IHSG Anjlok 3,73% di Awal Pekan, Konflik Global dan Lonjakan Harga Minyak Tekan Pasar

9 Maret 2026 10:00
Bagikan :
Ilustrasi penurunan IHSG akibat konflik geopolitik dan kenaikan harga minyak tahun 2026. (DoyanDuit)

DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Senin, 9 Maret 2026, dengan pelemahan tajam. Pada pukul 10.40 WIB, indeks acuan Bursa Efek Indonesia tersebut turun 283,07 poin atau 3,73 persen ke level 7.302,61.

Tekanan ini muncul seiring meningkatnya ketidakpastian global. Konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas energi dunia.

Kondisi tersebut mendorong investor global mengalihkan dana ke aset yang lebih aman seperti dolar AS dan emas. Sementara itu, aset berisiko termasuk saham di berbagai negara berkembang ikut mengalami tekanan.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, IHSG sempat dibuka di level 7.374,31, dengan pergerakan terendah hari ini menyentuh 7.156,68. Sebagai perbandingan, penutupan sebelumnya berada di level 7.585,69.

Ketegangan Geopolitik Picu Kepanikan Pasar

Lonjakan ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama pelemahan pasar saham global.

Situasi memanas setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meluas ke beberapa wilayah. Perkembangan politik terbaru di Iran juga menambah ketidakpastian.

Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Supreme Leader baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang gugur. Figur tersebut dikenal memiliki pandangan politik yang keras terhadap Barat.

Bagi pelaku pasar, dinamika politik ini meningkatkan risiko konflik berkepanjangan. Beberapa analis global menilai situasi tersebut berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dunia.

Ketegangan geopolitik di kawasan penghasil energi selalu menjadi faktor yang sangat sensitif bagi pasar finansial global.

Ketika risiko global meningkat, investor biasanya melakukan strategi risk-off, yaitu memindahkan dana dari saham ke aset yang dianggap lebih aman.

Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam

Salah satu dampak langsung dari konflik geopolitik adalah lonjakan harga minyak dunia.

Dalam perdagangan terbaru, harga minyak mencatat kenaikan signifikan:

Jenis Minyak Harga Kenaikan
WTI Crude Oil USD 109,82 per barel +20,81%
Brent Oil USD 109,53 per barel +18,17%

Lonjakan harga energi ini menjadi perhatian serius bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

Sebagai net oil importer, Indonesia berpotensi menghadapi tekanan tambahan pada inflasi dan neraca perdagangan jika harga energi terus meningkat.

Banyak ekonom memperkirakan dampak harga minyak terhadap ekonomi domestik akan mulai terasa dalam beberapa bulan mendatang.

Rupiah Turut Tertekan di Pasar Valas

Tidak hanya pasar saham yang terdampak. Nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan. Pada perdagangan Senin pagi, rupiah sempat melemah 0,6 persen menjadi Rp17.015 per dolar AS.

Level ini bahkan melampaui rekor terendah yang tercatat pada awal tahun dan mendekati kisaran yang pernah terjadi saat krisis finansial Asia.

Pelemahan mata uang terjadi karena investor global meningkatkan kepemilikan dolar AS sebagai safe haven currency.

Bank Indonesia pun dikabarkan melakukan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam volatilitas.

Bursa Global Kompak Melemah

Tekanan pada IHSG sebenarnya merupakan bagian dari tren pelemahan yang lebih luas di pasar global.

Pada perdagangan Jumat, 6 Maret 2026, sejumlah indeks saham utama dunia juga mencatat penurunan.

Bursa Eropa

  • Euro Stoxx 50 turun 1,09%
  • FTSE 100 Inggris melemah 1,24%
  • DAX Jerman turun 0,94%
  • CAC 40 Prancis melemah 0,65%

Wall Street

  • Dow Jones turun 0,95% ke 47.501,55
  • S&P 500 melemah 1,33% ke 6.740,02
  • Nasdaq Composite turun 1,59% ke 22.387,68

Bursa Asia

  • Nikkei 225 turun 7,53%
  • Shanghai Composite turun 1,41%
  • Hang Seng melemah 3,10%
  • Straits Times turun 3,07%

Tekanan di berbagai kawasan ini menunjukkan bahwa pasar global sedang berada dalam fase risk aversion.

Ketika investor global cenderung menghindari risiko, pasar negara berkembang biasanya menjadi salah satu yang paling cepat terkena dampaknya.

Pasar Menunggu Data Inflasi AS dan Pertemuan Trump–Xi

Selain konflik geopolitik, pelaku pasar juga menunggu sejumlah agenda ekonomi penting dalam beberapa pekan ke depan.

Salah satunya adalah rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Februari 2026. Data inflasi ini akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Jika inflasi masih tinggi, bank sentral AS kemungkinan menunda penurunan suku bunga. Saat ini probabilitas pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada Juni 2026 diperkirakan sekitar 45 persen.

Di sisi lain, pasar juga menantikan rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir Maret 2026.

Pertemuan tersebut diperkirakan lebih fokus menjaga stabilitas hubungan ekonomi dibanding membuat kesepakatan besar.

Beberapa isu yang menjadi perhatian antara lain:

  • Komitmen China membeli produk pertanian AS
  • Pembelian pesawat Boeing
  • Pasokan mineral langka atau rare earth

Salah satu potensi kesepakatan yang sedang dibahas adalah pembelian sekitar 500 pesawat narrow-body Boeing oleh China.

Jika terealisasi, kesepakatan tersebut bisa menjadi sinyal positif bagi stabilitas hubungan perdagangan global.

Dampak Lonjakan Harga Minyak terhadap APBN

Dari sisi domestik, pemerintah Indonesia juga tengah memantau dampak lonjakan harga minyak terhadap kondisi fiskal.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa kenaikan harga minyak dapat memperbesar defisit anggaran negara.

“Jika harga minyak rata-rata mencapai sekitar 92 dolar AS per barel, defisit APBN berpotensi melebar hingga 3,6–3,7 persen dari PDB apabila tidak ada penyesuaian kebijakan,” ujar Purbaya dalam pernyataan resmi.

Pemerintah berupaya menjaga defisit tetap berada di bawah batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto, sesuai kerangka disiplin fiskal yang selama ini diterapkan.

Keseimbangan antara stabilitas fiskal, inflasi, dan harga energi akan menjadi salah satu tantangan utama ekonomi Indonesia sepanjang 2026.

Bagi investor, memahami dinamika ini penting untuk membaca arah pasar dalam beberapa bulan ke depan.

 

Dalam jangka pendek, volatilitas pasar kemungkinan masih akan tinggi. Investor kini menunggu arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, perkembangan konflik global, serta respons kebijakan ekonomi domestik.

Jika ketegangan geopolitik mereda dan stabilitas energi kembali terjaga, sentimen pasar berpotensi membaik. Namun untuk sementara, IHSG masih bergerak dalam bayang-bayang ketidakpastian global.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050