Harga Minyak Dunia Melonjak hingga 35%, Saham Migas Indonesia Bergerak Variatif di Tengah Tekanan IHSG

8 Maret 2026 11:00
Bagikan :
Lonjakan harga minyak global memicu sentimen di sektor energi, namun penguatan saham migas di Indonesia masih terbatas. (Ist)

DOYANDUIT – Harga minyak dunia melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir dan sempat memicu optimisme di sektor energi, termasuk saham-saham minyak dan gas (migas) di Indonesia.

Namun, reli saham energi tersebut tidak berlangsung sepenuhnya mulus karena tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih cukup kuat sepanjang pekan.

Lonjakan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Situasi ini biasanya menjadi katalis positif bagi perusahaan energi, tetapi kondisi pasar saham domestik yang melemah membuat penguatan sektor migas menjadi terbatas.

Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam Pekan Ini

Pergerakan harga minyak global menunjukkan kenaikan signifikan dalam sepekan terakhir. Data perdagangan komoditas menunjukkan lonjakan yang cukup tajam dibandingkan periode sebelumnya.

Beberapa indikator utama yang mencerminkan kenaikan tersebut antara lain:

  • Minyak mentah Brent ditutup di sekitar 92,69 dolar AS per barel, naik sekitar 8,52%.
  • Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level 90,9 dolar AS per barel, melonjak 12,21% pada perdagangan akhir pekan.
  • Secara mingguan, WTI melonjak hingga 35,63%, sementara Brent naik sekitar 27%.

Kenaikan mingguan ini menjadi salah satu yang terbesar sejak periode pandemi COVID-19 pada 2020, ketika pasar energi global mengalami volatilitas ekstrem.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak, terutama jika jalur strategis seperti Selat Hormuz ikut terdampak.

Bagi sektor energi, kondisi seperti ini biasanya memberikan sentimen positif karena harga jual komoditas meningkat.

Reli Saham Migas Indonesia Tidak Merata

Di tengah lonjakan harga minyak, beberapa saham migas di Bursa Efek Indonesia berhasil mencatatkan kenaikan selama sepekan.

Beberapa emiten yang mengalami penguatan antara lain:

  • PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) naik sekitar 11,54% menjadi Rp232 per saham.
  • PT Radian Utama Interinsco Tbk (RUIS) menguat 8,06% ke Rp268 per saham.
  • PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) naik 3,69% menjadi Rp1.825.
  • PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) bertambah 2,32% ke Rp1.765.

Kinerja tersebut menunjukkan bahwa sektor energi tetap mendapatkan perhatian investor ketika harga minyak naik.

Namun tidak semua saham energi bergerak positif.

Beberapa emiten justru mengalami tekanan, di antaranya:

  • AKR Corporindo (AKRA) turun sekitar 3,09% ke Rp1.255.
  • RajaRaya Energi mengalami penurunan hingga 16,22%.
  • Ratu Prabu Energi mencatat koreksi paling dalam sekitar 22,92% dalam sepekan.

Sementara itu, Elnusa Tbk (ELSA) relatif stagnan di kisaran Rp850 meskipun sebelumnya sempat menyentuh level Rp1.050.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sentimen global tidak selalu langsung diterjemahkan menjadi kenaikan harga saham di pasar domestik.

 

Tekanan IHSG Membatasi Penguatan Sektor Energi

Salah satu faktor utama yang menahan reli saham migas adalah tekanan yang dialami IHSG dalam beberapa waktu terakhir.

Ketika indeks pasar secara keseluruhan melemah, sektor tertentu biasanya ikut terkena dampaknya meskipun memiliki sentimen positif.

Beberapa faktor yang memengaruhi kondisi ini antara lain:

  • Ketidakpastian geopolitik global
  • Pergerakan dolar AS yang masih kuat
  • Fluktuasi harga komoditas energi
  • Sentimen investor terhadap risiko pasar global

Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung lebih berhati-hati dan memilih menunggu kepastian arah pasar.

Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Komoditas Energi

Selain minyak, komoditas energi lain juga mengalami kenaikan harga.

Salah satu yang cukup mencolok adalah harga batu bara Newcastle untuk pengiriman April 2026 yang melonjak hingga 128,7 dolar AS per ton, naik sekitar 10,2 dolar AS dalam satu sesi perdagangan.

Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Ketika pasokan energi global terancam terganggu, pasar biasanya mencari alternatif energi lain.

Batu bara menjadi salah satu komoditas yang diuntungkan karena sering berfungsi sebagai energi substitusi ketika pasokan minyak atau gas terbatas.

Menurut laporan pasar energi global, kekhawatiran terbesar saat ini berkaitan dengan potensi gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

Harga Emas Juga Ikut Menguat

Lonjakan ketegangan geopolitik juga mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman. Emas menjadi salah satu instrumen yang biasanya diminati dalam kondisi seperti ini.

Harga emas spot tercatat naik sekitar 1% hingga mencapai sekitar 5.327 dolar AS per ons. Namun penguatan emas tidak sepenuhnya leluasa karena indeks dolar AS masih berada di level relatif tinggi.

Dolar yang kuat membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

 

Pergerakan Rupiah Masih Fluktuatif

Di pasar valuta asing, rupiah sempat menunjukkan penguatan tipis terhadap dolar AS.

Data perdagangan menunjukkan:

  • Rupiah menguat sekitar 0,05% ke kisaran Rp16.855 per dolar AS.
  • Namun secara intraday, rupiah kembali melemah ke sekitar Rp16.870 per dolar AS.

Pergerakan ini mencerminkan kondisi pasar global yang masih penuh ketidakpastian.

Penguatan dolar AS yang terbatas memang memberikan sedikit ruang bagi rupiah untuk bergerak stabil, tetapi belum cukup kuat untuk menciptakan tren penguatan yang signifikan.

Harga Minyak Naik, Pasar Saham Tetap Waspada

Lonjakan harga minyak dunia memberikan sentimen positif bagi sektor energi, termasuk saham migas di Indonesia. Namun penguatan tersebut masih tertahan oleh tekanan IHSG dan ketidakpastian pasar global.

Konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang memicu kenaikan harga komoditas energi seperti minyak dan batu bara. Dalam kondisi seperti ini, pasar keuangan biasanya bergerak lebih volatil.

Bagi investor, situasi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga komoditas tidak selalu langsung diikuti oleh reli saham sektor terkait.

Memahami dinamika geopolitik, pergerakan dolar, serta kondisi pasar saham domestik menjadi kunci penting dalam membaca arah pasar energi ke depan.

Berita Terbaru
bos paud ra kemenag
Panduan Lengkap Pengisian Dokumen Ajuan BOP RA Tahap 2 Tahun 2026 agar Cepat Diverifikasi
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah