
DOYANDUIT – Perdagangan saham di akhir tahun 2025 ditutup dengan capaian yang solid. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi 30 Desember 2025 di level 8.646,94, menguat tipis 0,03 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Meski pergerakan harian relatif terbatas, kinerja tahunan indeks menunjukkan tren yang jauh lebih kuat dan konsisten.
Sepanjang tahun berjalan, IHSG tercatat naik 21,92 persen secara year to date dan menguat 23,04 persen secara tahunan. Dalam enam bulan terakhir saja, indeks melesat lebih dari 25 persen, mencerminkan minat investor yang tetap terjaga di tengah dinamika global.
Aktivitas perdagangan juga tergolong agresif. Volume transaksi mencapai 39,16 miliar saham dengan nilai transaksi Rp20,18 triliun dan frekuensi 2,59 juta kali perdagangan. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 346 saham menguat, 317 melemah, dan 146 stagnan.
24 Kali All Time High Sepanjang 2025
Capaian IHSG tahun ini tidak hanya diukur dari persentase kenaikan, tetapi juga dari frekuensi rekor baru yang berhasil dicetak. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, menyampaikan bahwa IHSG mencatat 24 kali rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) selama 2025.
“All time high kita tercapai pada 8 Desember di level 8.711. Kapitalisasi pasar saat itu menembus Rp16.000 triliun. Sepanjang tahun ini, rekor tertinggi terjadi 24 kali,” ujarnya dalam konferensi pers penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Bagi pelaku pasar, angka tersebut menjadi indikator penting bahwa kepercayaan investor, baik domestik maupun asing, masih terjaga, meskipun pasar global diwarnai ketidakpastian suku bunga, geopolitik, dan volatilitas komoditas.
Fondasi Pasar Modal Semakin Kuat
Hingga akhir 2025, struktur pasar modal Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang semakin matang. Total perusahaan tercatat mencapai 956 emiten, bertambah 26 emiten baru melalui penawaran umum perdana (IPO) dengan nilai sekitar Rp28 triliun.
Menariknya, kehadiran enam perusahaan mercusuar baru turut memperkuat kredibilitas dan kedalaman pasar. Secara keseluruhan, total penggalangan dana di pasar modal sepanjang 2025 mencapai Rp278 triliun, melampaui target awal yang telah ditetapkan.
Kapitalisasi pasar pun menembus Rp16.000 triliun, jauh di atas level psikologis sebelumnya. Rasio kapitalisasi pasar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat di atas 70 persen, sebuah angka yang sering digunakan sebagai indikator kematangan pasar modal suatu negara.
Resiliensi di Tengah Tekanan Global
Berdasarkan pengamatan sepanjang 2025, perjalanan IHSG tidak sepenuhnya mulus. Pada akhir kuartal I, pasar sempat tertekan oleh sentimen global, mulai dari normalisasi kebijakan suku bunga hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok.
Namun, respons kebijakan yang adaptif dari regulator dan otoritas pasar terbukti efektif. Beberapa kebijakan yang menopang stabilitas antara lain:
- Buyback saham tanpa RUPS
- Penyesuaian batasan perdagangan
- Penerapan asymmetric auto rejection
Dalam forum penutupan tahun, perwakilan Otoritas Jasa Keuangan menegaskan bahwa ketahanan pasar modal Indonesia justru teruji dalam situasi tersebut. Indeks mampu pulih dan kembali ke tren positif, bahkan mencetak sejumlah rekor baru setelah periode volatilitas mereda.
“Pasar modal Indonesia menunjukkan resiliensi dan daya saing yang semakin kuat. Tantangan global justru memperkokoh fondasi pertumbuhan jangka panjang,” disampaikan dalam pemaparan resmi OJK.
Saham-Saham dengan Kinerja Menonjol
Di balik penguatan indeks, sejumlah saham mencatatkan lonjakan harga yang signifikan. Beberapa saham terpantau memberikan cuan dua digit, dengan kenaikan harga di kisaran 19 hingga 34 persen dalam periode tertentu sepanjang tahun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa penguatan IHSG tidak hanya bersifat indeksikal, tetapi juga ditopang oleh kinerja saham individual di berbagai sektor. Meski demikian, investor tetap diingatkan untuk mencermati fundamental dan risiko masing-masing emiten, bukan sekadar mengikuti tren.
Refleksi Akhir Tahun untuk Investor
Menutup 2025, kinerja IHSG dapat dikatakan berada pada jalur yang sehat. Pertumbuhan yang dicapai bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang kualitas pasar yang semakin dalam, likuid, dan kredibel.
Dengan fondasi regulasi yang semakin matang, jumlah emiten yang bertambah, serta partisipasi investor yang terus berkembang, pasar modal Indonesia memiliki ruang untuk terus bertumbuh secara berkelanjutan.