IHSG Terpuruk Hampir 3 Persen di Sesi Pertama Jumat 6 Februari 2025, Pasar Saham Tertekan Sentimen Moody’s

6 Februari 2026 12:00
Bagikan :
Pergerakan IHSG di tengah tekanan sentimen global dan domestik. (Ist)

DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan sesi pertama Jumat, 6 Februari 2026. Hingga pukul 11.29 WIB, IHSG tercatat di level 7.874,42 atau turun 229,46 poin setara 2,83 persen.

Pelemahan ini terjadi setelah indeks sempat dibuka menguat di kisaran 7.945,04, namun tekanan jual yang cepat membuat arah pasar berbalik negatif.

Secara intraday, IHSG bergerak di rentang 7.861,68 hingga 8.025,14. Posisi ini semakin menjauh dari penutupan sebelumnya di level 8.103,88.

Dibandingkan dengan titik tertinggi 52 minggu di 9.174,47, koreksi kali ini menegaskan bahwa pasar masih berada dalam fase penyesuaian yang cukup dalam.

Tekanan yang terjadi dinilai bukan semata faktor teknikal. Kombinasi sentimen global, kekhawatiran kebijakan, dan evaluasi ulang terhadap prospek ekonomi domestik menjadi pemicu utama aksi jual.

Sentimen Moody’s dan Persepsi Risiko Kebijakan

Tekanan terhadap IHSG semakin menguat setelah Moody’s Investors Service mengubah prospek peringkat kredit kedaulatan Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Penilaian tersebut didasarkan pada meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta tantangan tata kelola yang dinilai dapat memengaruhi konsistensi arah fiskal dan ekonomi ke depan.

Sebagai bagian dari upaya memberikan konteks yang lebih luas kepada pelaku pasar, Moody’s juga mengumumkan penyelenggaraan virtual event bertajuk “Behind the Negative Outlook on Indonesia’s Sovereign Rating”.

Diskusi daring ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 6 Februari 2026, pukul 16.00 HKT | 17.00 JST | 08.00 GMT, dan akan membedah secara mendalam faktor-faktor utama di balik perubahan prospek tersebut.

Agenda ini mencakup pembahasan mengenai ruang kebijakan fiskal, kualitas tata kelola, serta risiko makroekonomi regional Asia Pasifik.

Bagi investor, forum semacam ini menjadi sinyal bahwa lembaga pemeringkat ingin menegaskan dasar analisisnya, sekaligus memberikan transparansi atas asumsi yang digunakan dalam menilai ketahanan ekonomi Indonesia.

Dari sudut pandang pasar, komunikasi yang lebih terbuka ini penting untuk meredam spekulasi berlebihan.

Namun, hingga kepastian arah kebijakan terlihat lebih jelas, sentimen kehati-hatian masih cenderung mendominasi pergerakan aset berisiko, termasuk saham.

Data Ekonomi 2025: Tumbuh, Tapi Belum Sesuai Harapan

Dari dalam negeri, data pertumbuhan ekonomi 2025 yang dirilis sehari sebelumnya juga turut memengaruhi psikologis pasar.

Produk domestik bruto (PDB) Indonesia tercatat tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025. Angka ini berada sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,2 persen, meskipun pertumbuhan pada kuartal IV dinilai cukup solid.

Bagi investor, selisih tipis ini tetap bermakna. Target yang meleset, walau kecil, memicu pertanyaan tentang ruang stimulus dan keberlanjutan pertumbuhan pada 2026.

Namun demikian, sejumlah pejabat pemerintah berupaya meredam kekhawatiran dengan menegaskan bahwa posisi fiskal masih terkelola dan defisit tetap dalam koridor aman.

Tekanan Sektoral: Energi, Keuangan, hingga Properti

Secara sektoral, pelemahan IHSG dipimpin oleh saham-saham di sektor energi, keuangan, dan properti. Tekanan di sektor energi berkaitan dengan koreksi harga komoditas dan aksi ambil untung setelah reli panjang.

Sementara itu, sektor keuangan ikut terseret seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko makro dan arah suku bunga global.

Berikut gambaran kinerja beberapa sektor utama pada perdagangan hari ini:

  • Finansial: turun 1,86 persen
  • Mineral Energi: melemah 2,71 persen
  • Mineral Non-Energi: terkoreksi 4,74 persen
  • Utilitas: turun 4,18 persen
  • Layanan Konsumen: anjlok paling dalam, minus 8,10 persen

Meski demikian, dalam horizon jangka panjang, beberapa sektor masih mencatatkan kinerja impresif, terutama layanan teknologi dan kesehatan yang menunjukkan pertumbuhan ratusan persen dalam periode lima hingga sepuluh tahun.

Saham Berkapitalisasi Besar: Mayoritas Melemah

Tekanan jual yang terjadi pada IHSG juga tercermin pada pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar (blue chips).

Mayoritas emiten unggulan di Bursa Efek Indonesia bergerak di zona merah, menunjukkan bahwa koreksi tidak hanya terbatas pada saham-saham kecil atau menengah, tetapi meluas ke sektor inti perekonomian.

Beberapa data angka harga saham menunjukkan tren penurunan berikut:

  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BRNE) turun −3,94% ke Rp7.925

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun −1,92% ke Rp7.650

  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun −3,21% ke Rp85.175

  • PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terkoreksi −4,48% ke Rp6.925

  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Class B (BBRI) turun −1,30% ke Rp3.800

  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (ADMR) turun −4,08% ke Rp7.050

  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah −1,19% ke Rp5.000

  • PT Astra International Tbk (ASII) mencatat koreksi terdalam di antara saham big cap, yakni −5,04% ke Rp6.600

Pengecualian minor tampak pada saham sektor telekomunikasi:

  • PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Class B (TLKM) justru mencatatkan penguatan +1,22% ke Rp3.330 di tengah tekanan pasar yang luas.

Data angka ini menggarisbawahi bahwa sentimen negatif tidak bersifat sektoral semata, tetapi berdampak pada saham-saham berfundamental besar sekalipun.

Koreksi pada saham finansial dan industri besar juga mencerminkan aksi hati-hati dari investor, yang cenderung meredam eksposur mereka terhadap risiko makro dan eksternal.

Sebagai pembanding, sejumlah saham dengan kapitalisasi besar lainnya menunjukkan tren volume tinggi sekaligus penurunan harga yang mencolok: PT Bumi Resources Tbk Class A (BUMI) turun −6,67% dengan volume transaksi terbesar di pasar, serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang terkoreksi −2,36%.

Saham Paling Aktif dan Pergerakan Ekstrem

Dari sisi volume transaksi, saham-saham berharga rendah masih menjadi favorit trader harian. Aktivitas tinggi tercatat pada saham pertambangan dan perbankan besar, mencerminkan kombinasi antara spekulasi jangka pendek dan reposisi portofolio.

Di sisi lain, daftar saham top gainers dan top losers menunjukkan volatilitas yang tajam:

Top gainers:

  • INAI naik 26,55 persen
  • KJEN melonjak 26,39 persen
  • NZIA menguat 23,91 persen

Top losers:

  • PADI turun 15,00 persen
  • PIPA melemah 14,94 persen
  • ARKO terkoreksi 14,93 persen

Pergerakan ekstrem ini menegaskan bahwa risiko tetap tinggi, terutama pada saham dengan likuiditas terbatas dan fundamental yang belum solid.

Pasar Menunggu Kepastian

Pelemahan IHSG hampir 3 persen pada awal Februari 2026 menegaskan bahwa pasar saham Indonesia masih berada dalam fase sensitif terhadap sentimen global dan isu kebijakan domestik.

Perubahan outlook dari Moody’s, data ekonomi yang sedikit di bawah target, serta tekanan sektoral menjadi kombinasi yang menahan laju indeks.

Meski demikian, fondasi ekonomi nasional masih menunjukkan ketahanan. Tantangan ke depan terletak pada konsistensi kebijakan dan komunikasi yang mampu menjaga kepercayaan investor.

Bagi pelaku pasar, sikap waspada disertai analisis rasional menjadi pendekatan paling masuk akal di tengah dinamika yang terus berubah.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050