
DOYANDUIT – Market crypto kembali memasuki fase tekanan intens setelah total kapitalisasi pasar merosot sekitar 2% dan berada di kisaran $3,12 triliun pada 17 November 2025.
Penurunan ini dipicu oleh gelombang likuidasi besar-besaran yang menyapu pasar derivatif, di mana lebih dari 154 ribu trader terlikuidasi dalam satu hari. Nilai likuidasi mencapai $801 juta, dan sekitar $500 juta di antaranya berasal dari posisi long.
Fenomena ini mempertegas bahwa tekanan jual dari long-squeeze masih memimpin sentimen pasar dalam jangka menengah.
Data pergerakan 41 hari terakhir menunjukkan total market cap crypto telah menyusut lebih dari $1,1 triliun, sebuah koreksi tajam yang secara psikologis memukul pelaku pasar.
Menurut indikator Crypto Fear & Greed Index versi CoinMarketCap, tingkat ketakutan pasar kini berada di angka 17, mendekati level terendah sepanjang tahun.
Kondisi ekstrem ini menggambarkan meningkatnya kekhawatiran investor bahwa penurunan harga masih jauh dari selesai.
Harga Bitcoin Menyentuh Level Terendah Enam Bulan
Penurunan Tajam Menghapus Seluruh Kenaikan Tahunan
Bitcoin memimpin gelombang penurunan. Harga BTC jatuh hingga ke $91.545, level terendah dalam enam bulan terakhir. Dengan penurunan harian sekitar 3,21%, kini Bitcoin tercatat turun 27% dari puncak historis di Oktober lalu. Dampaknya, seluruh kenaikan sepanjang tahun 2025 melebur dalam hitungan minggu.
Ethereum ikut terpeleset di bawah $3.000, sementara altcoin besar seperti Solana, XRP, dan Cardano mengalami penurunan mingguan antara 16%–22%.
Koreksi ini tidak hanya menyeret market crypto, tetapi juga sejalan dengan pelemahan pasar saham global. Indeks S&P 500 dan Nasdaq ditutup di bawah MA-50, sesuatu yang terakhir kali terjadi pada 2007 dan 1995.
Dalam konteks psikologi pasar, situasi seperti ini membuat investor ritel semakin menurunkan eksposur. Arus dana justru bergerak ke sektor defensif seperti energi dan kesehatan, menandakan perpindahan modal dari aset berisiko.
Gelombang Likuidasi: Tekanan Utama yang Mengguncang Pasar
Long-Squeeze dan Menurunnya Permintaan Spot
Likuidasi adalah faktor yang paling terasa dalam penurunan kali ini. Posisi long yang mendominasi struktur pasar beberapa minggu terakhir dipaksa menyerah akibat tekanan harga, sehingga memicu efek domino.
Bursa derivatif seperti Deribit mencatat lonjakan pembelian opsi put, khususnya di strike price $90.000, $85.000, dan $80.000, menandakan trader mengantisipasi kelanjutan penurunan.
“Absennya permintaan spot berbasis keyakinan semakin terlihat. Investor yang membangun posisi sejak enam bulan terakhir kini berada jauh di bawah harga masuk,” ujar Chris Newhouse, analis dari Ergonia.
Dalam kondisi seperti ini, trader yang memegang posisi terlalu besar sering kali memilih keluar untuk membatasi kerugian. Perilaku ini kemudian memperdalam penurunan market cap secara keseluruhan.
Retest Support dan Penutupan CME Gap Bitcoin
CME Gap Terakhir Akhirnya Tertutup
Salah satu peristiwa teknikal yang menjadi sorotan adalah tertutupnya CME futures gap di area $92.000, celah harga yang dibiarkan terbuka sejak April 2025.
Secara historis, gap semacam ini memang cenderung “ditarik” oleh pergerakan harga, sehingga penutupan gap merupakan normalisasi struktur teknikal.
Namun, penutupan gap tidak langsung menjamin pembalikan harga, terutama ketika permintaan pasar melemah seperti saat ini. Trader DaanCryptoTrades menyebut, gap tersebut memang menambah tekanan turun, tetapi “risiko jangka pendek belum selesai.”
Harga yang jatuh hingga menyentuh batas support multi-bulan di kisaran $91.000 menempatkan Bitcoin di persimpangan penting.
Dalam skenario negatif, penutupan harian di bawah area ini dapat membuka peluang menuju fase bearish yang lebih panjang.
Tekanan Makro: Sentimen Global Ikut Memburuk
Data Ekonomi AS Mengubah Arah Ekspektasi Pasar
Faktor makro juga memainkan peran besar dalam penurunan ini. Indeks manufaktur Empire State naik signifikan ke 18,7, mengurangi peluang pemotongan suku bunga The Fed pada Desember. Probabilitas “no cut” kini mencapai 55–60% menurut Polymarket dan CME Group.
Kenaikan suku bunga atau penundaan pemotongan sering menjadi tekanan bagi aset berisiko seperti crypto. Seperti disebut analis Kaiko, “Pembicaraan tentang gelembung AI dan sinyal hawkish Fed menjadi dua beban utama bagi sentimen aset berisiko di akhir tahun.”
Pada saat yang sama, laporan keuangan perusahaan besar seperti Nvidia dipantau ketat, karena performanya sering menjadi indikator minat investor pada sektor teknologi dan aset spekulatif.

Apakah Kita Sudah Memasuki Fase Kapitulasi?
Sinyal On-Chain: Banyak Holder Jangka Pendek Menyerah
Data on-chain dari Glassnode dan Bitfinex menunjukkan stabilisasi kerugian terealisasi, tanda bahwa gelombang penjualan dari holder jangka pendek sedang menuju titik jenuh.
Situasi ini sering kali mendekati fase akhir sebuah koreksi besar, meski belum tentu menjadi dasar harga yang sesungguhnya.
Analis Benjamin Cowen memprediksi kemungkinan BTC menguji EMA 200-week di area $60.000–$70.000, sebelum potensi reli jangka pendek.
Namun arah pasar dalam beberapa hari ke depan akan sangat dipengaruhi volume, respons likuiditas, dan keputusan pelaku institusional.
Prospek Jangka Pendek: Rebound atau Turun Lebih Dalam?
Saat ini Bitcoin berada di area krusial. Jika level $91.000 bertahan, peluang rebound teknikal terbuka, terutama jika terjadi short-squeeze baru. Namun bila tekanan jual berlanjut, potensi menuju zona support berikutnya di $76.000 menjadi semakin besar.
Pasar Masih Rawan, Tetap Waspada
Penurunan market cap crypto yang tajam, likuidasi besar-besaran, dan jatuhnya harga Bitcoin ke level terendah enam bulan memberikan gambaran jelas bahwa pasar sedang berada dalam fase ketidakpastian tinggi.
Tekanan makro, kurangnya permintaan spot, dan dominasi posisi leverage menjadi paduan yang mempercepat koreksi.
Dengan memahami dinamika ini, kamu bisa mengambil keputusan yang lebih cerdas dan tidak terjebak dalam euforia atau kepanikan sesaat. Pemantauan volume, sentimen, dan level support krusial akan menjadi kunci dalam beberapa minggu ke depan.