
DOYANDUIT – Harga Bitcoin kembali menemukan pijakan setelah sempat tertekan di bawah USD 88.000. Pada perdagangan terbaru, BTC/USD tercatat bergerak di kisaran USD 90.009, naik sekitar 2,41 persen dalam 24 jam terakhir.
Pemulihan ini terjadi setelah harga mampu bertahan di zona support USD 88.000 dan mulai menembus sejumlah level teknikal penting.
Secara teknikal, Bitcoin kini diperdagangkan di atas rata-rata pergerakan sederhana (SMA) 100 jam. Pergerakan tersebut membuka peluang lanjutan menuju area resistansi berikutnya, meskipun tekanan jual masih terlihat di beberapa titik krusial.
Dalam jangka pendek, penguatan ini memberi ruang optimisme terbatas bagi pelaku pasar. Namun, arah selanjutnya masih sangat bergantung pada kemampuan Bitcoin bertahan di atas zona teknikal kunci.
Level Teknis yang Menjadi Perhatian Pasar
Zona Resistance Jangka Pendek
Pergerakan Bitcoin saat ini menghadapi beberapa hambatan teknikal yang perlu ditembus agar tren pemulihan berlanjut, antara lain:
- USD 88.750 sebagai resistance awal sekaligus garis tren menurun pada grafik per jam
- USD 89.500 sebagai resistance utama terdekat
- USD 89.800 – USD 90.200 sebagai area lanjutan jika penembusan berhasil
Penutupan harga yang solid di atas USD 89.800 berpotensi mendorong Bitcoin menguji kembali area USD 90.500 hingga USD 92.000.
Area Support Jika Terjadi Koreksi
Sebaliknya, kegagalan menembus USD 89.500 dapat memicu tekanan turun lanjutan. Area support yang diawasi pasar meliputi:
- USD 88.000 sebagai penopang terdekat
- USD 87.250 sebagai support mayor pertama
- USD 86.500 – USD 85.500 sebagai zona kritis lanjutan
- USD 84.500 sebagai support utama jangka pendek
Pelemahan di bawah USD 84.500 berpotensi mempercepat tekanan jual dalam waktu dekat.
Peringatan Tajam dari Analis Bloomberg
Di tengah pemulihan harga, pandangan berlawanan datang dari analis senior Bloomberg Intelligence, Mike McGlone. Dalam pernyataan terbarunya di media sosial, McGlone menilai bahwa Bitcoin berpotensi memasuki fase koreksi struktural yang jauh lebih dalam.
Ia menyebut bahwa level USD 50.000 bukanlah titik dasar akhir, melainkan hanya persinggahan menuju koreksi yang lebih ekstrem.
Menurut McGlone, siklus Bitcoin kemungkinan telah mencapai puncaknya pada 2025, dan tahun berikutnya berisiko menjadi fase “reversion to the mean” atau kembali ke rata-rata historis.
Target koreksi yang ia sampaikan tergolong agresif, yakni di kisaran USD 10.000.

Alasan di Balik Proyeksi USD 10.000
McGlone menilai lonjakan harga Bitcoin pasca-2020 sangat dipengaruhi oleh likuiditas berlebih akibat stimulus global. Menurutnya, harga di kisaran USD 10.000 mencerminkan kondisi sebelum fase spekulasi besar-besaran melanda pasar kripto.
Ia juga membandingkan Bitcoin dengan emas. Menurut McGlone, emas memiliki kelangkaan fundamental di dunia fisik, dengan kompetitor terbatas pada perak, platinum, dan paladium.
Sementara itu, aset kripto dinilai bersifat inflasioner karena jumlah proyek dan token terus bertambah tanpa batas yang jelas.
Pandangan ini memperkuat argumennya bahwa arus modal ke pasar kripto menjadi terfragmentasi dan tidak terkonsentrasi pada satu aset utama saja.
Perubahan Sikap dari Mantan Pendukung Bitcoin
Menariknya, McGlone bukanlah sosok yang sejak awal bersikap pesimistis terhadap Bitcoin. Selama era stimulus moneter, ia termasuk analis institusional yang vokal menyuarakan potensi Bitcoin menuju USD 100.000 dan menyebutnya sebagai kandidat aset cadangan global.
Namun, memasuki 2025, ia mulai menyoroti perbedaan arah antara emas dan Bitcoin. Saat emas mencetak rekor tertinggi baru, Bitcoin justru tertahan dan gagal mengikuti laju kenaikan tersebut.
Menurutnya, kondisi ekonomi global mengarah pada resesi deflasi, di mana aset likuid seperti uang tunai cenderung lebih diminati dibandingkan aset berisiko.
Kinerja Tahunan Bitcoin Masih Tertekan
Secara tahunan, kinerja Bitcoin masih berada di zona negatif. Hingga akhir Desember 2025, BTC tercatat turun sekitar 3,56 persen secara year-to-date dan melemah lebih dari 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Agar mampu menutup tahun dengan kinerja positif, Bitcoin perlu naik sekitar 6,24 persen dari level pembukaan tahunan di kisaran USD 93.374. Jika gagal, 2025 berpotensi menjadi tahun pertama pasca-halving di mana Bitcoin ditutup di zona merah.
Seorang analis pasar, Puckrin, menyebut,
“Tersisa tiga hari bagi Bitcoin untuk pulih dan menutup tahun di zona hijau. Jika tidak, ini akan menjadi penutupan tahunan pertama pasca-halving yang berakhir negatif,” ujarnya seperti dikutip dari Cointelegraph.
Dari Rekor Tertinggi ke Fase Konsolidasi
Bitcoin sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas USD 125.000 pada Oktober, sebelum koreksi tajam melanda pasar kripto secara luas. Sejak itu, harga Bitcoin terkoreksi sekitar 30 persen dan membentuk titik terendah lokal di sekitar USD 80.000 pada November.
Kondisi ini memicu perdebatan di kalangan analis mengenai apakah pasar bull telah berakhir atau hanya memasuki fase konsolidasi yang lebih panjang.
Peran Kebijakan Suku Bunga dan The Fed
Perhatian pasar kini tertuju pada arah kebijakan moneter global, khususnya langkah Federal Reserve. Sepanjang 2025, bank sentral AS telah memangkas suku bunga sebanyak tiga kali, masing-masing sebesar 25 basis poin.
Namun, Ketua The Fed Jerome Powell memberikan sinyal kehati-hatian dalam pernyataan terakhirnya.
“Tidak ada jalur kebijakan yang bebas risiko,” ujar Powell dalam pertemuan FOMC Desember.
Data dari CME Group melalui FedWatch Tool menunjukkan hanya sekitar 18,8 persen pelaku pasar yang memperkirakan pemangkasan suku bunga lanjutan pada Januari mendatang.
Pemulihan Ada, Risiko Tetap Besar
Pemulihan harga Bitcoin di atas USD 88.000 memberi ruang optimisme jangka pendek, terutama dari sisi teknikal. Namun, pandangan fundamental jangka panjang masih terbelah, dengan sejumlah analis menilai risiko koreksi lanjutan belum sepenuhnya mereda.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa pasar Bitcoin memasuki fase krusial, di mana arah harga sangat dipengaruhi oleh kondisi likuiditas global dan kebijakan moneter.
Dengan memahami faktor-faktor ini, kamu bisa mengambil keputusan yang lebih cerdas dan proporsional dalam menyikapi pergerakan Bitcoin ke depan.