
DOYANDUIT – Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan tanda pemulihan setelah melonjak sekitar 4 persen dan mendekati level resistance penting di $74.000.
Kenaikan ini memberi harapan baru bagi pelaku pasar kripto setelah beberapa minggu terakhir BTC bergerak dalam pola konsolidasi.
Namun optimisme tersebut masih disertai kewaspadaan. Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun harga sempat naik, struktur dasar harga Bitcoin kemungkinan belum terbentuk sepenuhnya. Artinya, volatilitas masih berpotensi terjadi dalam waktu dekat.
Berdasarkan data pasar terbaru, Bitcoin diperdagangkan di kisaran $70.874 dengan pergerakan mingguan naik sekitar 4 persen. Meskipun begitu, performa jangka panjang masih menunjukkan tekanan, terutama dalam periode enam bulan terakhir.
Menurut pengamatan banyak analis kripto, fase seperti ini sering terjadi sebelum pasar menentukan arah baru yang lebih kuat.
Bitcoin Masih Dalam Fase “Stress Test” Pasar
Analis dari perusahaan data kripto CryptoQuant, Sunny Mom, menilai bahwa pasar Bitcoin saat ini sedang melewati fase yang bisa disebut sebagai “stress test”.
Ia menjelaskan bahwa beberapa indikator on-chain menunjukkan pasar masih berada dalam tekanan.
Salah satu faktor penting berasal dari kelompok investor yang membeli Bitcoin dalam rentang 6 hingga 12 bulan terakhir.
Investor Menengah Masih Mengalami Kerugian
Data menunjukkan banyak investor pada periode tersebut memiliki Realized Price sekitar $100.000. Hal ini berarti sebagian besar dari mereka masih berada dalam posisi rugi.
Situasi tersebut berpotensi memberi tekanan tambahan pada harga.
Beberapa indikator yang menjadi perhatian analis antara lain:
- Realized Price investor 6–12 bulan: sekitar $100.000
- MVRV Ratio: berada di level 1,2
- Porsi Long Term Holder: sekitar 15% dari Realized Cap
Sunny menjelaskan bahwa rasio MVRV (Market Value to Realized Value) saat ini berada pada area yang biasanya dianggap sebagai zona akumulasi Dollar Cost Averaging (DCA) bagi investor besar.
Namun secara historis, dasar harga siklus biasanya terbentuk ketika rasio ini turun di bawah 1,0, yang menunjukkan fase kapitulasi pasar.
“Pasar Bitcoin masih berada dalam tahap pengujian. Meskipun ada tanda pemulihan, struktur dasar harga yang kuat belum sepenuhnya terbentuk,” katanya.
Peran Long-Term Holder Masih Terbatas
Faktor lain yang diperhatikan analis adalah kontribusi long-term holder (LTH).
Investor kategori ini biasanya memegang Bitcoin lebih dari dua tahun dan sering dianggap sebagai fondasi stabilitas pasar kripto.
Dalam banyak siklus sebelumnya, dasar harga yang kuat terbentuk ketika LTH menguasai lebih dari 20 persen dari total Realized Cap.
Namun saat ini angkanya baru sekitar 15 persen.
Artinya, dukungan struktural dari investor jangka panjang masih relatif lemah.
Hal tersebut menjelaskan mengapa pergerakan Bitcoin saat ini masih terlihat rentan terhadap fluktuasi.
Dua Skenario Potensial Dasar Harga Bitcoin
Menurut analisis CryptoQuant, terdapat dua kemungkinan jalur yang bisa membawa Bitcoin menemukan dasar harga sebenarnya.
1. Skenario Black Swan
Skenario pertama adalah terjadinya peristiwa Black Swan, yaitu penurunan harga tajam secara tiba-tiba.
Peristiwa ini dapat memicu:
- likuidasi paksa
- panic selling
- kapitulasi investor berbiaya tinggi
Walaupun terasa menyakitkan bagi pasar, kejadian seperti ini sering mempercepat terbentuknya dasar harga yang kuat.
Dalam skenario ini, analis memperkirakan proses bottoming bisa selesai dalam 1–2 bulan.
2. Skenario “The Great Boring”
Skenario kedua lebih lambat namun stabil.
Dalam skenario yang disebut “The Great Boring”, Bitcoin diperkirakan akan bergerak sideways dalam rentang:
- $60.000 – $80.000
Kondisi ini memungkinkan investor baru perlahan berubah menjadi long-term holder.
Jika skenario ini terjadi, proses pembentukan dasar harga bisa berlangsung hingga akhir 2026 atau awal 2027.
Pola Akumulasi Bitcoin Masih Terlihat Tipis
Perusahaan analisis blockchain Glassnode juga menemukan pola menarik dalam data Cost Basis Distribution (CBD).
Indikator ini menunjukkan jumlah Bitcoin yang dibeli pada berbagai level harga.
Dalam analisis terbaru, Glassnode menyoroti Short-Term Holder CBD, yaitu distribusi harga beli investor yang membeli BTC dalam 155 hari terakhir.
Data tersebut menunjukkan:
- Akumulasi besar terjadi saat harga jatuh pada November
- Zona akumulasi tersebut sempat menjadi support harga
- Namun momentum bearish kemudian membuat harga turun di bawah zona itu
Akibatnya, banyak koin dalam cluster tersebut kini berada di posisi rugi.
Saat ini memang mulai terbentuk area akumulasi baru pada kisaran:
$62.000 – $72.000
Namun intensitasnya masih tergolong lebih lemah dibanding fase akumulasi sebelumnya.
Glassnode menyimpulkan bahwa fondasi pasar saat ini masih belum cukup kuat untuk memicu breakout besar dalam jangka menengah.
Koreksi Bitcoin Baru Berlangsung 159 Hari
Menariknya, jika melihat data historis, fase koreksi Bitcoin saat ini sebenarnya masih tergolong sangat awal.
Analis CryptoQuant lain, Darkfost, membandingkan durasi siklus sebelumnya.
Hasilnya cukup mengejutkan.
| Siklus | Waktu Menuju ATH Baru |
|---|---|
| 2017 | 1.180 hari |
| 2021 | 1.093 hari |
| 2025 | 849 hari |
Sementara itu, koreksi yang terjadi saat ini baru berlangsung sekitar 159 hari sejak puncak harga terakhir.
Bagi sebagian investor, periode tersebut terasa lama. Namun dalam perspektif historis, ini masih relatif singkat.
ETF Bitcoin Mengubah Pola Siklus Pasar
Perubahan besar dalam siklus Bitcoin terjadi pada tahun 2024 ketika spot Bitcoin ETF diluncurkan.
Produk investasi ini memungkinkan institusi besar masuk ke pasar kripto dengan lebih mudah.
“Halving bukan lagi satu-satunya faktor yang mendorong all-time high Bitcoin. Siklus pasar biasanya sudah bergerak sebelum peristiwa halving terjadi,” ujar Darkfost.
ETF spot menarik aliran modal institusional yang sangat besar, sehingga pola siklus yang sebelumnya mengikuti halving empat tahunan mulai mengalami perubahan.
Jika kamu tertarik memahami dampak ETF terhadap pasar kripto, menarik juga membaca analisis tentang peran institusi dalam pertumbuhan harga Bitcoin beberapa tahun terakhir.
Regulasi Perbankan Bisa Menjadi Katalis Berikutnya
Selain ETF, ada faktor lain yang berpotensi memengaruhi masa depan Bitcoin. Saat ini aturan Basel memberikan risk weight 1.250 persen untuk kepemilikan Bitcoin oleh bank.
Artinya, bank harus menyimpan modal hampir setara dengan seluruh eksposur BTC mereka. Akibatnya, banyak bank masih enggan menyediakan layanan terkait kripto.
Namun proposal baru dari regulator Amerika Serikat berpotensi membuka peluang perubahan aturan tersebut. Jika bobot risiko Bitcoin dikurangi, bank bisa lebih mudah:
- menyimpan Bitcoin
- menyediakan layanan kustodian
- mengintegrasikan BTC dalam sistem keuangan
CEO Coinbureau, Nic, menilai perubahan kecil sekalipun dapat membuka potensi likuiditas besar.
“Jika perlakuan terhadap Bitcoin membaik, bank akhirnya bisa mengintegrasikan BTC dalam sistem keuangan global,” ujarnya.
Bitcoin Masih Dalam Fase Penentuan Arah
Pemulihan harga Bitcoin hingga mendekati $74.000 memberikan sinyal positif bagi pasar kripto.
Namun berbagai indikator on-chain menunjukkan bahwa dasar harga Bitcoin kemungkinan belum sepenuhnya terbentuk.
Faktor seperti tekanan investor jangka menengah, akumulasi yang masih tipis, serta dominasi long-term holder yang belum kuat membuat pasar masih berada dalam fase penentuan arah.
Dalam jangka pendek, volatilitas di kisaran $60.000 hingga $70.000 masih sangat mungkin terjadi.
Meski demikian, jika melihat siklus historis Bitcoin, koreksi yang terjadi saat ini bisa saja hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan menuju fase pertumbuhan berikutnya.