IHSG Bertahan di Level 8.100-an, Buyback Emiten dan Saham Big Caps Jadi Penyangga Pasar

5 Februari 2026 13:22
Bagikan :
IHSG bergerak fluktuatif namun bertahan di atas level 8.100 pada perdagangan 5 Februari 2026. (DoyanDuit)

DOYANDUIT – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis, 5 Februari 2026, menunjukkan daya tahan pasar di tengah volatilitas yang masih membayangi.

Hingga penutupan sesi pertama pukul 11.59 WIB, IHSG berada di level 8.141,85, turun tipis 0,06%, namun tetap bertahan di atas area psikologis 8.100.

Sejak pembukaan di 8.154,60, indeks sempat menguat hingga menyentuh 8.214,46 sebelum bergerak fluktuatif dan menguji level terendah harian di 8.118,50.

Pergerakan ini mencerminkan tarik-menarik kepentingan antara aksi beli selektif dan kehati-hatian investor.

Pergerakan IHSG Sesi Pertama: Stabil di Tengah Tekanan

Secara teknikal, pergerakan IHSG masih berada dalam rentang yang relatif terjaga. Posisi saat ini juga masih jauh di atas level terendah 52 minggu di 5.882,60, meski belum mampu mendekati puncak 52 minggu di 9.174,47.

Bagi pelaku pasar, kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan koreksi belum berkembang menjadi pelemahan struktural. Pasar cenderung bergerak konsolidatif sambil menunggu katalis lanjutan, baik dari domestik maupun global.

Saham Big Caps Jadi Penopang Indeks

Ketahanan IHSG tidak lepas dari peran saham-saham berkapitalisasi besar. Di jajaran emiten terbesar, pergerakan harga terlihat beragam namun cukup untuk menahan tekanan indeks.

Beberapa saham utama yang menopang IHSG antara lain:

  • PT Bank Central Asia Tbk naik 1,28% ke level 7.900
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menguat 1,29% ke 3.920
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk naik 2,00% ke 5.100
  • PT Astra International Tbk melonjak 4,49% ke 6.975

Di sisi lain, tekanan masih terlihat pada saham berbasis komoditas dan teknologi tertentu, seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk yang turun 3,68%, serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk yang melemah tipis 0,30%.

Volume Perdagangan: Bank dan Komoditas Masih Dominan

Dari sisi aktivitas transaksi, saham perbankan kembali mendominasi volume perdagangan. BBRI, BBCA, dan BMRI masuk jajaran saham dengan volume tertinggi, mengindikasikan minat investor yang masih kuat pada sektor finansial.

Selain perbankan, saham komoditas seperti PT Bumi Resources Tbk dan PT Aneka Tambang Tbk juga aktif diperdagangkan, meski pergerakan harganya cenderung fluktuatif.

Top Gainers dan Top Losers: Pasar Masih Selektif

Perdagangan sesi pertama memperlihatkan kontras tajam antara saham yang menguat signifikan dan yang tertekan dalam.

Saham top gainers didominasi emiten lapis dua dan tiga, antara lain:

  • PT Kokoh Exa Nusantara Tbk melonjak 33,77%
  • PT Citatah Tbk naik 29,89%
  • PT Bukaka Teknik Utama Tbk menguat 25,00%

Sementara itu, saham top losers diisi emiten yang mengalami tekanan jual cukup dalam:

  • PT Mora Telematika Indonesia Tbk turun 14,93%
  • PT Multi Makmur Lemindo Tbk melemah 14,92%
  • PT MD Entertainment Tbk terkoreksi 14,85%

Pola ini menunjukkan bahwa pasar saat ini sangat selektif, dengan rotasi dana yang cepat antar saham.

Kinerja Sektor: Finansial Masih Relatif Tangguh

Secara sektoral, sektor finansial kembali menjadi penopang dengan kenaikan 0,77% secara harian dan mencatatkan kinerja positif secara mingguan. Dalam jangka panjang, sektor ini masih menunjukkan tren pertumbuhan yang solid.

Sebaliknya, tekanan terlihat pada:

  • Sektor komunikasi, yang melemah 3,65%
  • Sektor layanan konsumen, turun 4,63%
  • Sektor mineral non-energi, terkoreksi 2,54%

Perbedaan kinerja antar sektor ini menegaskan bahwa sentimen pasar belum sepenuhnya merata.

Buyback Saham: Penahan Volatilitas Jangka Pendek

Di tengah fluktuasi tersebut, aksi buyback saham oleh sejumlah emiten besar menjadi faktor psikologis yang penting. Salah satunya datang dari PT Barito Pasifik Tbk, yang menyiapkan dana hingga Rp1 triliun untuk pembelian kembali saham.

Manajemen menyebutkan bahwa buyback dilakukan menggunakan kas internal dan tidak mengganggu operasional. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kepercayaan terhadap valuasi saham perseroan.

Buyback di fase volatil seperti ini sering kali berfungsi sebagai “peredam kejut” yang membantu menahan tekanan jual berlebihan.

IHSG Konsolidasi, Pasar Menunggu Kepastian

Hingga sesi pertama 5 Februari 2026, IHSG memang belum menunjukkan penguatan agresif, namun tetap bertahan stabil di level 8.100-an. Dukungan saham big caps, dominasi sektor finansial, serta aksi buyback emiten menjadi penyangga utama indeks.

Dalam jangka pendek, pasar masih berpotensi bergerak konsolidatif sambil menunggu kejelasan respons regulator dan perkembangan sentimen global.

Bagi investor, fase seperti ini lebih menuntut ketenangan dan selektivitas dibandingkan euforia karena justru di tengah konsolidasi, peluang sering kali mulai terbentuk.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050