan pengamat, periode ini menjadi waktu yang relevan untuk mencermati data likuiditas, arus dana, dan indikator volatilitas menjelang awal 2026.

Dengan memahami dinamika ini, kamu bisa mengambil keputusan yang lebih cerdas dan terukur dalam menghadapi pergerakan Bitcoin ke depan.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050